Perang Amerika Serikat-Israel dengan Iran dikhawatirkan dapat mengganggu bisnis semikonduktor. Pasalnya, sejumlah bahan penting untuk proses produksi semikonduktor berasal dari sejumlah negara Timur Tengah.
Negara-negara Timur Tengah ternyata memiliki peran besar dalam rantai pasokan semikonduktor yang kompleks. Masalah pasokan material penting ini semakin kritis di era AI yang membutuhkan chip dan memori untuk pusat data.
"Konflik regional yang berkepanjangan berpotensi mengganggu operasi manufaktur pembuat chip terkait pengadaan material seperti helium dan bromin," kata Ray Wang, analis memori di SemiAnalysis, seperti dikutip dari CNBC, Jumat (12/3/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Untuk saat ini dampaknya terbatas. Namun, konflik yang berkepanjangan pada akhirnya dapat berujung pada gangguan atau dibutuhkan penyesuaian dalam pengadaan material utama," sambungnya.
Lantas, bagaimana peran negara-negara di Timur Tengah dalam rantai pasok semikonduktor? Rupanya, Qatar memproduksi sepertiga dari pasokan helium seluruh dunia.
Helium dipakai dalam proses manufaktur chip untuk menyebarkan panas. Gas ini juga dipakai di area seperti litografi, yang sangat penting untuk mencetak rangkaian sirkuit chip. Saat ini tidak ada alternatif yang layak untuk helium.
Pada tahun 2023, Semiconductor Industry Association memperingatkan jika pasokan helium terganggu, kemungkinan besar akan mengguncang industri manufaktur semikonduktor global.
Tidak hanya masalah produksi, transportasi helium keluar dari Timur Tengah juga menjadi sorotan. Akibat penutupan Selat Hormuz yang berkepanjangan, lebih dari 25% pasokan helium dunia diprediksi hilang dari pasar.
Bromin juga menjadi material lainnya yang menjadi fokus dan merupakan bagian penting dari proses manufaktur semikonduktor. Sekitar dua pertiga produksi bromin dunia datang dari Israel dan Yordania.
Sejak perang As-Israel dengan Iran dimulai pekan lalu, saham produsen memori seperti SK Hynix dan Samsung langsung terkena dampaknya. Nilai saham gabungan ekduanya anjlok lebih dari USD 200 miliar sejak awal perang.
Jing Jie Yu, analis dari Morningstar mengatakan Samsung dan SK Hynix sudah mengamankan kontrak produksi memori bandwidth tinggi (HBM) untuk tahun ini, dan keduanya memiliki cadangan material yang cukup untuk mempertahankan produksi saat ini. Namun, Yu mengatakan perang yang berkepanjangan dapat menunda pembangunan infrastruktur AI secara signifikan.
"Perang yang berkepanjangan juga meningkatkan biaya produksi, mulai dari sudut pandang utilitas sampai penurunan hasil produksi karena kurangnya bahan penstabil utama yang disebut di atas," ujar Yu.
(vmp/vmp)