Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Rencana Google Lepas 32 Juta Nyamuk Wolbachia Ditentang Warga

Rencana Google Lepas 32 Juta Nyamuk Wolbachia Ditentang Warga


Virgina Maulita Putri - detikInet

Employees work on cages of Aedes aegypti mosquitoes with the dengue-blocking Wolbachia bacteria at a laboratory in the Wolbito do Brasil plant in Curitiba, Parana state, Brazil September 1, 2025. REUTERS/Rodolfo Buhrer
Foto: REUTERS/Rodolfo Buhrer
Jakarta -

Google sedang meminta izin pemerintah Amerika Serikat untuk melepaskan 32 juta nyamuk yang sudah terinfeksi bakteri Wolbachia di Florida dan California. Namun, rencana ini mendapat reaksi negatif dari warga sekitar.

Rencana tersebut merupakan bagian dari program Debug Project, yang melibatkan ilmuwan dan engineer untuk mengembangkan teknologi melawan nyamuk pembawa penyakit.

Google saat ini sedang menunggu persetujuan dari U.S. Environmental Protection Agency (EPA) dan terbuka untuk komentar publik hingga 5 Juni. Dilihat dari komentar yang masuk, sepertinya warga AS kurang senang melihat perusahaan teknologi melepaskan jutaan nyamuk ke alam liar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Tanyakan pada diri Anda, siapa yang paling diuntungkan dari ini, dan mengapa ini dilakukan," komentar seorang warga yang tidak disebutkan namanya, seperti dikutip dari Futurism, Sabtu (6/6/2026).

"Perusahaan seharusnya tidak berperan dalam mengatur atau mengubah ekosistem secara artifisial, itu adalah tugas EPA. Proyek ini tidak boleh disetujui," sambungnya.

ADVERTISEMENT

"Ini adalah ide yang mengerikan dan memalukan untuk dipertimbangkan, membiarkan perusahaan miliaran dolar mengubah ekosistem asli Amerika Serikat yang seharusnya dilindungi," tulis komentator bernama Brooke Davis.

Lewat program Debug, Google berencana melepaskan jutaan nyamuk jantan yang sudah terinfeksi bakteri Wolbachia yang menyebabkan ketidakcocokan sitoplasma-artinya sperma nyamuk ini tidak bisa membuahi sel telur betina yang tidak terinfeksi.

Seiring waktu, langkah ini akan mengganggu siklus reproduksi nyamuk, sehingga meningkatkan persaingan dan mengurangi populasi nyamuk secara keseluruhan. Program ini secara khusus menargetkan Aedes aegypti, spesies nyamuk pembawa penyakit seperti demam berdarah dengue dan virus Zika.

Metode Wolbachia saat ini menunjukkan hasil yang menjanjikan untuk melawan penyakit menular. Namun, riset yang dilakukan ilmuwan di Kolombia dan University of California pada tahun 2024 menemukan kesalahan dalam penerapannya dapat berakibat fatal.

Makalah tersebut menemukan metode Wolbachia memang jauh lebih ramah lingkungan dan lebih efektif untuk jangka menengah/panjang dibandingkan modifikasi genetik, tapi ada juga risiko penyebaran gen yang berpotensi berbahaya ke lingkungan.

Makah tersebut juga menunjukkan beberapa tantangan yang akan dihadapi Google. Pertama, melepaskan nyamuk dalam skala besar merupakan tugas yang sangat berat, yang akan membatasi area yang dapat ditangani Debug secara efektif.

Hal ini membuat populasi nyamuk sangat rawan terhadap migrasi nyamuk tidak terinfeksi dari wilayah sekitar, dan membutuhkan pelepasan nyamuk mingguan secara terus menerus untuk memangkas populasi.

Tidak hanya itu, makalah ini mengatakan jika ada sejumlah kecil nyamuk betina yang terinfeksi Wolbachia secara tidak sengaja dan ikut dilepaskan akan membuat bakteri sterilisasi tersebut tidak efektif.

Menurut laporan Guardian, engineer dan ilmuwan Google merancang sistem AI untuk memisahkan nyamuk jantan dan betina, tapi teknologi ini masih dalam fase awal. Vector Control Advisory Group - salah satu pemain kunci di metode Wolbachia - belum merekomendasikan sistem pemisahan nyamuk, kemungkinan karena metode pemisahan jenis kelamin standar masih memiliki tingkat kontaminasi betina sebesar 0,3% pada tahun 2024.




(vmp/vmp)






Hide Ads