Konflik di Timur Tengah kembali menimbulkan efek domino bagi industri penerbangan global. Serangan drone yang diduga berasal dari Iran ke wilayah Azerbaijan memicu penutupan sebagian ruang udara di kawasan Kaukasus, membuat jalur penerbangan internasional semakin sempit dan padat.
Sebelumnya, lalu lintas penerbangan di kawasan ini sudah kacau balau. Wilayah yang biasanya jadi hub penting industri penerbangan dunia kini makin tertekan setelah serangan drone ke Azerbaijan. Data real-time Flightradar24 menunjukkan kemacetan parah di jalur selebar hanya sekitar 100 kilometer melintasi utara Azerbaijan.
Pakar penerbangan John Strickland mengatakan saat ini maskapai hanya punya "pilihan yang sangat terbatas" untuk menavigasi situasi ini. Maskapai Barat memang sudah menghindari seluruh ruang udara Rusia (termasuk Siberia) sejak invasi Ukraina 2022. Kini mereka juga harus menjauhi Iran dan Irak, mencari rute alternatif utara atau selatan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Koridor tengah melalui Iran, Irak, dan Teluk secara efektif sudah tertutup. Sebagian besar lalu lintas terpaksa melewati utara via Kaukasus dan Afghanistan, atau selatan via Mesir/Saudi/Oman," jelas David Mumford, spesialis operasi internasional dari Opsgroup, dikutip dari BBC.
Kedua rute itu jauh lebih panjang dan lebih ramai dari biasanya. Akibatnya, waktu penerbangan bertambah lama dan konsumsi bahan bakar ikut membengkak.
Maskapai asal Teluk mulai gencar beroperasi dari Uni Emirat Arab (UAE) dan Oman untuk evakuasi penumpang yang terjebak. Namun, tidak ada penerbangan keluar dari Qatar dan kapasitas secara keseluruhan masih jauh di bawah normal, kata Opsgroup.
Pada Jumat malam, data Flightradar24 menunjukkan pesawat-pesawat menggunakan wilayah udara Azerbaijan utara tetapi tidak terbang di atas wilayah selatan negara tersebut. Foto: Flightradar24 |
Lalu lintas udara anjlok tajam sejak serangan dimulai Sabtu lalu. Strickland memprediksi penumpang akan merasakan langsung dampaknya: penerbangan yang lebih lama karena rute memutar.
"Penerbangan yang sudah memutar rute kini punya pilihan yang bahkan lebih sedikit lagi," ujarnya.
Beberapa maskapai sudah mulai adaptasi sejak ketegangan memanas beberapa pekan lalu. Pekan ini, semakin banyak yang terpaksa beralih ke jalur lebih selatan untuk menghindari zona konflik.
Kemacetan diprediksi terjadi di jam-jam sibuk, seperti sore-malam untuk rute Eropa-Asia dan pagi hari untuk arah sebaliknya. Ini jadi "komplikasi besar tambahan" bagi perencanaan maskapai, di atas faktor cuaca dan dampak delay ke jadwal berikutnya.
Mayoritas maskapai belum perlu tambah stopover, tapi Qantas terpaksa menyisipkan pengisian bahan bakar di Singapura untuk rute Perth-London yang biasanya nonstop. Penerbangan ke India juga kebanyakan memutar ke selatan Teluk.
Dalam jangka pendek, perhatian tertuju pada kemungkinan insiden lanjutan di Azerbaijan, kata David Kaminski, editor transportasi udara Flight Global.
Jalur penerbangan Timur Tengah Foto: Flightradar24 |
Azerbaijan, negara bekas Uni Soviet yang kaya minyak dan berbatasan dengan Rusia, Iran, Armenia, serta Georgia, punya posisi strategis krusial. Jika negara ini terseret lebih dalam ke konflik, maskapai bisa menghadapi "tembok bata raksasa di langit dari Arab Saudi sampai Rusia utara".
"Disrupsinya akan sangat masif," tegas Kaminski.
Jika konflik cepat reda, maskapai Teluk akan coba bangun kembali bisnis seperti sedia kala. Tapi kalau berlarut-larut, bisa picu restrukturisasi permanen.
Model bisnis Emirates, Etihad, dan Qatar Airways yang menjadikan Dubai-Abu Dhabi sebagai hub transit dan destinasi wisata (stopover belanja & liburan sebelum lanjut ke Asia) berisiko tak bertahan. Kota alternatif seperti Riyadh atau Istanbul yang sedang ekspansi bandara besar-besaran (Istanbul rencananya sampai 9 runway) kemungkinan besar akan ambil kesempatan ini.
Bagi traveler Indonesia yang sering transit di Dubai menuju Eropa atau Asia, perubahan rute ini berpotensi menambah durasi penerbangan beberapa jam plus risiko delay lebih tinggi.
(afr/afr)



