Citra Satelit Ungkap Luas Lahan Pasca Gunung Semeru Erupsi

ADVERTISEMENT

Citra Satelit Ungkap Luas Lahan Pasca Gunung Semeru Erupsi

Agus Tri Haryanto - detikInet
Kamis, 09 Des 2021 14:28 WIB
Foto udara kondisi pemukiman di Dusun Curah Kobokan, Pronojiwo, Lumajang, Jawa Timur, Rabu (8/12/2021). Dusun Curah Kobokan merupakan salah satu lokasi terparah terdampak awan panas guguran Gunung Semeru dan salah satu dusun terdekat dengan kawah Gunung Semeru ANTARA FOTO/Zabur Karuru/YU
Citra Satelit Ungkap Luas Lahan Pasca Gunung Semeru Erupsi. Foto: ANTARA FOTO/Zabur Karuru
Jakarta -

Organisasi Penerbangan dan Antariksa (ORPA) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) -sebelumnya bernama Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan)- memaparkan luas area yang terdampak Gunung Semeru erupsi pada Sabtu (4/12).

Untuk mengetahui luasan area yang terdampak tersebut, ORPA BRIN menggunakan pengamatan citra satelit SPOT 7.

Data foto Gunung Semeru dari luar angkasa ini kemudian dibandingkan ketika sebelum pada tahun 2018 dan sesudah erupsi pada tanggal 7 Desember. Selain itu juga memanfaatkan data mosaik landsat 8 tahun 2021.

Lapan memperlihatkan foto citra satelit sebelum dan sesudah Gunung Semeru erupsi dilihat dari luar angkasa.Lapan memperlihatkan foto citra satelit sebelum dan sesudah Gunung Semeru erupsi dilihat dari luar angkasa. Foto: Dok. Lapan

Melalui data tersebut, Plt Kepala Pusat Riset Aplikasi Penginderaan Jauh M. Rokhis Khomarudin, total luasan wilayah yang terdampak Gunung Semeru erupsi dapat diketahui. Hasil luasan penggunaan lahan ini masih berbasiskan data Landsat 8 mosaik yang masih memerlukan verifikasi dan validasi lebih lanjut.

"Lahan terdampak letusan yaitu 2.417,2 Ha yang terdiri dari Hutan sebesar 909,8 Hektare, lahan terbuka 764,5 Hektare, hutan sekunder 243,1 Hektare, lahan pertanian 161,5 Hektare, Ladang/tegalan 161,2 Hektare, perkebunan 77,9 Hektare, pemukiman 67,8 Hektare, semak/belukar 20,8 Hektare dan tubuh air 10,4 Hektare," papar Rokhis dalam keterangannya, Kamis (9/12/2021).

Selanjutnya, Tim Tanggap Darurat bersama dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana akan menganalisis lebih detail dengan data citra satelit yang lebih tinggi.

Hasil analisis ini nantinya digunakan untuk menentukan keperluan logistik dan penanganan pengungsi serta menentukan besar kerugian dan rehabilitasinya.

Hingga saat ini, jelas Rokhis, satelit yang digunakan untuk mendapatkan data citra sebuah wilayah adalah milik negara lain. Ia menjelaskan bahwa satelit yang dimiliki RI saat ini masih bersifat eksperimental dan belum cukup untuk menganalisa kerusakan secara lebih detail.

"Ke depan kalau kita punya satelit sendiri akan lebih baik dalam melakukan pemantauan bumi. Saya berharap kita dapat segera mewujudkan pembangunan satelit nasional observasi Bumi," pungkasnya.



Simak Video "Hadfana Firdaus, Penendang Sesajen di Semeru Divonis 10 Bulan Bui"
[Gambas:Video 20detik]
(agt/rns)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT