Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Tahun Ini Waktu Terbaik Melihat Aurora Seperti di Drakor, Ini Sebabnya

Tahun Ini Waktu Terbaik Melihat Aurora Seperti di Drakor, Ini Sebabnya


Rachmatunnisa - detikInet

Scene aurora di drakor Can This Love be Translated
Scene Cha Mu Hee dan Joo Ho Jin menyaksikan aurora di 'Can This Love Be Translated?' Foto: Netflix
Jakarta -

Adegan Cha Mu Hee dan Joo Ho Jin menyaksikan aurora menjadi salah satu highlight di drama Korea (drakor) 'Can This Love Be Translated?' Nah, kalian yang juga kecintaan dengan adegan ini dan terinspirasi ingin juga berburu aurora, ada fakta menarik bahwa tahun ini adalah tahun terbaik melihat aurora.

Menurut para ilmuwan, periode saat ini memberikan peluang lebih besar untuk menyaksikan fenomena langit tersebut di negara-negara di wilayah dekat Kutub Utara dibandingkan tahun-tahun mendatang hingga sekitar dekade 2030-an.

Hal ini terjadi karena kombinasi aktivitas Matahari yang sedang tinggi serta fenomena yang dikenal sebagai equinox effect atau efek ekuinoks. Fenomena ini membuat aurora borealis atau cahaya utara lebih mudah muncul di langit, terutama pada periode sekitar Maret dan September.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Scene aurora di drakor Can This Love be TranslatedScene aurora di drakor Can This Love be Translated. Foto: Netflix

Efek Ekuinoks

Dikutip dari IFL Science, ekuinoks terjadi ketika posisi sumbu Bumi tidak condong ke arah Matahari maupun menjauhinya. Pada saat ini, hampir semua wilayah di Bumi mengalami durasi siang dan malam yang hampir sama.

Dalam kondisi tersebut, interaksi antara medan magnet Bumi dan medan magnet dari angin Matahari menjadi lebih efektif, sehingga meningkatkan peluang munculnya aurora.

ADVERTISEMENT

Menurut Tom Kerss, penulis buku The Northern Lights: The Definitive Guide to Auroras sekaligus pemandu pengamatan aurora di Hurtigruten Astronomy Cruises, fenomena ini berkaitan dengan cara medan magnet Matahari dan Bumi saling berinteraksi.

"Medan magnet Bumi dan Matahari pada dasarnya lebih selaras saat ekuinoks, sehingga peluang terjadinya penyelarasan terbalik meningkat," jelas Kerss.

"Hal ini membuka 'celah' pada medan magnet Bumi yang memungkinkan angin Matahari masuk ke lingkungan ruang angkasa dekat Bumi," sebutnya.

Ketika partikel bermuatan dari Matahari masuk ke atmosfer Bumi, partikel tersebut bertabrakan dengan gas seperti oksigen dan nitrogen. Tabrakan inilah yang menghasilkan cahaya berwarna hijau, merah, atau ungu yang dikenal sebagai aurora.

Penelitian menunjukkan aktivitas geomagnetik yang memicu aurora lebih sering terjadi pada musim semi dan musim gugur, terutama di sekitar waktu ekuinoks.

Dalam periode ini, posisi kutub magnet Bumi berada hampir tegak lurus terhadap aliran angin Matahari. Kondisi tersebut membuat transfer energi dari Matahari ke Bumi menjadi lebih efisien dan meningkatkan kemungkinan munculnya badai geomagnetik.

Akibatnya, aurora secara statistik bisa muncul hampir dua kali lebih sering dibandingkan periode musim panas atau musim dingin.

Peluang Terbaik Sebelum 2030-an

Selain efek ekuinoks, faktor lain yang meningkatkan peluang aurora adalah siklus aktivitas Matahari. Saat ini Matahari berada pada fase mendekati solar maximum, yaitu periode ketika aktivitas bintik Matahari dan badai Matahari meningkat.

Kombinasi antara aktivitas Matahari yang tinggi dan efek ekuinoks membuat beberapa tahun ke depan menjadi kesempatan yang sangat baik untuk melihat aurora. Setelah puncak siklus Matahari berakhir, aktivitas tersebut akan menurun kembali hingga siklus berikutnya mendekati dekade 2030-an.

Meski demikian, para ilmuwan mengingatkan bahwa aurora tetap bergantung pada banyak faktor, termasuk kekuatan badai Matahari, kondisi cuaca, dan lokasi pengamatan di dekat wilayah kutub.

Namun bagi pemburu aurora, periode sekitar ekuinoks saat ini tetap dianggap sebagai salah satu waktu terbaik untuk menyaksikan 'tarian cahaya' spektakuler di langit malam.




(rns/rns)






Hide Ads