Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network
detikInet
Universitas Indonesia Buka Prodi AI, Ini Matkul dan Guru Besarnya

Universitas Indonesia Buka Prodi AI, Ini Matkul dan Guru Besarnya


Aisyah Kamaliah - detikInet

Ilustrasi Kampus UI, Depok
UI buka prodi AI tahun 2026, ini kisah di balik pendiriannya. Foto: Grandyos Zafna/detikFOTO
Jakarta -

Universitas Indonesia (UI) meresmikan program studi kecerdasan buatan (AI). Jurusan kecerdasan artifisial ini masuk dalam Fakultas Ilmu Komputer dan memiliki berbagai mata kuliah menarik di dalamnya.

"Pengajar Prodiska (Program Studi Sarjana Kecerdasan Artifisial) diambil dari dosen-dosen Fasilkom UI yang memiliki keahlian pada bidang inti AI atau Sains Data atau bidang keahlian lain yang masih terkait dengan AI atau terapannya," terang Direktur Humas, Media, Pemerintah, dan Internasional UI, Dr Erwin Panigoro, kepada detikINET melalui pernyataan resmi, Jumat (23/1/2026).

Berdasarkan peta keahlian dosen Fasilkom UI, setidaknya 40 dosen tetap Fasilkom UI memenuhi kriteria keahlian tersebut. Namun, khusus untuk tugas pengajaran di Prodiska, 16 orang dosen diproyeksikan akan menjadi pengajar di satu atau beberapa mata kuliah di Prodiska.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

ADVERTISEMENT

"Keseluruhan 16 dosen tersebut bergelar doktor, dan termasuk juga 1 guru besar, yakni Prof. Wisnu Jatmiko yang merupakan Guru Besar AI pertama di Indonesia," terang salah satu kampus tertua di Indonesia tersebut.

Mata Kuliah Jurusan AI Universitas Indonesia

Mathematical Foundations:

  • Logic and Discrete Structures (4 sks)
  • Univariate Calculus (4 sks)
  • Multivariate Calculus (3 sks)
  • Linear Structure (4 sks)
  • Statistics and Probability (3 sks)

AI Modeling and Ethics

  • AI Ethics (3 sks)
  • Data Science and Machine Learning (4 sks)
  • Knowledge Representation and Reasoning (3 sks)
  • Search and Optimization (4 sks)
  • Deep Learning (4 sks)
  • Computer Vision (4 sks)
  • Natural Language Processing (4 sks)
  • Generative AI (4 sks)

Programming Foundations

  • Programming Foundations 1 (4 sks)
  • Programming Foundations 2 (4 sks)
  • Data Structures and Algorithms (4 sks)

Data, Systems, and Solution Development

  • Databases (4 sks)
  • Data Engineering Foundations (4 sks)
  • Introduction to Computer Architecture and Operating Systems (4 sks)
  • Architecture, Engineering, and Operations of AI Applications (4 sks)
  • Computer System Networks (4 sks)
  • AI Product Design (3 sks)
  • AI Product Development Project (6 sks)

General Requirements & Undergraduate Research

  • Religion (2 sks)
  • English (2 sks)
  • Integrated Character Development (6 sks)
  • Internship (6 sks)
  • Research Methodology and Scientific Writing (3 sks)
  • Undergraduate Thesis (6 sks).

Kisah di Balik Pendirian Prodi AI

Kepada detikINET, UI menjelaskan bahwa wacana awal pendirian prodi AI sebenarnya sudah berlangsung cukup lama, yakni sejak awal masa pandemi. Saat itu, Fasilkom UI melakukan upaya peningkatan kapasitas infrastruktur AI yang dimiliki melalui pengadaan mesin NVIDIA DGX A100 yang dalam prosesnya memerlukan kajian-kajian feasibility, dan kebutuhan yang melibatkan industri dan jejaring alumni Fasilkom UI.

"Rancangan yang lebih konkrit dalam bentuk desain kurikulum kemudian mulai disusun di pertengahan 2024 serta diajukan ke tingkat UI hingga memperoleh persetujuan Senat Akademik UI di bulan September 2025," terang Erwin.

Proses pengusulan prodi tersebut juga telah melewati kajian perbandingan prodi-prodi AI yang sudah ada di dalam maupun luar negeri. Berdasarkan hasil kajian tersebut, Prodi AI atau Prodiska Fasilkom UI memilih bentuk kurikulum yang kuat pada fondasi teknis yang mencakup dua aspek utama: pemodelan AI (AI modeling) dan rekayasa sistem berbasis AI (AI-based system engineering).

Kekuatan fondasi diharapkan dapat membekali lulusannya untuk unggul dan tetap relevan di tengah perkembangan AI yang cepat.

Ada pun tujuan didirikannya Prodiska ialah untuk memenuhi kebutuhan tenaga profesional bidang AI yang berkualitas. Tenaga profesional di sini bukan sekadar prompt engineer, tetapi mereka yang mampu merealisasikan solusi berbasis AI untuk berbagai macam problem di industri dan masyarakat.

"Dalam hal ini, perlu dicatat, bahwa solusi berbasis AI tersebut tidak selalu berupa penerapan AI generatif (seperti yang berbasis ChatGPT dan semacamnya), karena ada banyak permasalahan yang padanya ChatGPT tidak cocok untuk dipakai sebagai solusi," tegasnya.

(ask/fay)









Hide Ads