Teknologi rudal Iran tak dapat diremehkan, membuat Israel kewalahan. Nah, jika program nuklir Iran berkembang, mungkinkah rudal-rudal yang sama suatu hari nanti membawa hulu ledak nuklir?
Tal Inbar, pakar di Israel terkait kebijakan penerbangan dan isu rudal, menyebut ada dua fitur dasar yang menentukan apakah rudal dapat dilengkapi nuklir yaitu kapasitas muatan dan ruang fisik di kompartemen hulu ledak. "Secara teoretis, tiap rudal dengan hulu ledak sekitar 500 kilogram dapat dipasangi hulu ledak nuklir," jelasnya dikutip detikINET dari Times of Israel.
Ini termasuk keluarga rudal Shahab-3 milik Iran yang adalah serangkaian rudal balistik jarak menengah, serta varian lebih canggih seperti Ghadr dan Emad, yang digunakan dalam konflik dengan AS dan Israel
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Itu bukanlah masalah teknis besar. Mereka sudah memiliki rudal yang mampu membawa beban yang diperlukan," sebut Inbar.
Rudal yang ditembakkan Iran ke Israel sejauh ini memiliki jangkauan sekitar 1.800 kilometer. Namun Iran bisa menjangkau lebih jauh. "Mereka mampu menjangkau lebih dari 2.000 kilometer setidaknya dengan satu jenis rudal, yang belum mereka gunakan," ungkapnya.
Iran juga sedang mengembangkan sistem dengan jangkauan yang jauh lebih panjang. Inbar menunjuk pada Ghaem-100, kendaraan peluncur luar angkasa yang dikembangkan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran, yang secara teoretis mampu membawa muatan nuklir hingga jangkauan 5.000 kilometer.
Iran juga memiliki Multiple Independently Targetable Reentry Vehicles (MIRV), teknologi yang memungkinkan satu rudal membawa beberapa hulu ledak dan menyerang beberapa target berbeda. Menurut Inbar, Iran telah mengujirudal dengan kemampuan ini, tapi belum ada bukti sistem tersebut beroperasi penuh.
Program rudal Iran dimulai beberapa dekade lalu. Setelah perang Iran-Irak di 1980-an, Iran membeli rudal Scud dari Korea Utara dan Libya, yang kemudian menjadi fondasi bagi rancangan mereka sendiri.
Pada dekade yang sama, IRGC mengirimkan delegasi ke Suriah untuk memperoleh pengetahuan dalam memproduksi rudal secara lokal. Hasilnya adalah Shahab-3 yang pada dasarnya merupakan versi Scud Korea Utara yang diperbesar dan ditingkatkan.
Meskipun Iran dan Korea Utara dulunya menempuh jalur serupa, Inbar menyatakan bahwa saat ini program rudal mereka mengambil arah yang berbeda. Masing-masing negara mengembangkan persenjataan rudalnya sendiri tanpa ada pertukaran pengetahuan teknis.
Walaupun demikian, sistem kedua negara secara teknis masih kompatibel. "Meskipun sangat kecil kemungkinannya [untuk terjadi], sebuah rudal Iran dapat membawa senjata nuklir Korea Utara tanpa perlu perubahan yang berarti," catat Inbar. Namun Korut kemungkinan besar tidak akan menyerahkan senjatanya begitu saja.
Sejauh mana program nuklir Iran saat ini?
Terlepas dari kemampuan rudal canggih, Iran belum mengembangkan senjata nuklir. Namun, Iran pernah berada dalam posisi sangat dekat. Inbar merujuk pada arsip nuklir yang diselundupkan dari Iran dan diungkap oleh Israel tahun 2018, yang menunjukkan bahwa sebelum 2003, Iran membangun dan menguji hampir setiap komponen bom nuklir.
"Dua puluh tahun lalu, Iran sudah tahu cara membuat bom," kata Inbar. "Mereka membangun semua komponennya, kecuali inti nuklirnya itu sendiri. Setidaknya itulah yang diketahui publik."
Saat ini, Iran memiliki cadangan besar uranium yang diperkaya hingga kemurnian 60%, jauh melampaui batas kebutuhan energi sipil, dan cukup untuk membuat setidaknya 10 inti bom atom jika diperkaya lebih lanjut hingga 90%.
Namun, pengayaan saja tidaklah cukup. Mengubah gas uranium menjadi hulu ledak yang berfungsi membutuhkan proses persenjataan lebih lanjut, proses yang menurut Inbar rencananya akan dilakukan di fasilitas Isfahan, yang dilaporkan telah diserang Israel.
Inbar merasa skeptis bahwa Iran diam-diam melewati ambang batas nuklir tersebut. "Tidak ada yang akan berani mengusik negara dengan kekuatan nuklir. Jika mereka memilikinya, mereka pasti akan memamerkannya," ujarnya.
(fyk/fyk)