Amasia, Benua Baru Gabungan Amerika dan Asia

Amasia, Benua Baru Gabungan Amerika dan Asia

ADVERTISEMENT

Amasia, Benua Baru Gabungan Amerika dan Asia

Rachmatunnisa - detikInet
Kamis, 06 Okt 2022 05:45 WIB
Benua Amasia
Amasia, Benua Baru Gabungan Amerika dan Asia. Foto: IFL Science
Jakarta -

Berdasarkan sejarah geologis, Bumi selama 2 miliar tahun terakhir adalah benua-benua yang bersatu, kemudian pecah setiap 600 juta tahun atau lebih. Karenanya, di masa depan mungkin saja terjadi penggabungan kembali benua yang terpisah, contohnya benua Amerika dan Asia menjadi Amasia.

Ahli geologi telah lama memperdebatkan apakah Amasia akan terbentuk ketika pantai barat Amerika bertemu dengan Asia, atau jika pantai timur mereka akan bergabung kembali dengan Eropa dan Afrika.

Sebuah studi baru menyimpulkan bahwa perubahan mendasar telah terjadi jauh di dalam Bumi. Jadi, hanya skenario sebelumnya yang mungkin bisa terjadi lagi.

Penggabungan benua membuat sebagian besar dunia diliputi oleh satu samudra luas dan ada beberapa pulau di sampingnya. Selama masa Pangea, benua super universal terakhir, ini dikenal sebagai Panthalassa.

Begitu benua mulai pecah, dunia memiliki dua atau lebih perairan besar. Wilayah internal dikelilingi daratan yang menyebar, sedangkan wilayah eksternal menjadi tempat benua bergerak. Samudra Atlantik dan Hindia adalah sisa-sisa laut dalam sebelumnya, sedangkan Pasifik adalah wilayah yang menjadi Panthalassa, melalui laut luar.

Superkontinen baru dapat terbentuk dengan penutupan lautan internal atau eksternal. Setidaknya itulah yang dikatakan Profesor Zheng-Xiang Li dari Curtin University di masa lalu.

Kini, Bumi telah mencapai titik di mana hanya lautan eksternal yang dapat menutup. Dalam penelitian yang diterbitkan di National Science Review, Li dan rekan penulis menyimpulkan bahwa kehancuran Pasifik tak terhindarkan.

"Atlantik saat ini tumbuh dengan kecepatan beberapa sentimeter per tahun, sementara Pasifik menyusut dengan kecepatan yang sama, sehingga mudah untuk memperkirakan penutupan dari apa yang sekarang menjadi cekungan laut terbesar di dunia," kata Li seperti dikutip dari IFL Science, Kamis (6/10/2022).

Sebelumnya, ahli geologi telah melakukan penelitian serupa dan karenanya muncul istilah Amasia. Mereka memperkirakan, perlu waktu 280 juta tahun untuk membentuk superbenua Amasia dari potongan Pangea dengan kecepatan saat ini.

Namun, di masa lalu, proses semacam itu terkadang berbalik, yakni benua-benua bersatu kembali, untuk menutup lagi samudra bagian dalam.

Pemodelan penulis menunjukkan, pergerakan benua sangat bergantung pada kekuatan kerak samudra di antara mereka. Hanya ketika keraknya kuat, benua dapat berubah arah dan bersatu kembali melintasi lautan internal muda.

Secara berlawanan, saat mantel mendingin, kerak samudra yang terbentuk di atasnya menjadi lebih tipis dan karenanya lebih lemah.

Li dan timnya menemukan bahwa sekitar 540 juta tahun yang lalu, suhu Bumi cukup dingin sehingga kerak Bumi melemah ke titik di mana pembalikan seperti ini tidak bisa lagi terjadi. Oleh karena itu, Amasia dan semua superbenua di masa depan akan terbentuk melalui perjalanan melintasi samudra luar.

Seiring dengan perjalanan Amerika ke barat dan migrasi Asia ke timur, Australia akan bergerak ke utara hingga bertabrakan dengan Indonesia, dan terbawa ke tempat yang sekarang disebut Pasifik Selatan.

Antartika telah lama berlabuh di dasar dunia, tetapi Li mengatakan bahwa pergerakannya di masa depan sulit diprediksi. Namun demikian, dia menganggap kemungkinan besar Antartika juga akan bergerak ke Pasifik, menambahkan bahwa zona yang dapat diubahnya tampaknya sudah terbentuk menuju Selandia Baru.

Beberapa prediksi sebelumnya telah memperkirakan Amasia akan berkumpul di sekitar Kutub Utara, menciptakan lapisan es yang sangat besar dan mendinginkan planet ini. Namun menurut Li, garis lintang benua yang lebih besar tidak mungkin berubah. Itu tidak berarti Bumi akan tetap ramah seperti selama evolusi kita.

"Bumi seperti yang kita tahu akan sangat berbeda ketika Amasia terbentuk. Permukaan laut diperkirakan akan lebih rendah, dan interior superbenua yang luas akan sangat gersang dengan kisaran suhu harian yang tinggi," kata Li.



Simak Video "Begini Nasib Bumi 300 Juta Tahun Lagi"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/fay)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT