Bukan Azab, Lautan Surut Jadi Sundaland Akibat Perubahan Iklim

Bukan Azab, Lautan Surut Jadi Sundaland Akibat Perubahan Iklim

ADVERTISEMENT

Eureka!

Bukan Azab, Lautan Surut Jadi Sundaland Akibat Perubahan Iklim

Rachmatunnisa - detikInet
Rabu, 24 Agu 2022 13:49 WIB
Jakarta -

Indonesia pada Zaman Es atau The Last Glacial Maximum (LGM) sekitar 18-21 ribu tahun lalu, masih merupakan sebuah benua yang disebut sebagai Sundaland.

LGM mengacu pada periode sejarah Bumi saat gletser berada pada posisi paling tebal dan permukaan laut paling rendah. Di zaman tersebut, daratan masih menyatukan Pulau Kalimantan, Pulau Sumatra, Pulau Jawa, dan beberapa pulau kecil Indonesia lainnya dengan seluruh negara Asia Tenggara.

Ahli Paleontologi Institut Teknologi Bandung (ITB) Profesor Yahdi Zaim, dalam live Eureka! "Misteri Indonesia Benua Tenggelam", menceritakan seperti apa Indonesia di zaman itu menurut penelitian para ilmuwan.

Dikatakannya, Indonesia memiliki curah hujan tinggi karena banyak penguapan dari laut. Curah hujan yang tinggi membuat vegetasi tanaman tumbuh subur. Karena itu pula sebagian besar wilayah Indonesia hingga kini disebut kawasan hutan hujan tropis.

Namun pada periode tertentu, Bumi mengalami penurunan temperatur suhu yang signifikan. Hal ini berdampak pada pertambahan daratan es di wilayah Kutub.

"Karena ketika Bumi kita suhunya turun menjadi dingin, volume air di daerah Kutub membeku. Akibatnya terjadi penurunan volume air laut. Penurunan permukaan itu bukan karena hilang tapi terjadi pembekuan daratan es yang tadinya tidak terlalu luas menjadi sangat luas itu di Kutub Utara maupun Kutub Selatan," paparnya.

Bagaimana dampaknya terhadap Indonesia yang saat itu masih menjadi Sundaland? Akibat turunnya suhu Bumi yang sangat signifikan, daerah tropis pun ikut mengalami penurunan suhu meski Matahari tetap beredar di wilayah ini.

"Akibatnya suhu air laut turun. Pada periode ini terbentuk daratan es yang sangat luas, dikenal dengan nama Last Glacial. Itu sangat berpengaruh pada volume air laut," ujarnya.

Disebutkan Profesor Yahdi, pada periode LGM, rata-rata muka laut dunia, termasuk Indonesia turun dan berada di -100 hingga -120 meter dari muka laut kita sekarang.

"Jadi memang ada perubahan muka air laut yang terjadi karena adanya perubahan klimatologi suhu. Nah itu terjadi yang namanya Last Glacial 18.000 tahun yang lalu. Itu data dunia yang sudah dilakukan penelitian oleh banyak ahli," tutupnya.

(rns/fay)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT