Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Senjata Mematikan AS yang Diklaim Bisa Bikin Iran Habis

Senjata Mematikan AS yang Diklaim Bisa Bikin Iran Habis


Tim - detikInet

Ilustrasi Bendera Iran dan Amerika
Foto: Ilustrasi Bendera Iran dan Amerika (Dok. Chat Gpt)
Jakarta -

Perusahaan teknologi pertahanan Amerika Serikat, Anduril, mengembangkan headset augmented reality (AR) yang diklaim andal di medan perang. Teknologi untuk militer ini disebut bisa bikin negara-negara rival AS seperti Iran sampai China ketar-ketir.

Protipe headset super canggih ini dikembangkan bersama Meta Platforms miliknya Mark Zuckerberg. Ada berbagai kelebihan dari headset ini seperti memerintahkan serangan drone hanya melalui pelacakan mata dan perintah suara.

VP Anduril, Quay Barnett, mengambil peran sebagai pemimpin upaya ini. Ia pernah berkarir di Komando Operasi Khusus Angkatan Darat AS.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Barnett mengatakan, tujuan fundamental dari senjata ini adalah mengoptimalkan visi 'manusia sebagai sistem senjata', visi yang terinspirasi konsep cyborg.

ADVERTISEMENT

Melansir MIT Technology Review, Barnett ingin drone dan tentara terintegrasi dalam operasi militer, berbagi informasi tanpa hambatan, dan membuat keputusan sebagai satu kesatuan.

Lebih lanjut, Anduril memiliki dua proyek mirip-mirip yang sedang dikerjakan. Pertama ada Soldier Born Mission Command (SBMC) Angkatan Darat, di mana perusahaan tersebut memenangkan kontrak prototipe senilai USD 159 juta pada 2025 lalu untuk bekerja sama dengan Meta.

Di lain sisi, Anduril juga telah memulai proyek sampingan yang didanai sendiri yakni 'EagleEye'. Proyek ini diumumkan pada Oktober 2025.

EagleEye adalah sesuatu yang belum diminta militer AS, tetapi Anduril yakin militer AS akan lebih menyukainya. Sejauh ini, kedua sistem senjata tersebut masih membutuhkan waktu bertahun-tahun pengembangan, bahkan diperkirakan hingga 2028.

Bukan cuma Anduril

Anduril bukan satu-satunya yang bersaing untuk mengembangkan headset pintar untuk perang. Rivet ialah perusahaan yang mengkhususkan diri dalam sensor yang dapat dikenakan untuk militer dan telah menerima kontrak prototipe senilai USD 195 juta pada waktu yang sama.

Lalu pada Maret 2026, perusahaan teknologi pertahanan Israel, Elbit, menerima kontrak senilai USD 120 juta.

Awal muasal terjadinya hal ini adalah karena Microsoft kehilangan peran dalam memimpin upaya headset pintar Angkatan Darat AS. Ada audit Pentagon yang menemukan bahwa Angkatan Darat AS tidak menguji kacamata tersebut dengan benar dan dapat menyebabkan pemborosan USD 22 miliar.

Untuk kedua prototipe Anduril, perusahaan tersebut sedang menguji sistem baru untuk penglihatan malam digital, yang menggunakan sensor elektronik dan algoritma untuk meningkatkan tingkat cahaya rendah.

Untuk inisiatif Angkatan Darat AS, rangkaian headset pintar, penglihatan malam, dan sensor ini akan dipasang pada helm dan perlengkapan lain yang sudah dikenakan tentara, dengan paket baterai terpisah. Versi EagleEye justru akan mengintegrasikan teknologi tersebut ke dalam helm itu sendiri.

Upaya militer AS untuk berkolaborasi dengan raksasa teknologi pertahanan membuktikan bahwa AS semakin serius dalam perang. Misalnya dengan Iran yang hingga kini masih terlibat konflik berkepanjangan dengan AS dan Israel.

AS juga memiliki musuh bebuyutan lain, yakni China dan Korea Utara, meski belum terlibat dengan perang militer aktif seperti di Timur Tengah. Sementara itu, Rusia juga menjadi musuh lama AS yang tengah berperang dengan sekutunya, Ukraina.

Kendati demikian, Anduril tak hanya menargetkan militer AS sebagai klien satu-satunya. Jka Angkatan Darat AS pada akhirnya tidak menyukai EagleEye, kata Barnett, Anduril akan mencoba menjual sistem tersebut kepada militer asing. Demikian dirangkum dari CNBC Indonesia.

Saksikan Live DetikSore :




(ask/ask)






Hide Ads
LIVE