Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network
detikInet
Jelang Bulan Puasa, Gerhana Matahari Cincin Api Akan Hiasi Langit Dunia

Jelang Bulan Puasa, Gerhana Matahari Cincin Api Akan Hiasi Langit Dunia


Agus Tri Haryanto - detikInet

The moon moves past the sun during an annular solar eclipse in Puerto San Julian, Argentina, Wednesday, Oct. 2, 2024. (AP Photo/Natacha Pisarenko)
Ilustrasi Gerhana Matahari Cincin Api. Foto: AP/Natacha Pisarenko
Jakarta -

Fenomena astronomi langka berupa gerhana matahari cincin yang akan terjadi pada 17 Februari 2026 atau sehari jelang bulan puasa diperkirakan jatuh pada 18 Januari 2028 untuk waktu Indonesia.

Gerhana Matahari Cincin yang dikenal dengan sebutan "ring of fire" ini karena sang Surya akan tampak membentuk cincin cahaya terang saat puncak gerhana.

Fenomena alam ini terjadi ketika Bulan berada di antara Bumi dan Matahari, tetapi posisinya lebih jauh sehingga tidak menutupi Matahari sepenuhnya. Akibatnya, bagian tepi Matahari masih terlihat membentuk lingkaran cahaya menyerupai cincin api di langit.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

ADVERTISEMENT

Sayangnya, Indonesia sendiri tidak termasuk wilayah yang dapat menyaksikan fenomena ini, baik secara total maupun cincin. Meski begitu, peristiwa tersebut tetap menjadi perhatian karena terjadi menjelang masuknya bulan Ramadan.

Dalam tradisi Islam juga, fenomena Gerhana Matahari juga dianjurkan untuk melaksanakan salat gerhana dan memperbanyak zikir, meskipun tidak semua gerhana bisa diamati dari setiap wilayah.

Sebagaimana dikutip dari Space, pada gerhana 17 Februari 2026, jalur Gerhana Matahari cincin api akan melintasi wilayah terpencil di Antarktika, membuat hampir tidak ada populasi manusia yang bisa menyaksikan fase puncaknya secara langsung.

Sementara itu, wilayah selatan Amerika Selatan dan Afrika hanya akan mengalami gerhana sebagian.

Bagi masyarakat yang tidak bisa menyaksikannya secara langsung, fenomena ini tetap dapat diikuti melalui live streaming.

Adapun, Gerhana Matahari Cincin ini sebagai salah satu peristiwa penting dalam rangkaian gerhana tahun 2026. Meski tidak semeriah gerhana total, annular eclipse tetap menarik karena memperlihatkan dinamika presisi antara Matahari, Bulan, dan Bumi.

Dalam dua tahun ke depan diprediksi menjadi awal dari periode langit yang luar biasa bagi para pencinta fenomena astronomi. Sebab akan tersaji deretan gerhana Matahari spektakuler yang tergolong langka dalam sejarah modern.

Fenomena tersebut bahkan disebut oleh para astronom sebagai 'zaman emas' gerhana Matahari karena keberadaan tiga gerhana total dan tiga gerhana cincin api (annular) dalam rentang kurang dari tiga tahun.

Sepanjang periode Agustus 2026 hingga Juli 2028, Bumi akan mengalami tiga gerhana Matahari total dalam kurun 710 hari, sebuah runtutan yang sangat jarang terjadi, yakni pada 12 Agustus 2026, 2 Agustus 2027, dan 22 Juli 2028.

Dalam periode dua tahun ini juga berlangsung Gerhana Matahari Cincin Api pada 17 Februari 2026, 6 Februari 2027, dan 26 Januari 2028.




(agt/afr)





Hide Ads