Benua Sundaland Awal Peradaban Manusia, Diincar Ilmuwan Sejak Dulu

Benua Sundaland Awal Peradaban Manusia, Diincar Ilmuwan Sejak Dulu

ADVERTISEMENT

Eureka!

Benua Sundaland Awal Peradaban Manusia, Diincar Ilmuwan Sejak Dulu

Rachmatunnisa - detikInet
Rabu, 24 Agu 2022 11:15 WIB
Jakarta -

Sekitar 18 ribu tahun lalu, di Zaman Es pada Periode Glasial Terakhir, Sumatra, Kalimantan, dan Pulau Jawa pernah menjadi satu daratan yang jauh lebih besar yang terhubung ke Asia yang disebut benua Sundaland.

Benua yang tenggelam itu diyakini menjadi salah satu wilayah bermulanya peradaban manusia. Karenanya, Sundaland yang kini dikenal juga dengan sebutan Paparan Sunda, menjadi incaran para ilmuwan untuk diteliti sejak dulu.

"Penelitian berkaitan dengan biologi, geografi, dan paleontologi di wilayah Sundaland sudah dimulai oleh para ahli Belanda," kata ahli Paleontologi Institut Teknologi Bandung (ITB) Profesor Yahdi Zaim dalam live Eureka! "Misteri Indonesia Benua Tenggelam".

Salah satu ahli asal Belanda yang merilis buku Marine Biology pada 1950-an, menurut Profesor Yahdi, sangat detail membahas tentang kelautan Indonesia.

"Dalam buku itu mungkin 70% tentang laut Indonesia, di antaranya Paparan Sunda," ujarnya.

Ia melanjutkan, berbagai penelitian terkait paleontologi tak hanya dilakukan di wilayah Perairan Sunda, tetapi seluruh daratan yang dulunya mencakup benua Sundaland, termasuk Sumatra, Kalimantan, dan Pulau Jawa.

"Banyak dijumpai fosil hewan-hewan besar vertebrata termasuk manusia, dan itu sudah (berumur) sejak sekitar 2-3 juta tahun yang lalu," sebut Profesor Yahdi.

Dari sisi keilmuan biologi, Kalimantan, Sumatra, dan Pulau Jawa sudah banyak diteliti oleh para ahli sejak zaman Belanda. Penelitian itu kemudian dilanjutkan para ahli bangsa kita setelah Proklamasi Kemerdekaan hingga kini.

"Eugene Dubois (ahli anatomi Belanda) menemukan Pithecanthropus erectus, di Trinil (Jawa Timur) pada tahun 1891. Itu adalah penemuan pertama fosil manusia yang menggemparkan dunia. Jadi sejarah penelitian di Sundaland itu sudah lama dilakukan oleh para ahli Belanda dari tahun 1890-an," tutupnya.

(rns/afr)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT