Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Langit Lampung Dilewati Benda Bercahaya, Awas Sampah Antariksa!

Langit Lampung Dilewati Benda Bercahaya, Awas Sampah Antariksa!


Rachmatunnisa - detikInet

Benda terang melintasi langit Lampung. Videonya langsung viral di media sosial dan menarik komentar dari netizen. Bahkan ada yang mengiranya sebagai rudal.
Benda terang melintasi langit Lampung. Videonya langsung viral di media sosial dan menarik komentar dari netizen. Bahkan ada yang mengiranya sebagai rudal. Foto: Tangkapan layar
Jakarta -

Peristiwa sampah antariksa melintasi langit Lampung pada Sabtu (4/4) malam adalah peringatan bahwa orbit Bumi tidak kosong. Bahkan, sampah antariksa terus bertambah.

Objek yang dikonfirmasi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sebagai bagian roket Long March-3B milik China tersebut hanyalah satu dari ribuan objek di luar angkasa yang sewaktu-waktu bisa jatuh kembali ke atmosfer.

"Bekas roket Tiongkok tersebut meluncur dari arah India menuju Samudera Hindia di pantai barat Sumatra," kata Thomas Djamaluddin, peneliti ahli utama Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa BRIN dalam keterangan tertulisnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Pada sekitar pukul 19.56 WIB ketinggiannya turun di bawah 120 km. Objek tersebut memasuki atmosfer padat, terus meluncur terbakar dan pecah. Itulah yang disaksikan warga sekitar Lampung dan Banten," rincinya.

Ibarat bom waktu, puing-puing yang berserakan di luar angkasa ini hanya tinggal menunggu waktu berjatuhan ke Bumi. Ancamannya pun kian mengkhawatirkan. Sampah luar angkasa memang menjadi isu penting yang sedang disorot terkait kemajuan teknologi luar angkasa.

ADVERTISEMENT

Sejak perlombaan menuju luar angkasa antara Amerika Serikat dengan Uni Soviet, negara lain banyak membuat satelit sendiri dan diluncurkan ke luar angkasa. Masalahnya, sedikit yang peduli soal nasib wahana antariksa itu usai misi sudah selesai.

Apa Itu Sampah Antariksa?

Sampah antariksa adalah objek buatan manusia yang berada di luar angkasa dan sudah tidak berfungsi lagi. Mengutip laman Natural History Museum, sampah antariksa dapat berupa satelit mati, bagian roket, hingga pecahan kecil dari tabrakan objek di orbit.

Objek tersebut tetap mengorbit Bumi dengan kecepatan tinggi dan jumlahnya terus bertambah seiring meningkatnya aktivitas peluncuran satelit dan misi luar angkasa. Kondisi ini membuat sampah antariksa menjadi perhatian para ilmuwan karena dapat mengganggu aktivitas di orbit.

Sebagian sampah antariksa pada akhirnya dapat masuk kembali ke atmosfer Bumi dan terbakar sehingga terlihat sebagai cahaya terang dari permukaan Bumi.

Ancaman Sampah Antariksa

Dilansir dari Deutsche Welle, menurut perkiraan NASA, setidaknya ada 23 ribu unit muatan yang dibuang, terdiri dari badan roket, dan puing-puing lainnya yang panjangnya lebih dari 10 cm mengelilingi planet ini.

Selain itu, ada 500 ribu benda kecil lainnya dengan panjang antara 1 cm hingga 10 cm. Semua benda ini bergerak setidaknya 18.000 mil per jam dan dapat bertahan selama beberapa dekade sebelum masuk kembali ke atmosfer Bumi dan terbakar.

Saat berada di orbit, mereka menimbulkan risiko bagi satelit komunikasi komersial, pengorbit ilmiah dan cuaca, dan tentu saja Stasiun Luar Angkasa Internasional yang saat ini menjadi rumah bagi para astronaut yang sedang bertugas.

Ketika luar angkasa semakin penuh sampah, para ilmuwan berpendapat hal ini dapat menimbulkan sindrom Kessler, yaitu skenario mimpi buruk di mana saking banyaknya sampah luar angkasa membuat kita tidak bisa lagi meluncurkan satelit ke orbit dan berdampak buruk bagi kehidupan manusia modern karena banyak hal bergantung pada satelit, salah satunya telekomunikasi.

Ancaman lainnya adalah bahaya yang ditimbulkan dari tumbukan benda langit yang jatuh ke Bumi semakin besar. Ledakan tidak diinginkan pada roket peluncur yang tertinggal di luar angkasa, merupakan kasus paling banyak yang memproduksi sampah berukuran kecil dalam jumlah cukup banyak di luar angkasa.

Sampah lainnya adalah sisa bahan bakar padat, limbah cair yang membeku serta pecahan satelit. Seberapa besar volume sampah di luar angkasa itu, tidak ada yang tahu persis. Sebab perangkat radar di Bumi hanya bisa mendeteksi sampah benda langit yang ukurannya minimal sebesar bola sepak.

Bersih-bersih luar angkasa

Upaya bersih-bersih luar angkasa pun mulai dilakukan. Berbagai badan antariksa sejumlah negara dan perusahaan teknologi luar angkasa berusaha menciptakan cara mengangkut sampah-sampah tersebut.

Space.com memberitakan ada NASA dan SpaceX yang akan mengerahkan sistem roket Starship generasi terbarunya untuk membantu membersihkan orbit Bumi. Kemudian ada Astroscale asal Jepang yang bekerja sama dengan JAXA meluncurkan mesin pengangkut sampah luar angkasa magnetik bernama End of Life Services by Astroscale demonstration atau ELSA-d.

Tak ketinggalan Eropa pun ingin jadi yang pertama bisa membersihkan sampah luar angkasa. Badan antariksa Eropa ESA meluncurkan misi pemindahan puing-puing luar angkasa pada 2025 dengan bantuan startup asal Swiss bernama ClearSpace.

Siapapun yang bisa lebih dulu melakukannya, semoga bisa menjadi solusi untuk sedikit mengurangi sampah antariksa yang berserakan di atas sana, agar tak menjadi bom waktu yang sewaktu-waktu meledak dan berdampak lebih membahayakan.




(rns/fay)








Hide Ads