Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
AI Bongkar Penyakit Langka, 300 Juta Orang Terdampak

AI Bongkar Penyakit Langka, 300 Juta Orang Terdampak


Dr. Rowland Illing - detikInet

Dr. Rowland Illing, AWS Chief Medical Officer and Director of Global Healthcare and Nonprofits
Dr Rowland Illing, AWS Chief Medical Officer and Director of Global Healthcare and Nonprofits Foto: AWS
Jakarta -

Penyakit langka kerap dianggap hanya menyerang segelintir orang dan tidak perlu mendapat perhatian besar. Namun data global justru menunjukkan gambaran yang jauh berbeda. Secara kolektif, penyakit langka menjadi "paradoks" di dunia medis: jumlah kasusnya memang kecil per jenis, tetapi jika digabungkan, dampaknya sangat besar.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendefinisikan penyakit langka sebagai kondisi yang dialami sekitar 1 dari 2.000 orang. Saat ini, diperkirakan lebih dari 300 juta orang di seluruh dunia hidup dengan salah satu dari sekitar 7.000 jenis penyakit langka.

Angka ini bahkan jauh lebih besar dibandingkan jumlah penderita kanker dalam beberapa tahun terakhir. Masalahnya, penyakit langka masih kerap luput dari perhatian.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

ADVERTISEMENT

Riset dan pengembangan medis selama ini lebih banyak difokuskan pada penyakit dengan jumlah pasien besar. Akibatnya, banyak penderita penyakit langka mengalami keterlambatan diagnosis, bahkan salah diagnosis.

Sekitar 80% penyakit langka berkaitan dengan faktor genetik. Kondisi ini membuat proses identifikasi menjadi jauh lebih kompleks dibandingkan penyakit yang disebabkan oleh infeksi atau faktor lingkungan.

Tak jarang, pasien harus menjalani perjalanan panjang sebelum mendapatkan diagnosis yang tepat - yang dikenal sebagai diagnostic odyssey.

AI dan Cloud Jadi Kunci Terobosan

Di tengah tantangan tersebut, teknologi kecerdasan buatan (AI) dan cloud computing mulai memainkan peran penting. AI mampu menganalisis data dalam jumlah besar, termasuk data genomik, untuk menemukan pola yang sulit dideteksi manusia.

Salah satu penerapan nyatanya adalah dalam pengurutan DNA atau whole genome sequencing (WGS). Dengan dukungan AI dan cloud, proses analisis genom kini bisa dilakukan lebih cepat dan dalam skala besar.

Kolaborasi seperti yang dilakukan Genomics England bersama Amazon Web Services (AWS) dan Illumina memungkinkan integrasi data genomik ke dalam proses diagnosis.

Melalui program 100.000 Genomes Project, sistem kesehatan Inggris (NHS) bahkan telah mengurutkan lebih dari 100.000 genom dan menjadi yang pertama di dunia yang menawarkan layanan tersebut sebagai bagian dari perawatan rutin.
Teknologi cloud juga membuka peluang kolaborasi global.

Data genom dari berbagai negara dapat diakses oleh peneliti melalui repositori besar seperti Sequence Read Archive (SRA), yang kini menyimpan puluhan petabyte data untuk mempercepat riset penyakit langka.

Dari Salah Diagnosis hingga Harapan Baru

Dampak nyata teknologi ini terlihat dari kisah pasien. Seorang ibu bernama Mel akhirnya menemukan diagnosis tepat untuk dua anaknya yang mengalami kondisi neurodegeneratif langka akibat varian gen DHDDS.

Sebelumnya, salah satu anaknya didiagnosis autisme dan dispraxia. Namun melalui layanan genomik, kondisi sebenarnya berhasil diidentifikasi. Hasilnya, penanganan yang lebih tepat bisa diberikan - gejala tremor yang dialami anaknya berkurang sekitar 20-30% setelah terapi vitamin tertentu.

Kisah ini menunjukkan betapa pentingnya diagnosis yang akurat, bukan hanya untuk pengobatan, tetapi juga untuk memberikan kepastian bagi pasien dan keluarga.

AI Bisa Deteksi dari Wajah Bayi

Inovasi AI juga merambah metode diagnosis yang lebih praktis. Di Children's National Hospital, Amerika Serikat, teknologi AI dikembangkan untuk menganalisis gambar wajah bayi melalui kamera smartphone.

Teknologi ini mampu mendeteksi perubahan kecil pada fitur wajah yang sering kali menjadi indikator gangguan genetik langka. Dengan deteksi lebih dini, dokter bisa memberikan intervensi lebih cepat sebelum kondisi berkembang lebih parah.

Penggunaan large language models (LLM) turut membantu mempercepat proses diagnosis dan memperluas akses terhadap tes genetik, terutama bagi anak-anak. Hal ini sejalan dengan yang disampaikan Matthew Bainbridge, PhD, Supervising Research Scientist di Rady Genomics.

Pemanfaatan AI dan cloud adalah langkah penting untuk membuat akses terhadap tes genetik menjadi lebih setara, terjangkau, dan luas.

Terapi Gen dan Penemuan Obat Lebih Cepat

Ke depan, AI dan cloud diprediksi akan semakin berperan dalam pengembangan terapi penyakit langka. Salah satu pendekatan yang menjanjikan adalah terapi berbasis gen seperti antisense oligonucleotides (ASO) dan RNA.

Teknologi ini memungkinkan peneliti menargetkan ekspresi gen penyebab penyakit secara lebih spesifik. Dengan dukungan AI, proses penemuan obat yang sebelumnya memakan waktu bertahun-tahun berpotensi dipercepat secara signifikan.

Akses terhadap komputasi besar dan dataset global juga membuka peluang agar terapi penyakit langka bisa lebih terjangkau, meski jumlah pasiennya relatif kecil.

Bukan Lagi Penyakit yang "Tak Terlihat"

Selama ini, penderita penyakit langka sering merasa terabaikan karena minimnya perhatian dan keterbatasan teknologi. Namun dengan hadirnya AI dan cloud, harapan baru mulai terbuka.

Teknologi tidak hanya membantu dokter memahami penyakit yang kompleks, tetapi juga memberi kesempatan bagi jutaan pasien untuk mendapatkan diagnosis yang lebih cepat, penanganan yang lebih tepat, dan masa depan yang lebih baik.

Di era digital ini, penyakit langka mungkin tetap jarang - tetapi tidak lagi "tak terlihat".

*Penulis: Dr. Rowland Illing menjabat sebagai Chief Medical Officer dan Director of Global Healthcare and Non-Profits untuk Amazon Web Services (AWS). Ia bertanggung jawab dalam memimpin strategi dan hubungan dengan pelanggan di sektor kesehatan dan nirlaba secara global, termasuk penyedia layanan (provider), perusahaan pembiayaan (payer), serta perusahaan teknologi kesehatan.

(afr/afr)








Hide Ads