Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Satelit China Diduga Arahkan Serangan Rudal Iran ke Pangkalan AS

Satelit China Diduga Arahkan Serangan Rudal Iran ke Pangkalan AS


Fino Yurio Kristo - detikInet

Pesawat E-3 Sentry
Serangan Iran yang hancurkan pesawat AS di Arab Saudi. Foto: Facebook
Jakarta -

Iran berhasil menyerang pangkalan militer Amerika Serikat di Timur Tengah secara presisi. Rupanya menurut laporan Financial Times, Iran diam-diam mengakuisisi satelit mata-mata China, yang memberikan kemampuan untuk menargetkan pangkalan militer As.

Mengutip dokumen militer Iran yang bocor, satelit TEE-01B yang dibuat dan diluncurkan oleh perusahaan China Earth Eye Co, diakuisisi Angkatan Dirgantara Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) pada akhir tahun 2024 setelah diluncurkan ke luar angkasa dari China.

Para komandan militer Iran mengarahkan satelit tersebut untuk memantau situs-situs militer utama AS, setelah FT menganalisis daftar koordinat dengan stempel waktu, citra satelit, dan analisis orbit. Gambar-gambar tersebut diambil pada bulan Maret, sebelum dan sesudah serangan drone dan rudal di lokasi-lokasi tersebut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menanggapi laporan tersebut, Kementerian Luar Negeri China menyatakan kepada Reuters bahwa laporan mengenai Iran yang menggunakan satelit mereka untuk mengarahkan serangan terhadap target-target AS adalah tidak benar.

Sebagai bagian dari kesepakatan itu, IRGC mendapatkan akses ke stasiun bumi komersial yang dioperasikan Emposat, perusahaan penyedia layanan kontrol dan data satelit di Beijing, dengan jaringan yang menjangkau Asia, Amerika Latin, dan kawasan lainnya.

ADVERTISEMENT

Satelit itu menangkap gambar Pangkalan Udara Pangeran Sultan di Arab Saudi pada tanggal 13, 14, dan 15 Maret kemarin. Pada 14 Maret, Presiden AS Donald Trump mengonfirmasi bahwa pesawat-pesawat AS di pangkalan tersebut telah terkena serangan Iran.

Menurut laporan tersebut, satelit itu juga memantau Pangkalan Udara Muwaffaq Salti di Yordania dan lokasi-lokasi yang dekat dengan pangkalan angkatan laut Armada Kelima AS di Manama, Bahrain, serta bandara Erbil, Irak, di sekitar waktu terjadinya serangan yang diklaim oleh IRGC terhadap fasilitas-fasilitas di daerah tersebut.

"Satelit ini jelas digunakan untuk tujuan militer, karena dioperasikan oleh Angkatan Dirgantara IRGC dan bukan oleh program luar angkasa sipil Iran," kata Nicole Grajewski, pakar di Paris Institute of Political Studies.

"Iran sangat membutuhkan kemampuan yang disediakan oleh pihak asing ini selama perang berlangsung, karena ini memungkinkan IRGC untuk mengidentifikasi target lebih awal dan mengevaluasi tingkat keberhasilan serangannya," tambahnya.

Ini bukan pertama kalinya China dikaitkan dengan Iran selama konflik ini. Pekan lalu, CNN yang dikutip detikINET melaporkan intelijen AS mengindikasikan China bersiap mengirimkan sistem pertahanan udara baru ke Iran dalam beberapa minggu mendatang.

Menurut informasi intelijen, Beijing bersiap untuk mentransfer sistem rudal antipesawat panggul yang dikenal sebagai MANPADS. Sistem ini merupakan ancaman terhadap pesawat militer AS yang terbang rendah.

Menanggapi laporan tersebut, jubir Kedubes China di Washington menyatakan, "China tak pernah memasok senjata ke pihak mana pun yang berkonflik, informasi dimaksud adalah tidak benar."




(fyk/rns)






Hide Ads