Misteri Migrasi Manusia Modern ke Papua 50 Ribu Tahun Lalu

ADVERTISEMENT

Misteri Migrasi Manusia Modern ke Papua 50 Ribu Tahun Lalu

Rachmatunnisa - detikInet
Selasa, 02 Agu 2022 18:11 WIB
Manusia purba
Foto: Gludhug A. Purnomo
Jakarta -

Migrasi populasi manusia modern ke Pulau Papua telah terjadi sejak 50 ribu tahun lalu dengan menyeberangi pulau-pulau di zona Wallacea. Namun karena minimnya peninggalan arkeologis, penghunian setelahnya belum banyak diketahui dan masih menjadi misteri.

Dijelaskan Gludhug A Purnomo, kandidat Phd Adelaide University Australia, sekitar 50-60 ribu tahun lalu, daratan Papua dan Australia masih bergabung, dinamakan paparan Sahul (Australia and New Guinea). Di seberang paparan Sahul, ada Sundaland atau paparan Sunda (SE Asia dan Island SE Asia). Kemudian di antara keduanya, ada yang namanya zona Wallacea.

"Ada daerah yang tidak menjadi bagian Sahul maupun Sunda, bernama zona Wallacea, dan ini menjadi geographical barrier. Flora dan fauna di wilayah ini tentu berbeda dan menarik. Menjadi pertanyaan bagaimana dengan kehidupan manusianya di masa itu," ujar Gludhug dalam webinar "Menyingkap Misteri Asal Usul Leluhur Kita" yang diadakan BRIN dan MRIN, Selasa (2/8/2022).

Wilayah Wallacea yang meliputi Sulawesi, Kepulauan Maluku dan Maluku Utara, serta Nusa Tenggara Timur diketahui sebagai pulau-pulau yang tidak pernah bergabung dengan daratan besar.

Zona kepulauan yang dikelilingi perairan purba ini memisahkan Sundaland, yaitu Sumatra, Jawa dan Kalimantan yang menyatu dengan daratan Asia, dengan Paparan Sahul meliputi Papua dan Australia yang masih menyatu saat permukaan laut mencapai titik terendah sekitar 50 ribu tahun lalu.

Berdasarkan kajian genetika yang dilakukan Gludhug, terjadi perubahan pola genetik yang ekstensif di zona Wallacea sekitar 15 ribu tahun lalu dan 3 ribu tahun lalu, karena kedatangan kelompok migran baru.

Kajian tentang penghunian di Wallacea dan Papua ini dipublikasikan Gludhug dan tim internasional di jurnal Genes pada 24 Juni 2021. Gludhug menjadi penulis pertama artikel ini dan ada penulis lainnya yaitu Prof dr Herawati Sudoyo, PhD, peneliti utama Mochtar Riady Institute for Nanotechnology (MRIN).

Sejumlah bukti arkeologis di Australia telah menemukan adanya fosil manusia modern (Homo sapiens) dari Afrika berumur sekitar 50 ribu tahun. Ini memicu hipotesis bahwa pada periode itu, manusia telah menyeberangi zona Wallacea hingga ke Papua, yang saat itu masih menjadi bagian dari Paparan Sahul.

"Namun penelitian sejarah populasi di Wallacea sangat terbatas. Fokus kami saat ini di zona Wallace yang meliputi Sulawesi, Maluku, Aru, dan lain-lain," ujarnya.

Prof dr Herawati Sudoyo, PhD menyebutkan, pendekatan paleogenomik bisa membantu mengungkap mistri ini. Paleogenomik adalah bidang ilmu yang mempelajari materi genetik yang berasal dari sisa-sisa peninggalan organisme purba di masa lampau.

Menurut Herawati, rekonstruksi sejarah pemukiman pulau-pulau di Indonesia menggunakan pendekatan genetik akan membantu menyimpulkan waktu kedatangan, ukuran populasi, dan sejarah fluktuasi, serta pola migrasi dan tingkat pencampuran yang dihasilkan.

"Dengan data genomik kita dapat gambaran percampuran genomic, melihat spasial dan region yang lebih besar dari kepulauan Nusantara. Kita juga bisa membandingkannya dengan data-data non genomik seperti bahasa, arkeologi dan sejarah. Kita bisa mempelajari banyak hal mengenai dampak dari proses pencampuran tersebut," sebutnya.

Studi Gludug dan timnya menemukan adanya sejarah populasi yang dinamis di Wallacea, ditandai dengan dua periode perubahan demografis yang ekstensif terkonsentrasi di sekitar Maksimum Glasial Terakhir sekitar 15 ribu tahun lalu dan kontak pasca-Austronesia sekitar 3 ribu tahun lalu.

Temuan ini, menurut Gludug menunjukkan adanya tiga gelombang penghunian di kawasan Wallacea. Pertama, saat migrasi 50.000 tahun lalu, yang sebagian kemudian melanjutkan perjalanan ke Papua dan Australia. Kedua, periode sekitar 15 ribu tahun lalu, dan ketiga sekitar 3 ribu tahun lalu. Dia juga menyebut ada kemungkinan adanya migrasi balik dari Papua ke Wallacea.

"Ditemukan pula adanya bauran Austronesia pada populasi Papua saat ini, contohnya di Sorong, Papua Barat yang memiliki bauran genetika Austronesia sekitar 40% dan di Keerom sekitar 6%." jelasnya.



Simak Video "Belajar Sejarah dari Pameran Kampung Purba"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/fay)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT