Aplikasi Azan Pencuri Data, Peluang Pengembang Lokal dan Pemerintah

Aplikasi Azan Pencuri Data, Peluang Pengembang Lokal dan Pemerintah

ADVERTISEMENT

Kolom Telematika

Aplikasi Azan Pencuri Data, Peluang Pengembang Lokal dan Pemerintah

Alfons Tanuwijaya - detikInet
Jumat, 22 Apr 2022 19:10 WIB
Ilustrasi Smartphone
Aplikasi Azan Pencuri Data, Peluang Pengembang Lokal dan Pemerintah. Foto: Shutterstock
Jakarta -

Jika penulis ditanya aplikasi azan mana yang aman, penulis akan berada dalam posisi yang sulit untuk menjawab. Itu karena kalau merekomendasikan satu aplikasi azan yang saat ini terbukti aman dan tidak melakukan penyadapan atau pencurian data, namun pada saat update aplikasi tersebut berubah dan melakukan aksi penyadapan, maka penulis akan disalahkan karena merekomendasikan aplikasi jahat.

Praktek umum yang biasa dilakukan dalam memilih aplikasi tentunya nomor satu selalu instal aplikasi dari Play Store (app store). Kalau instal dari luar Play Store walaupun tidak semua aplikasi di luar Play Store jahat tapi aplikasi itu tidak ada yang memonitor. Jadi jangan tanya lagi soal keamanan, risiko tanggung sendiri karena aplikasi resmi di Play Store saja tidak bisa dijamin aman.

Aplikasi resmi di Play Store tidak bisa dijamin aman, karena aplikasi yang hari ini terbukti aman dan tidak melakukan aksi jahat jika melakukan update bisa dirubah melakukan aksi mencuri data, memata-matai penggunanya, key logging atau screen capture dan hal ini sangat sulit terdeteksi pengguna aplikasi jika dijalankan dengan hati-hati oleh pembuat aplikasi.

Hal ini hanya akan terdeteksi jika trafik dan detail aplikasi ini diamati dengan seksama dengan tools monitoring khusus. Harusnya ada institusi yang mengawasi hal ini dan diharapkan institusi pemerintah memegang peranan atau mengambil inisiatif melakukan pengecekan atas semua aplikasi, apa saja hak akses yang diminta, apakah hak akses ini relevan dengan fungsi aplikasinya. Lalu dicek secara berkesinambungan faktanya apakah aplikasi tersebut benar melakukan hal ini dan tidak melakukan pencurian data.

Pemerintah atau pengembang aplikasi swasta juga bisa mengambil inisiatif membuat aplikasi yang populer dan berguna untuk masyarakat seperti aplikasi azan dan hal ini akan membuat tenang masyarakat karena menggunakan aplikasi yang dibuat oleh pengembang Indonesia. Mengapa ? Karena jika aplikasi ini melakukan aksi tidak bertanggung jawab, maka pengembangnya akan langsung berurusan dengan pihak berwenang sehingga tentunya mereka akan pikir-pikir seribu kali mencegah hal ini terjadi.

Salah satu contoh simpel adalah domain internet, dimana domain .id dan .co.id yang dikelola oleh PANDI (Pengelola Nama Domain Indonesia) jauh lebih aman dari aksi penyalahgunaan domain yang tidak bertanggungjawab seperti digunakan untuk phishing atau mencuri data dibandingkan dengan domain .com atau domain non .id lainnya.

Alasannya simpel, kalau ada domain .id yang teridentifikasi melakukan aksi jahat, maka PANDI akan sangat mudah dihubungi dan cepat bereaksi karena memang sangat berkepentingan menjaga keamanan domain .id yang dikelolanya sehingga pelaku penipuan dan phishing juga akan menghindari menggunakan domain .id untuk aksi jahat.

Apakah Indonesia mampu membuat aplikasi yang baik?

