Rabu, 08 Mei 2019 21:35 WIB

Nasib 5G di Indonesia Belum Jelas

Adi Fida Rahman - detikInet
Menkominfo Rudiantara bicara soal implementasi 5G di Indonesia. (Foto: Adi Fida Rahman/detikINET) Menkominfo Rudiantara bicara soal implementasi 5G di Indonesia. (Foto: Adi Fida Rahman/detikINET)
Jakarta - Sejumlah negara mulai berlomba menghadirkan layanan 5G. Sementara di Indonesia nasib penyelenggaraan jaringan generasi kelima itu sejauh ini masih belum jelas.

Setidaknya itu berdasar pemaparan Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara. Dia mengatakan penerapan 5G belum akan dilakukan dalam waktu dekat karena belum ada bisnis model yang tepat, terutama untuk konsumen.

Jaringan 5G memang akan menguntungkan pengguna sebab kecepatannya bisa 10 kali dari 4G. Latensi juga sangat rendah sehingga membuat streaming dan download pun bisa dalam hitungan detik.

"Dengan kecepatannya 10 kali lipatnya, masyarakat ritel atau konsumen mau tidak membayar 3-4 kali lipat dari 4G. Pasti berat kan," kata Rudiantara saat ditemui usia acara Buka Bersama Kemenkominfo, Rabu malam (8/5/2019).




Kondisi ini berbeda dengan pasar korporasi. Mereka tidak menghitung harga.

"Selama menguntungkan, biaya naik tapi pendapatan nambah, nggak masalah," ujar pria yang kerap disapa Chief RA ini.

Menurut Menkominfo, besar kemungkinan 5G nantinya akan lebih dulu menyasar pasar korporasi. Dan Ini sama seperti negara lain.

"Jepang tahun depan 5G, ditanya model bisnisnya karena akan jadi tuan rumah olimpiade, ya sudah. Korea Selatannjuga 5G tahun ini, fokusnya di pasar bisnis bukan ritel. Keinginan membayar pasar konsumen belum mencapai skala ekonomi," paparnya.




Selian model bisnis, Menkominfo menyebut masalah ketersedian frekuensi menjadi penyebab belum bisanya 5G hadir di Tanah Air. Mengacu pada dunia, alokasi frekuensi untuk 5G adalah 3,5 GHz. Di Indonesia frekuensi tersebut masih berpenghuni, yakni satelit. Bila mau implementasi 5G maka harus menunggu kontrak satelit habis. Atau bisa dipakai di mana tidak ada coverage satelitnya.

"Berdasarkan ITU paling bagus 3,5 GHz, tapi masih ada satelit yang berakhir sekitar tahun 2020-an. Tapi misalnya ada daerah tidak digunakan, misalnya kawasan industri khusus yang tidak ada coverage satelit dan tidak dioperasikan di situ, bisa digunakan," kata Rudiantara.

"Tapi penerapannya kapan belum tahu, karena belum ada model bisnis. Kalau untuk ujicoba harus jalan terus karena kita harus keep up dengan perkembangan teknologi," pungkasnya.


(afr/krs)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed