Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network
detikInet
UI Buka Prodi AI, Prospek Jangka Panjangnya Menjanjikan?

UI Buka Prodi AI, Prospek Jangka Panjangnya Menjanjikan?


Aisyah Kamaliah - detikInet

Ilustrasi Kampus UI, Depok
UI buka prodi AI, pakar AI memberi sambutan positif. Foto: Grandyos Zafna/detikFOTO
Jakarta -

Universitas Indonesia (UI) resmi membuka program studi kecerdasan buatan (AI). Pakar AI pun menyambutnya dengan baik dan menyebutnya sebagai kabar menggembirakan. Dihubungi oleh detikINET, Hilman F. Pardede Peneliti Ahli Utama dari Pusat Riset Kecerdasan Artifisial dan Keamanan Siber BRIN menjelaskan pandangannya.

"Pembukaan Prodi AI di Fasilkom UI menurut saya sebagai seorang pakar AI adalah kabar yang menggembirakan. Tidak bisa dipungkiri, kebutuhan talenta AI di Indonesia masih sangat kurang dibandingkan negara-negara lain," ujarnya melalui pesan singkat, Selasa (13/1/2026).

Saat ini jumlah talenta AI di Indonesia adalah 0,06% dari total angkatan kerja. Sayangnya, angka ini masih di bawah negara lain, bahkan negara tetangga. Malaysia berada di angka 0,08%, sementara Singapura 0,12%.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

ADVERTISEMENT

Akan tetapi, di negara besar pun angka talenta AI juga masih kurang. Sebut lah Amerika Serikat yang baru memenuhi 0,16 persen%.

"Apalagi kalau saya membaca ringkasan muatan kuliahnya bukan cuma termasuk hal teknis dan teknologi AI, tetapi juga mencakup terkait etika AI dan etika penggunaan AI," lanjut lulusan S1 Universitas Indonesia ini.

Prospek Jangka Panjang Prodi AI

Laki-laki yang mengambil S2 di University of Western Australia tersebut menyebut masa depan prodi ini sangat tergantung dengan bagaimana prospek dan jangka panjang AI ke depannya. Dalam sejarahnya, AI ini adalah teknologi yang timbul tenggelam.

"Tercatat sudah ada 2 kali periode AI winter, periode di mana kemajuan AI tersendat setelah terjadinya euphoria dan harapan besar yang tidak terpenuhi, mengakibatkan berkurangnya pendanaan dan minat di bidang AI," jabar pakar yang kemudian mengambil program doktoral di Tokyo Institute of Technology, Jepang, itu.

AI winter terjadi sekitar tahun 70-an dan akhir 80-an. Namun, Hilman mengatakan bukan berarti di periode itu penelitian AI tidak berjalan. Penelitian terus berjalan, tapi antusiasme masyarakat nyaris tidak terdengar.

"Saat ini euphoria AI masih berlangsung. tapi sama seperti teknologi lain, teknologi AI juga akan ada life-cycle-nya. Di mana euphoria akan turun Ketika tenologi tersebut sudah mature, dan ada teknologi yang lebih baru yang menjadi tren baru. Bukan berarti teknologi AI tidak ada lagi, tapi kemeriahannya sudah berkurang dan interest sudah tidak ada di situ lagi," sambungnya.

Pertanyaan selanjutnya, bagaimana dengan lulusan prodi AI kalau seperti itu? Hilman menuturkan bahwa sebenarnya isu terkait ini bisa lebih luas. Misalnya, apakah ke depannya lulusan informatika atau ilmu computer menjadi tidak valid dengan adanya AI? Sebab, saat ini AI sudah bisa melakukan pemogramman, salah satu skill yang unik bagi lulusan tersebut.

Oleh karena itu, Hilman berpendapat pendidikan yang berfokus pada implementatif yang sedang in pada saat tersebut jangan sampai melupakan dasar-dasar teknologinya. Kemampuan atas basic (dasar) seperti matematika, statistik, aljabar linear, memberi talenta kelebihan ketika harus belajar soal teknologi terbaru.

"Seperti saya, saya baru belajar AI setelah selesai S3, dan topik S3 saya sebenernya di pengolahan sinyal. Dengan deep learning sekarang, pengolahan sinyal berkurang sedikit perannya dalam machine learning, dengan kemampuan feature learning. Tapi, dengan dasar pemahaman basic, kita bisa lebih cepat menguasai deep learning-nya juga," akunya.

Informatika dan AI dikatakannya merupakan bidang ilmu yang cepat berubah. Oleh karenanya, lulusannya harus mampu beradaptasi dengan cepat pula.

Terakhir, Hilman percaya, perkembangan teknologi akan membuka peran baru. Sekarang lowongan pekerjaan baru sebagai AI specialist, data scientists, ethical AI experts menjadi ada dengan perkembangan AI.

"Oleh karena itu, meski terlihat spesifik, lulusan prodi AI harus dibentuk dan dibekali dengan fundamental, kemampuan beradaptasi, dan keinginan selalu belajar," tandasnya.




(ask/rns)





Hide Ads