Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Sutradara 'Pelangi di Mars': Anak Indonesia Perlu Mimpi Besar Lagi

Sutradara 'Pelangi di Mars': Anak Indonesia Perlu Mimpi Besar Lagi


Adi Fida Rahman - detikInet

Upie Guava - Sutradara
Sutradara 'Pelangi di Mars': Anak Indonesia Perlu Mimpi Besar Lagi. Foto: Adi FR/detikINET
Jakarta -

Sutradara Upie Guava memiliki alasan khusus di balik pembuatan film sci-fi Pelangi di Mars. Baginya, film ini bukan sekadar proyek hiburan, melainkan upaya menghidupkan kembali imajinasi anak-anak Indonesia tentang masa depan.

Upie mengaku generasinya dulu tumbuh dengan literasi yang mendorong anak-anak untuk bermimpi besar. Banyak anak terinspirasi dari karakter seperti Tintin, Indiana Jones, hingga astronaut yang menjelajah luar angkasa.

"Kita dulu membaca Tintin dan ingin menjadi wartawan yang menjelajahi dunia. Menonton Indiana Jones dan ingin jadi arkeolog. Banyak anak bermimpi menjadi ilmuwan atau astronaut," ujar saat ditemui di Jakarta.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

ADVERTISEMENT

Namun kini ia melihat perubahan pada generasi baru. Banyak anak yang ketika ditanya cita-citanya justru menjawab ingin menjadi YouTuber atau gamer.

Menurut Upie, bukan profesinya yang menjadi masalah, tetapi alasan di baliknya. Ia merasa banyak anak melihat masa depan orang dewasa sebagai sesuatu yang kurang menyenangkan.

"Saya merasa ada sesuatu yang hilang dalam literasi masa kecil kita," katanya.

Upie Guava - GuavaUpie Guava - Sutradara Foto: Apple

Karena itulah ia ingin membuat cerita yang dapat menginspirasi anak-anak untuk membayangkan masa depan yang lebih besar.

Film Pelangi di Mars sendiri bercerita tentang seorang anak Indonesia bernama Pelangi, anak pertama yang lahir di Mars. Dia memulai sebuah petualangan bersama robot-robot sahabatnya untuk mencari Zeolit Omega, sebuah mineral langka yang mungkin dapat menyelamatkan Bumi.

Upie berharap tokoh seperti Pelangi dapat menjadi referensi baru bagi generasi muda. "Bangsa besar terbentuk dari mimpi anak-anaknya," tegasnya.

Ia juga menyinggung bahwa Indonesia sebenarnya pernah memiliki tradisi cerita sci-fi dan fantasi yang kuat, terutama melalui komik pada era 1960 hingga 1980-an. Sayangnya, tradisi tersebut perlahan menghilang.

Sementara di negara lain, literasi seperti ini terus berkembang. Amerika memiliki banyak film luar angkasa, sementara Jepang memiliki karya seperti Gundam yang membentuk imajinasi generasi mudanya.

Melalui Pelangi di Mars, Upie ingin kembali menghadirkan cerita futuristik dengan tokoh Indonesia sebagai pusatnya. Setelah lima tahun proses produksi, film ini akhirnya selesai.

Bagi Upie, momen paling membahagiakan adalah ketika melihat anak-anak menonton film tersebut dan menumbuhkan mimpi mereka.

"Saat itu saya merasa semua kerja keras ini benar-benar punya arti," ujarnya.

Film Pelangi di Mars akan mulai diputar secara terbatas sebelum rilis resmi pada tanggal 18.




(afr/afr)






Hide Ads