Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Harga RAM Mulai Turun, Tapi Krisis Masih Belum Kelar

Harga RAM Mulai Turun, Tapi Krisis Masih Belum Kelar


Panji Saputro - detikInet

RAM PC
Ilustrasi RAM PC. Foto: Sweetwater
Jakarta -

Kenaikan harga RAM tampaknya telah mencapai puncaknya. Kini harganya telah turun, meskipun hanya sedikit.

Penurunan ini sepertinya merupakan respon terhadap TurboQuant, algoritma baru dari Google yang diklaim perusahaan dapat melongsorkan biaya memori hingga enam kali lipat. Masalah OpenAI dalam penggalangan dana pun turut dinilai berkontribusi pada penurunan harga.

Seperti yang dilaporkan oleh PC Gamer, Kamis (2/4/2026), RAM Corsair Vengeance RGB DDR5-6000 32 GB kit menjadi salah satu yang harganya naik dan turun. Produk ini adalah set RAM yang tiga tahun lalu dibanderol USD 90 atau sekitar Rp 1,5 juta.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Saat krisis melanda, barang tersebut mengalami lonjakan harga di kisaran USD 400. Sementara penawaran tertingginya mencapai USD 440.

Harga perangkat ini pun berfluktuasi di sekitar angka tersebut hingga awal Maret 2026. Setelah itu, harganya turun menjadi USD 370.

ADVERTISEMENT

Itu merupakan penurunan yang signifikan dari harga tertingginya ya. Meskipun belum mendekati harga wajarnya, perubahan yang terjadi saat ini bisa menjadi penghematan bagi gamer.

Namun produk DDR5 dari Corsair tampaknya memang jauh lebih murah daripada kebanyakan modul memori lainnya, yang disinyalir menjadi faktor utama di balik beberapa laporan ini. Namun, jika melihat harga dari produsen lain, gambarannya menjadi kurang menggembirakan.

Sayang, walaupun akhirnya harga RAM sedang berupaya kembali ke tingkat normalnya, krisis yang terjadi sekarang masih belum selesai. Kelihatannya untuk bisa mencapai ke sana perjalanannya masih cukup jauh.

Diberitakan sebelumnya, SK Hynix memperkirakan industri semikonduktor masih akan menghadapi ketidakseimbangan pasokan dan permintaan sampai 2030.

Chairman SK Group, Chey Tae-won, menyebut kondisi rantai pasok memori dan chip silikon tidak akan kembali normal dalam waktu dekat. Ia memprediksi kekurangan pasokan bisa berlangsung hingga 2030.

Pernyataan ini disampaikan di sela acara NVIDIA GTC 2026 di San Jose, Amerika Serikat. Dalam kesempatan tersebut, ia mengakui industri belum mampu memenuhi lonjakan permintaan, terutama dari perusahaan teknologi besar dan proyek data center AI.

Belum lagi faktor geopolitik turut memperburuk situasi. Ketegangan global dan gangguan rantai pasok, termasuk insiden pada fasilitas gas helium--komponen penting dalam produksi chip--menambah ketidakpastian.

Dalam kondisi ini, pelaku industri diperkirakan masih harus menghadapi periode panjang keterbatasan pasokan, seiring permintaan AI yang terus meningkat.




(hps/rns)
TAGS




Hide Ads