Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Harga Komponen Ponsel Ini Berpotensi Naik Gara-gara Perang Iran

Harga Komponen Ponsel Ini Berpotensi Naik Gara-gara Perang Iran


Anggoro Suryo - detikInet

Enam jet tempur yang mengudara di langit kelabu.
Foto: UX Gun/Unsplash
Jakarta -

Lonjakan harga minyak akibat konflik di Iran disebut berpotensi meningkatkan biaya produksi komponen elektronik. Hal ini diungkap oleh CEO Samsung Display, Chung Yi.

Menurut Chung, kenaikan harga minyak dapat memicu lonjakan biaya energi dan bahan baku yang digunakan dalam industri teknologi. Kondisi tersebut datang di saat industri elektronik juga tengah menghadapi kenaikan harga chip yang membuat biaya produksi perangkat semakin mahal.

"Ketika harga minyak naik, harga bahan baku juga akan ikut naik," ujar Chung dalam wawancara dengan Reuters.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

ADVERTISEMENT

Ia menjelaskan banyak material penting dalam produksi layar dibuat dari turunan minyak mentah, termasuk berbagai jenis film yang digunakan dalam panel display.

Jika tren kenaikan harga energi ini terus berlanjut, Chung memperkirakan beban biaya bagi produsen komponen elektronik akan meningkat signifikan.

Samsung Display sendiri merupakan unit bisnis dari Samsung Electronics yang memproduksi panel layar untuk berbagai perangkat elektronik. Perusahaan ini memasok layar untuk sejumlah produk populer, termasuk iPhone dan MacBook milik Apple, serta smartphone buatan Samsung.

Kenaikan biaya produksi komponen seperti layar berpotensi berdampak pada harga perangkat elektronik di pasar, mulai dari smartphone hingga PC.

Industri teknologi selama beberapa tahun terakhir memang menghadapi berbagai tekanan rantai pasokan, mulai dari kelangkaan chip hingga meningkatnya biaya logistik dan energi. Konflik geopolitik baru berisiko memperparah kondisi tersebut.

Sebelumnya juga diberitakan kalau militer Iran kabarnya secara spesifik menargetkan fasilitas milik perusahaan teknologi Amerika Serikat di Timur Tengah.

Menurut laporan Al Jazeera, Tasnim News Agency yang terafiliasi dengan Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) Iran merilis daftar kantor dan infrastruktur yang dioperasikan oleh perusahaan AS dan memiliki hubungan dengan Israel.

Fasilitas milik perusahaan-perusahaan ini disebut sebagai target serangan baru Iran karena teknologi mereka dipakai untuk tujuan militer.

Sejumlah perusahaan yang ada dalam daftar tersebut antara lain Google, Microsoft, Palantir, IBM, Nvidia, dan Oracle. Daftar kantor dan infrastruktur yang menjadi target berlokasi di sejumlah kota di Israel, serta di beberapa negara Timur Tengah.




(asj/asj)






Hide Ads