Apakah Indonesia mampu membuat aplikasi yang baik dan mengimplementasikan dengan baik ? Apa buktinya ? Jawabannya, sangat mampu. Buktinya, Lebaran tahun ini masyarakat Indonesia bisa menikmati mudik dan diperbolehkan mudik. Kalau pandemi Covid 19 tidak terkendali, tentunya akan sangat beresiko memperbolehkan mudik dan kita sedang lockdown. Saat artikel ini dibuat menjelang akhir Ramadan 2022, Shanghai sedang menerapkan lockdown.

Jangankan mudik, keluar rumah tanpa keperluan penting saja tidak boleh. Hal ini patut kita syukuri dan tentunya jangan sampai takabur dan membuat lengah untuk tetap disiplin melakukan prokes. Peranan yang sangat besar dalam mengendalikan pandemi dilakukan oleh satgas Covid 19 menggunakan aplikasi Peduli Indungi.
Peduli Lindungi yang awalnya banyak memiliki kelemahan terus diperbaiki dan disempurnakan sehingga menjadi seperti hari ini.

Implementasi pengendalian Covid 19 dengan ujung tombak Peduli Lindungi tidak mudah karena harus dilakukan lintas institusi dan stakeholder. Pihak-pihak yang terkait ini mendukung implementasi PL sehingga penetrasinya makin tinggi dan mendorong tingkat vaksinasi masyarakat yang tinggi dan menyebabkan tingkat kekebalan masyarakat Indonesia terhadap Covid termasuk yang tertinggi di dunia (https://news.detik.com/berita/d-5989773/survei-serologi-fkm-ui-866-populasi-ri-punya-antibodi-corona).

Tidak mudah mengkoordinasikan data dari ratusan lab test Covid yang bertebaran di seluruh Indonesia untuk langsung terhubung otomatis ke PL, PL yang mengambil data kependudukan otomatis dari sistem Dukcapil jika mendapatkan data pasien positif Covid dari laboratorium test langsung sistemnya berjalan berkoordinasi dengan aplikasi kesehatan menghubungi pasien melalui Whatsapp dan memberikan konsultasi gratis ke pasien di seluruh Indonesia dari tenaga dokter yang sudah tersertifikasi secara real time.

Setelah selesai konsultasi gratis dengan dokter, pasien langsung mendapatkan kupon untuk klaim obat gratis ke Kimia Farma secara online dan dalam waktu singkat obat diproses dan dikirimkan ke rumah. Ini adalah pekerjaan besar membutuhkan koordinasi lintas instansi dan stakeholder.

Departemen kesehatan, Dukcapil, apotik-apotik Kimia Farma seluruh Indonesia, ratusan dokter di seluruh Indonesia, lebih dari 700 laboratorium pengetesan Covid di seluruh Indonesia, puluhan ribu sentra vaksinasi yang sudah melakukan lebih dari 200 juta suntikan vaksin di seluruh Indonesia, sistem kupon yang menghubungkan peduli Lindungi, dokter dan jaringan apotik Kimia Farma yang langsung tanggap mengirimkan obat melalui kurir.

Sistem pembayaran yang berjalan secara otomatis antar instansi yang tidak terlihat namun relatif bebas birokrasi karena berjalan secara otomatis. Jadi sudah jelas kalau Indonesia baik kalangan swasta (EG: Tokopedia, Gojek, Bukalapak) dan pemerintah memiliki kapabilitas untuk membuat aplikasi yang baik dan mengimplementasikan dengan baik.

Kalau aplikasi sekelas Peduli Lindungi saja bisa dibuat, aplikasi azan tentu tidak sulit dibuat dan pihak terkait baik pemerintah maupun swasta seperti apakah Kominfo, Departemen Agama atau PANDI bisa segera melihat adanya kebutuhan dan peluang ini. Data adalah komoditas yang paling berharga saat ini, siapa yang menguasai data dan mengelola dengan baik dan bertanggung jawab akan mendapatkan manfaat terbesar dan memberikan kontribusi yang sangat besar kepada masyarakat.

Salam,
Alfons Tanujaya

*) Penulis adalah pakar keamanan siber dari Vaksincom



Simak Video "2 dari 11 Aplikasi Azan dan Salat Diputus Akses oleh Google"
[Gambas:Video 20detik]
(fyk/fyk)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT