Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network
detikInet
Ledakan AI Bikin TSMC Kewalahan, Pesanan Nvidia dan Broadcom Ditolak

Ledakan AI Bikin TSMC Kewalahan, Pesanan Nvidia dan Broadcom Ditolak


Anggoro Suryo - detikInet

Ilustrasi TSMC
Foto: Dok. TSMC
Jakarta -

Lonjakan permintaan chip kecerdasan buatan (AI) mulai menekan rantai pasok semikonduktor global. Taiwan Semiconductor Manufacturing Co. (TSMC), pabrikan chip terbesar di dunia, dilaporkan terpaksa menolak permintaan peningkatan produksi dari Nvidia dan Broadcom karena keterbatasan kapasitas manufaktur.

Sumber yang mengetahui situasi tersebut menyebutkan TSMC saat ini tidak mampu memenuhi tambahan pesanan chip AI dari dua raksasa teknologi tersebut. Nvidia membutuhkan lebih banyak GPU dan akselerator AI untuk memenuhi permintaan perusahaan teknologi besar, sementara Broadcom meminta dukungan produksi chip TPU tambahan untuk pusat data Google.

CEO TSMC CC Wei mengungkapkan kepada investor bahwa lini produksi chip paling canggih perusahaan saat ini hanya mampu memenuhi sekitar sepertiga dari total permintaan pelanggan. Ketimpangan antara permintaan dan kapasitas ini menegaskan betapa cepatnya pertumbuhan industri AI melampaui kemampuan produksi semikonduktor tercanggih.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

ADVERTISEMENT

Untuk mengatasi tekanan tersebut, TSMC tengah menyiapkan sejumlah solusi jangka menengah dan panjang. Perusahaan dilaporkan mengonversi salah satu pabriknya di Jepang agar dapat memproduksi chip dengan teknologi 2 nanometer. Namun, fasilitas tersebut masih dalam tahap pembangunan dan baru diperkirakan beroperasi pada 2027.

Selain itu, TSMC juga mempercepat pengembangan pabriknya di Arizona, Amerika Serikat, yang ditargetkan mulai memproduksi chip 3 nanometer pada 2027. Meski demikian, kedua proyek tersebut belum mampu menjawab lonjakan permintaan dalam waktu dekat, demikian dikutip detikINET dari Techspot, Rabu (21/1/2026).

Di tengah situasi ini, TSMC tetap berupaya mempertahankan model bisnis tradisionalnya yang mengandalkan proyeksi kebutuhan pelanggan tahunan untuk mengatur alokasi produksi. Namun, volatilitas industri AI membuat pendekatan tersebut semakin menantang, mengingat rencana ekspansi pelanggan kerap berubah dengan cepat.

Analis menilai kondisi ini menempatkan TSMC dalam posisi berisiko. Jika tren AI tiba-tiba melambat, perusahaan berpotensi menghadapi penurunan margin dan lini produksi menganggur, seperti yang terjadi setelah lonjakan belanja IT pada masa pandemi. Sebaliknya, jika permintaan AI terus melonjak, kapasitas TSMC tetap diperkirakan belum cukup untuk memenuhi kebutuhan global.

Kesenjangan ini membuka peluang bagi pesaing untuk memperbesar pangsa pasar. Intel disebut berada dalam posisi strategis untuk mengambil sebagian permintaan yang tidak bisa dipenuhi TSMC. Perusahaan tersebut menunjukkan pemulihan kinerja finansial sejak paruh kedua 2025 dan tren positif itu berlanjut hingga awal 2026, tercermin dari kenaikan harga sahamnya.




(asj/asj)







Hide Ads
LIVE