Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Benda Terang Lewati Langit Lampung, Ada yang Bilang Rudal Iran

Benda Terang Lewati Langit Lampung, Ada yang Bilang Rudal Iran


Aisyah Kamaliah - detikInet

Benda terang melintasi langit Lampung. Videonya langsung viral di media sosial dan menarik komentar dari netizen. Bahkan ada yang mengiranya sebagai rudal.
Benda terang melintasi langit Lampung. Foto: Tangkapan layar
Jakarta -

Benda terang melintasi langit Lampung. Videonya langsung viral di media sosial dan menarik komentar dari netizen. Bahkan ada yang mengiranya sebagai rudal Iran.

"Rudal Iran," ujar netizen di kolom komentar sebuah akun di Instagram yang memuat video tersebut.

"Apa itu?" yang lain penasaran.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

ADVERTISEMENT

Benda tersebut terlihat bercahaya dan meninggalkan garis panjang sepanjang jejaknya. Jika diperhatikan melalui video yang ada, benda bercahaya terang itu berpencar menjadi serpihan-serpihan beberapa kali. Meski begitu, rudal bukanlah jawaban yang tepat atas objek di langit Lampung itu.

Profesor Astronomi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Thomas Djamaluddin menjelaskan bahwa objek itu adalah sampah antariksa bekas roket Tiongkok CZ-3B.

"Masyarakat sekitar Lampung dan Banten dihebohkan dengan objek terang yg meluncur di langit dan tampak terpecah menjadi beberapa bagian. Itu adalah pecahan sampah antariksa," jabarnya keterangan yang diterima detikINET.

"Info terbaru dari Space-Track dan analisis orbit menunjukkan bahwa bekas roket Tiongkok tersebut meluncur dari arah India menuju Samudera Hindia di pantai barat Sumatera. Pd sekitar pukul 19:56 WIB ketinggiannya turun di bawah 120 km. Objek tersebut memasuki atmosfer padat, terus meluncur terbakar dan pecah. Itulah yang disaksikan warga sekitar Lampung dan Banten," imbuhnya.

Oleh karena itu, objek bercahaya di langit Lampung adalah sampah antariksa, bukan rudal.

Lebih lanjut, Djamal menjelaskan bahwa fenomena jatuhnya sampah antariksa sebenarnya bukan hal yang langka secara global, namun kejadian yang melintas dan dapat disaksikan langsung di wilayah Indonesia tergolong jarang. Peristiwa serupa terakhir kali terjadi pada tahun 2022, ketika objek serupa terlihat di Lampung juga dan jatuh di wilayah Sanggau, Kalimantan Barat.

Djamal menegaskan bahwa fenomena ini pada umumnya tidak membahayakan masyarakat. Sebagian besar sampah antariksa akan habis terbakar di atmosfer sebelum mencapai permukaan Bumi. Risiko hanya muncul jika ada bagian yang tidak terbakar sempurna dan jatuh di area permukiman, namun hingga saat ini belum pernah terjadi di mana pun di dunia.

Ia juga menjelaskan bahwa penyebab utama sampah antariksa jatuh ke Bumi adalah adanya hambatan udara pada orbit rendah. Bekas roket atau satelit yang sudah tidak aktif akan mengalami perlambatan akibat interaksi dengan atmosfer, sehingga ketinggiannya terus menurun hingga akhirnya masuk ke lapisan atmosfer padat dan terbakar.

Terakhir, Djamal mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak panik apabila melihat fenomena serupa di masa mendatang. Fenomena ini merupakan bagian dari dinamika aktivitas antariksa global yang dapat diamati secara ilmiah, sekaligus menjadi momentum untuk meningkatkan literasi publik terkait sains dan keantariksaan.




(ask/ask)




Hide Ads