Pemalsuan Sertifikat Vaksin di Pakistan, Jangan Ditiru Indonesia

Pemalsuan Sertifikat Vaksin di Pakistan, Jangan Ditiru Indonesia

Aisyah Kamaliah - detikInet
Senin, 11 Okt 2021 17:07 WIB
Smartphone displaying a valid digital vaccination certificate for COVID-19 in males hand, downtown and city bus in background. Vaccination, immunity passport, health and surveillance concepts
Duh, di Pakistan Banyak Sertifikat Vaksin COVID-19 Tanpa Benar Disuntik (Foto: Getty Images/iStockphoto/RobertAx)
Jakarta -

Di Pakistan ternyata banyak yang memalsukan sertifikat vaksin corona sehingga pemerintah turun tangan. Saqib Baig dari Kementerian Kesehatan di Pakistan pun dapat kerjaan khusus untuk menangkap orang yang mencoba tipu-tipu dengan sertifikat vaksin COVID-19 palsu.

Secara khusus, Baig mencari orang-orang yang datang ke pusat, mendaftarkan diri di konter untuk mendapatkan suntikan vaksin COVID-19, tetapi kemudian pergi tanpa benar-benar divaksin.

Orang-orang ini nantinya dapat memasukkan detail pribadi mereka di portal online National Immunisation Management System's (NIMS) dan mendapatkan sertifikat vaksinasi, yang kemudian dapat digunakan untuk berbagai kegiatan yang membutuhkan sertifikat vaksin COVID-19.

"Baru kemarin, saya menangkap sekitar 70-80 orang yang mencoba meninggalkan pusat tanpa menerima dosis," kata Baig kepada Geo.tv seperti dilihat Senin (11/10/2021).

"Mereka datang dengan alasan paling lucu juga, 'Oh, saya memiliki kondisi kesehatan yang langka, jadi saya tidak bisa mendapatkan vaksin'," tambahnya sembari tertawa miris.

Orang-orang mencoba menghindari Baig dan rekan-rekannya dengan berpura-pura keluar untuk menerima panggilan telepon, atau bersembunyi di kamar kecil dan mencoba menyelinap keluar. Itu menurut cerita Touqeer Anwar yang menjadi supervisor.

"Begitu kami menangkap mereka, kami mencoba berunding dengan orang-orang ini dan meyakinkan mereka untuk mendapatkan suntikan vaksin. Jika mereka tidak setuju, kami harus memanggil polisi," kisah Anwar.

Untuk menghentikan oknum yang membantu jalannya pembuatan sertifikat vaksin COVID-19 tanpa benar-benar disuntik, pemerintah telah meluncurkan tiga langkah.

Pertama, mereka telah menempatkan penjaga, seperti Baig, di pusat vaksin untuk mengawasi orang-orang yang melewati sistem.

Kedua, mereka telah meluncurkan sistem otentikasi dua faktor untuk orang yang masuk ke database vaksin nasional. Ini berarti bahwa ketika operator data atau petugas kesehatan masuk ke sistem, mereka menerima kode otentikasi di ponsel mereka yang harus mereka verifikasi sebelum mereka dapat melanjutkannya. Ini memastikan bahwa orang yang masuk ke sistem sebenarnya adalah memang orang tersebut.

Ini dimaksudkan untuk menghentikan petugas kesehatan yang memberikan detail login mereka kepada orang luar, karena otentikasi dua faktor akan secara langsung melibatkan mereka jika aktivitas penipuan terdeteksi dari akun mereka.

Ketiga, para pejabat juga sedang melakukan audit berkelanjutan untuk mencocokkan rincian setiap orang yang telah menerima vaksin dengan nomor identifikasi unik yang tercantum pada botol vaksin dari mana vaksin itu diberikan.

"Setiap vaksin memiliki nomor atau ID unik. Kami sekarang dapat melacak orang mana yang mendapat vaksin dan di mana, atau jika mereka tidak benar-benar mendapatkan vaksin sama sekali," kata Sikander, Secretary of Punjab's Primary and Secondary Healthcare Department.

Setelah melihat dari tiga gelombang besar, Pakistan telah mencatat hampir 1,26 juta kasus virus mematikan, sementara lebih dari 28.000 orang telah meninggal pada 9 Oktober. Pada 29 September, Pakistan baru mengimunisasi 12% dari total populasinya.



Simak Video " Anies Buka Opsi Semua Kegiatan di Jakarta Pakai Syarat Vaksin"
[Gambas:Video 20detik]
(ask/fay)