Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Ilmuwan Temukan Cara Bertahan dari Kelaparan Usai Perang Nuklir

Ilmuwan Temukan Cara Bertahan dari Kelaparan Usai Perang Nuklir


Rachmatunnisa - detikInet

Ilustrasi Konflik Iran dan Amerika Serikat
Ilustrasi konflik. Foto: EduRaw/Pexels
Jakarta -

Para ilmuwan mulai mencari cara agar manusia tetap bisa bertahan hidup jika terjadi perang nuklir global. Salah satu fokusnya adalah mencegah kelaparan massal yang diperkirakan terjadi setelah fenomena musim dingin nuklir (nuclear winter).

Perang nuklir diperkirakan akan memicu kebakaran besar di banyak kota. Asap dan jelaga dari kebakaran tersebut dapat naik ke atmosfer dan menghalangi sinar Matahari selama bertahun-tahun. Akibatnya, suhu Bumi turun drastis dan produksi pangan dunia bisa anjlok.

Para peneliti kini mencoba mencari solusi agar sistem pangan masih bisa bertahan dalam kondisi ekstrem tersebut. Salah satu gagasan yang muncul adalah menyiapkan agricultural resilience kits atau kit ketahanan pertanian. Kit ini berisi benih tanaman tertentu yang dinilai lebih mampu bertahan di kondisi dingin dan minim cahaya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tanaman tersebut dipilih karena dapat tumbuh dengan musim tanam yang lebih pendek dan tetap menghasilkan pangan meski produksi pertanian global menurun.

Menurut para peneliti, pendekatan ini dapat membantu negara-negara mempertahankan produksi makanan pada tahun-tahun pertama setelah perang nuklir.

ADVERTISEMENT

"Kit ini dapat membantu mempertahankan produksi pangan selama tahun-tahun yang tidak stabil setelah perang nuklir," kata Armen Kemanian, ilmuwan pertanian dari Pennsylvania State University yang terlibat dalam penelitian tersebut, dikutip dari FirstPost.

Ancaman Produksi Pangan Global

Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa perang nuklir dapat berdampak besar pada pertanian dunia. Jelaga yang menutupi atmosfer akan mengurangi intensitas sinar Matahari yang mencapai permukaan Bumi.

Kondisi ini membuat suhu turun dan musim tanam menjadi jauh lebih pendek. Tanaman utama seperti jagung dan gandum berisiko mengalami penurunan hasil panen yang drastis. Karena itu, para ilmuwan menilai dunia perlu mulai memikirkan strategi ketahanan pangan bahkan untuk skenario bencana ekstrem seperti perang nuklir.

"Jika kita ingin bertahan hidup, kita harus mempersiapkan diri bahkan untuk konsekuensi yang sulit dibayangkan," ujar Yuning Shi, ilmuwan tanaman dan meteorolog dari Pennsylvania State University.

Para peneliti menekankan bahwa strategi ini tidak hanya relevan untuk perang nuklir. Sistem pangan yang lebih tangguh juga dapat membantu menghadapi bencana global lain, seperti letusan gunung berapi besar atau perubahan iklim ekstrem.

Dengan menyiapkan benih yang tepat dan sistem distribusi yang baik, peluang manusia untuk bertahan dari krisis pangan global dinilai bisa meningkat secara signifikan.




(rns/rns)




Hide Ads