Pertama kali dirancang di Iran, drone murah Shahed telah menjadi perlengkapan wajib dalam peperangan modern. Mitra Teheran, Rusia, menggunakan teknologi ini dalam invasinya di Ukraina.
Kini drone-drone tersebut, paling canggih adalah Shahed-136, menjadi pusat dari strategi balasan Iran terhadap AS dan sekutu regionalnya, dengan ribuan unit telah diluncurkan sejauh ini.
Sekilas, Shahed tampak biasa dibanding teknologi senjata mutakhir, sehingga analis kadang menyebutnya "rudal jelajah orang miskin." Namun, meski sekutu AS berhasil mencegat sebagian besar drone dengan sistem pertahanan yang dipasok AS seperti rudal 'Patriot', banyak Shahed masih berhasil mengenai sasarannya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dikutip detikINET dari CNBC, kunci efektivitas drone ini terletak pada jumlahnya. Drone ini relatif murah dan mudah diproduksi massal, terutama jika dibandingkan dengan sistem canggih yang digunakan untuk menangkisnya.
Faktor-faktor tersebut membuat drone ini ideal untuk serangan bergerombol dan membebani pertahanan udara, di mana setiap drone yang dicegat berarti terkurasnya aset pertahanan yang jauh lebih berharga.
"Shahed-136, di antara sistem udara tak berawak lainnya, telah memberikan negara-negara seperti Rusia dan Iran cara murah untuk membebankan biaya yang tidak proporsional kepada musuh," ujar Patrycja Bazylczyk, analis Missile Defense Project di Center for Strategic and International Studies (CSIS).
Ketimpangan biaya signifikan
Laporan pemerintah AS menyebut Shahed-136 drone serangan satu arah yang diproduksi entitas Iran terkait Korps Garda Revolusi Islam. Dibanding rudal balistik, drone ini terbang rendah dan lambat, muatannya relatif kecil, dan mengincar target tetap.
Satu unit drone Shahed berharga antara USD 20.000 hingga USD 50.000. Sementara rudal balistik dan rudal jelajah masing-masing bisa jutaan dolar. Sistem pertahanan udara negara Teluk dan Israel dapat memakan biaya USD 3 juta hingga USD 12 juta per rudal pencegat, menurut anggaran Departemen Pertahanan AS.
"Shahed dan sejenisnya pada dasarnya berfungsi sebagai 'rudal jelajah orang miskin' yang menawarkan cara menyerang dan mengganggu musuh dengan biaya murah," ungkap Behnam Ben Taleblu, direktur senior di Foundation for Defense of Democracies. Bagi Iran yang menghadapi sanksi internasional dan keterbatasan memperoleh senjata canggih, keuntungan biaya tersebut sangatlah signifikan.
Ketimpangan biaya ini memunculkan masalah serius bagi musuh Iran. Sistem pertahanan udara jumlah rudalnya terbatas, sehingga drone tdapat digunakan untuk melemahkannya dan membuka jalan bagi serangan yang lebih merusak. "Logikanya adalah menghabiskan drone di awal pertempuran sambil menghemat rudal balistik untuk jangka panjang," kata Bazylczyk dari CSIS.
AS berupaya mengganggu produksi Shahed-136 dan menjatuhkan sanksi baru ke pihak-pihak yang dicurigai sebagai pemasok komponen. Namun, keberhasilan Rusia memproduksi drone Shahed menunjukkan sistem semacam itu tetap dapat diproduksi dalam skala besar di tengah sanksi yang ketat.
Pejabat AS mengklaim bahwa Iran telah meluncurkan lebih dari 2.000 drone dalam konflik tersebut hingga hari Rabu. Namun, negara itu diyakini memiliki persediaan yang sangat besar dan mungkin mampu memproduksi ratusan unit setiap minggunya.
"Negara-negara Teluk berisiko kehabisan rudal pencegat mereka kecuali mereka lebih bijaksana dalam memutuskan kapan harus menembakkannya," kata Joze Pelayo dari Atlantic Council.
Shahed-136 pertama kali diperkenalkan sekitar tahun 2021 dan mendapat perhatian setelah Rusia mengerahkannya saat invasi ke Ukraina. Kremlin menerima ribuan drone tersebut dan memproduksinya berdasarkan cetak biru dari Iran.
Beberapa analis berpendapat Iran telah belajar dari pengalaman tempur Rusia, sehingga melakukan modifikasi seperti penambahan antena anti-jamming, navigasi yang tahan peperangan elektronik dan hulu ledak baru yang membawa 30 kg hingga 50 kg bahan peledak
Michael Connell, spesialis Timur Tengah di Center for Naval Analyses, mengatakan Shahed-136 terbukti efektif sehingga AS merekayasa balik dan mengerahkan versi mereka sendiri di medan perang melawan Iran. Dalam serangannya ke Iran, Komando Pusat AS mengonfirmasi menggunakan drone yang meniru model Shahed untuk pertama kali.
(fyk/fyk)