Daftar Isi
NASA resmi memperkenalkan kru misi Artemis III, langkah penting dalam ambisi Amerika Serikat untuk kembali mengirim manusia ke Bulan. Pengumuman ini dilakukan pada Selasa (9/6/2026) waktu Huston, AS dan menandai dimulainya fase baru program Artemis yang digadang-gadang menjadi penerus era Apollo.
Empat astronaut terpilih akan menjalani misi Artemis III yang difokuskan pada pengujian teknologi dan prosedur penting sebelum pendaratan manusia di Bulan. Administrator NASA Jared Isaacman mengatakan kru yang dipilih memiliki pengalaman dan keahlian yang saling melengkapi untuk menjalankan salah satu misi antariksa paling kompleks dalam beberapa dekade terakhir.
"Setiap dari Anda memiliki latar belakang yang unik. Pengalaman luas dan dedikasi Anda memungkinkan kita melangkah ke tahap berikutnya dalam eksplorasi antariksa," kata Isaacman saat memperkenalkan para astronaut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Siapa Saja Kru Artemis III?
Empat astronaut terpilih akan menjalani misi Artemis III adalah Randy Bresnik sebagai komandan misi, Luca Parmitano dari Badan Antariksa Eropa (ESA) sebagai pilot, serta Frank Rubio dan Andre Douglas sebagai mission specialist.
Randy Bresnik menjadi sosok paling senior dalam tim ini. Mantan pilot uji Angkatan Laut dan Marinir Amerika Serikat tersebut pernah terbang menggunakan pesawat ulang-alik Space Shuttle pada 2009 dan menjadi komandan Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) pada 2017.
Posisi pilot dipercayakan kepada Luca Parmitano, astronaut ESA asal Italia. Ia menjadi satu-satunya anggota kru non-Amerika Serikat dalam misi ini. Parmitano juga memiliki rekam jejak mengesankan setelah memimpin ISS pada 2019 dan menjadi warga Italia pertama yang menduduki posisi tersebut.
Frank Rubio, seorang dokter sekaligus mantan pilot helikopter Black Hawk Angkatan Darat AS, ditunjuk sebagai mission specialist. Namanya dikenal luas karena memegang rekor penerbangan tunggal terlama oleh astronaut Amerika Serikat dengan durasi 371 hari di ISS.
Sementara itu Andre Douglas akan menjalani penerbangan luar angkasa pertamanya. Insinyur asal Florida tersebut sebelumnya menjadi anggota kru cadangan Artemis II. Jika misi berjalan sesuai rencana, Douglas akan menjadi salah satu dari sekitar dua lusin astronaut Afrika-Amerika yang pernah terbang ke luar angkasa.
NASA juga menunjuk Bob Heintz sebagai anggota kru cadangan. Veteran test pilot tersebut siap menggantikan posisi anggota kru mana pun jika dibutuhkan.
Para kru Artemis III berpose untuk potret resmi (dari kiri: Andre Douglas, Luca Parmitano, Randy Bresnik, Frank Rubio).Foto: NASA/Bill Stafford Foto: NASA |
Misi Penting Sebelum Pendaratan di Bulan
Berbeda dengan ekspektasi awal yang mengarah pada pendaratan langsung di Bulan, Artemis III kini difokuskan pada serangkaian pengujian di orbit Bumi rendah.
Misi yang diperkirakan berlangsung selama dua minggu itu akan menjadi ajang latihan berbagai prosedur penting, termasuk rendezvous dan docking atau proses penempelan wahana antariksa di luar angkasa.
Data yang dikumpulkan selama misi akan digunakan untuk menyempurnakan sistem dan mengurangi risiko pada misi pendaratan manusia ke Bulan di masa depan.
Artemis III menjadi bagian krusial dalam strategi jangka panjang NASA untuk membangun kehadiran manusia yang berkelanjutan di Bulan sebelum melangkah lebih jauh ke Mars.
Libatkan SpaceX dan Blue Origin
Program Artemis tidak hanya melibatkan NASA. Misi ini juga menjadi contoh kolaborasi besar antara pemerintah dan perusahaan swasta.
Dalam skenario misi, tiga roket akan diluncurkan secara terpisah. Satu roket membawa kapsul Orion yang mengangkut empat astronaut, sementara dua roket lainnya mengirimkan wahana pendarat Bulan yang dikembangkan oleh SpaceX milik Elon Musk dan Blue Origin milik Jeff Bezos.
Kapsul Orion nantinya akan berlatih melakukan rendezvous dan docking dengan kedua wahana tersebut di orbit Bumi. Pengujian ini dianggap sangat penting sebelum NASA mengirim manusia untuk benar-benar mendarat di permukaan Bulan.
Meski Blue Origin baru saja mengalami kemunduran setelah roket New Glenn meledak saat uji terbang tak berawak pada akhir Mei lalu, NASA dan perusahaan tersebut tetap optimistis sistemnya akan siap mendukung program Artemis.
Roket raksasa SpaceX. Foto: REUTERS/Steve Nesius |
Persaingan AS dan China Makin Panas
Pengumuman kru Artemis III juga tidak lepas dari konteks persaingan antariksa global yang kembali memanas.
Dilansir Al Jazeera, China saat ini menargetkan pendaratan manusia di Bulan pada 2030. Sementara itu Amerika Serikat ingin memastikan mereka kembali menginjakkan kaki di Bulan lebih dulu melalui program Artemis.
Sejumlah pejabat NASA bahkan secara terbuka menyebut misi Artemis sebagai bagian dari upaya mempertahankan kepemimpinan Amerika Serikat dalam eksplorasi antariksa.
"Artemis III sengaja dirancang untuk mengambil risiko terukur agar kru masa depan lebih aman dan kita bisa mengalahkan China kembali ke Bulan," ujar seorang pejabat NASA.
Persaingan tersebut mengingatkan pada era perlombaan antariksa antara Amerika Serikat dan Uni Soviet pada dekade 1960-an yang melahirkan program Apollo.
Kru Artemis II. Foto: REUTERS/Lexi Parra Foto: REUTERS/Lexi Parra |
Melanjutkan Kesuksesan Artemis II
Artemis III hadir setelah keberhasilan Artemis II yang sukses mengelilingi Bulan pada April 2026. Misi tersebut menjadi tonggak penting karena menandai pertama kalinya manusia kembali menjelajah luar orbit Bumi rendah sejak program Apollo berakhir pada 1972.
Dengan kru yang kini resmi diperkenalkan, NASA berharap Artemis III dapat menjadi fondasi kuat menuju pendaratan manusia berikutnya di Bulan sekaligus membuka jalan bagi misi eksplorasi yang lebih ambisius di masa depan.
Jika seluruh tahapan berjalan lancar, program Artemis akan menjadi awal era baru eksplorasi antariksa manusia dan membawa umat manusia selangkah lebih dekat menuju Mars.
(afr/afr)




