Apa Itu Gigi Emas? Suku Maya Tanam Gigi Permata!

Apa Itu Gigi Emas? Suku Maya Tanam Gigi Permata!

ADVERTISEMENT

Apa Itu Gigi Emas? Suku Maya Tanam Gigi Permata!

Rachmatunnisa - detikInet
Kamis, 26 Mei 2022 20:15 WIB
Gigi permata
Foto: Wikimedia Commons
Jakarta -

Kedokteran gigi modern bisa belajar sesuatu dari kebiasaan orang-orang suku Maya zaman kuno menempelkan batu permata di gigi mereka. Supaya apa ya?

Ternyata, batu-batu itu bukan sekadar hiasan. Perekat yang digunakan oleh orang-orang suku Maya kuno untuk menempelkan batu permata di giginya, kemungkinan memiliki manfaat terapeutik, demikian menurut sebuah penelitian baru-baru ini.

Penelitian yang dipimpin oleh Gloria Hernández-Bolio dari Cinvestav, Meksiko, menemukan bahwa beberapa tambalan gigi (sealant) memiliki sifat antibakteri. Ahli biokimia dan rekan-rekannya di Universidad Autónoma de Yucatán, University of Harvard dan University of Brown, menganalisis sealant di delapan gigi yang ditemukan di situs pemakaman di seluruh kekaisaran Maya, bertanggal antara 200 dan 900 M.

Mereka mengidentifikasi 150 molekul organik yang umumnya ditemukan dalam resin tanaman dalam sampel, yang digunakan karena sifatnya yang menolak air dan seperti lem.

Penduduk asli Mesoamerika percaya bahwa napas mereka adalah penghubung kepada Dewa, sehingga mereka memoles dan mengisi gigi mereka untuk 'memurnikannya'.

Seperti dikutip dari Daily Mail, Rabu (25/5/2022) dokter atau ahli gigi mereka akan mengebor lubang melalui email gigi dan ke dalam dentin sebelum merekatkan batu permata dengan sealant yang tahan lama.

Analisis perekat sebelumnya pada tahun 1971 menemukan bahan anorganik yang mirip dengan semen, dan hidroksiapatit, mineral yang diperoleh dari gigi dan tulang giling. Ini membantu memperkuat perekat, tetapi tidak akan membuat lengket.

Gigi permataFoto: Wikimedia Commons

Hernández-Bolio menemukan bahwa banyak sealant yang menempel pada batu giok, pirus, atau pirit termasuk bahan dari pohon pinus. Penelitian menunjukkan ekstrak pohon pinus dapat melawan bakteri penyebab kerusakan gigi, dan membantu menjaga kesehatan mulut orang-orang zaman dahulu di wilayah yang sekarang disebut Guatemala, Belize, dan Meksiko.

Dua gigi menunjukkan bukti adanya sclareolide, senyawa yang ditemukan dalam tanaman Salvia yang memiliki sifat antibakteri dan antijamur. Zaman sekarang, sclareolide digunakan sebagai fiksatif aroma dalam wewangian, tetapi juga telah dipasarkan sebagai suplemen penurun berat badan.

Para ilmuwan menentukan bahwa isi sealant bervariasi berdasarkan lokasi, menunjukkan bahwa praktisi lokal mengembangkan resep mereka sendiri. Perekat batu dari daerah Copán luar, dekat perbatasan Honduras dan Guatemala, termasuk minyak esensial dari tanaman mint yang berpotensi memiliki efek anti-inflamasi.

"Setiap bahan memiliki tugas khusus. Orang Maya masih menggunakan tanaman ini untuk tujuan pengobatan di zaman sekarang, jadi orang zaman kuno mungkin sudah menyadari efeknya," kata Hernández-Bolio.

Raja Maya Palenque, Kʼinich Janaabʼ Pakal, diperkirakan meninggal pada tahun 612 M pada usia 80 tahun dengan semua giginya masih utuh dan tidak ada tanda-tanda pembusukan.

Namun informasi lain menyebutkan, seorang raja mudah mendapatkan makanan yang lebih lembut dan tidak terlalu abrasif dibandingkan rakyat jelata, sehingga giginya secara alami berkurang keausannya. Meski demikian, bioarcheologist dan co-penulis Vera Tiesler percaya, temuan ini juga bisa menjadi bukti perawatan gigi suku Maya yang sangat baik.



Simak Video "Wujud Harta Arkeologi Langka yang Ditemukan di Gaza"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/fay)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT