Leastric, Aplikasi Hemat Listrik Bikinan Anak Indonesia yang Dipuji Apple

Leastric, Aplikasi Hemat Listrik Bikinan Anak Indonesia yang Dipuji Apple

Adi Fida Rahman - detikInet
Rabu, 09 Jun 2021 21:42 WIB
Leastric
Leastric. Foto: dok Leastric
Jakarta -

Ada banyak aplikasi buatan anak Indonesia yang mencuri perhatian Apple. Leastric salah satunya, aplikasi ini bantu pengguna untuk dapat menghemat penggunaan listrik, baik di rumah maupun tempat usaha.

Leastric awalnya merupakan tugas akhir Marilyn Parhusip bersama beberapa rekannya di Apple Developer Academy. Namanya diambil dari gabungan kata lease lease electricity.

"Istilahnya sedikit menggunakan listrik, jangan banyak-banyak," ujar Marilyn saat berbincang dengan detikINET, Selasa (8/6/2021).

Berdirinya Leastric bermula masalah yang dihadapi Marilyn dan rekan-rekannya. Jadi sepulang dari Australia, dia mendapat ibunya marah-marah lantaran tagihan listrik yang melonjak drastis. Biasa membayar Rp 500 ribu berubah menjadi Rp 1 juta, padahal secara pemakaian tidak berbeda.

Marilyn coba mengurus hal tersebut ke PLN, sayang prosesnya penuh liku. Akhirnya dia berinisiatif untuk menghitung semuanya secara manual untuk melihat pemakaian listrik di rumah ibunya.

Tiga bulan lamanya mengurus tagihan yang tidak sesuai dengan penggunaan, alumnus Atma Jaya ini akhirnya menemukan biang keladinya.

"Usut punya usut ternyata petugas PLN tidak melakukan pencatatan di rumah, karena meteran terlalu masuk ke dalam. Dan karena tidak ada orang di rumah jadi tidak berani masuk lantaran takut dengan anjing, jadi mereka asal saja," cerita Marilyn.

Masalah tersebut diutarakan ke rekan satu timnya, tak disangka kejadian serupa dialami mereka. Singkat cerita permasalahan akhirnya mencetuskan ide untuk membuat Leastric.

LeastricLeastric Foto: dok Leastric

Dijelaskan Marilyn, Leastric memberikan solusi untuk melakukan pencatatan listrik yang digunakan. Selain itu memungkinkan pengguna membandingkan pemakaian dari bulan sebulannya, dan memastikan tagihan listrik.

"Leastric dapat melihat perangkat mana yang paling boros mengonsumsi listrik. Selain itu memonitor berapa listrik yang sudah dipakai untuk memastikan bisa tidak menyolok alat baru, sehingga terhindar mati mendadak," terangnya.

Untuk memantau, Leastric memasang alat khusus yang mengumpulkan data penggunaan listrik. Data tersebut ditampilkan pada aplikasi yang tersedia di App Store maupun Play Store.

Namun jebolan University Technology Sydney ini menegaskan kalau Leastric bukan alat penghemat listrik secara harfiah. Tapi, aplikasi ini membantu perencanaan konsumsi listrik sehingga mengurangi penggunaan yang tidak diperlukan.

Dicontohkan, aplikasi Leastric menampilkan tiga perangkat yang paling besar konsumsi listriknya. Misalnya pengguna ingin mengurangi 5%, mereka cukup mengurangi penggunaan tiga alat tadi.

Nantinya aplikasi akan memberi saran untuk mengurangi penggunaan selama dua jam per hari. Dengan begitu konsumsi listrik akan berkurang dari sebelumnya.

"Alat kami hanya bisa membantu, bukan berarti yang menurunkan. Nah yang menurunkan adalah habitnya pengguna," tegas Marilyn.

Dipuji Apple

LeastricLeastric saat dipresentasikan di hadapan Menteri Riset dan Teknologi Bambang Brodjonegoro. Foto: dok Leastric

Berangkat dari masalah pencatatan listrik, Marilyn dan rekan sekelompok di Apple Developer Academy kemudian mengembangkan Leastric. Pihak mentor memberi tenggat waktu tiga bulan pengembangan menjadi sebuah aplikasi dan bisa dipamerkan.

Ini menjadi tantangan berat, karena mereka tidak hanya menyiapkan aplikasi tapi juga perangkat untuk bantu pemantauan. Awalnya mereka memodifikasi alat yang ada di pasaran, sayangnya tidak bisa digunakan.