Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Misteri Monumen Raksasa Yonaguni di Bawah Laut Jepang

Misteri Monumen Raksasa Yonaguni di Bawah Laut Jepang


Aisyah Kamaliah - detikInet

Monumen Yonaguni
Monumen Yonaguni. Foto: Ancient Origins
Jakarta -

Pada 1986, seorang penyelam bernama Kihachiro Aratake menyusuri pesisir Yonaguni, pulau paling barat di Jepang. Dia pun menemukan struktur raksasa sekitar 25 meter di bawah permukaan laut.

Aratake, direktur sebuah asosiasi pariwisata lokal, melihat formasi batuan berbentuk persegi panjang dan seperti piramida, dengan tampilan seperti ada tangga yang dipahat di dalamnya.

"Sekitar 35 tahun yang lalu, saat saya sedang mencari titik penyelaman, saya menemukannya secara kebetulan," kata Aratake kepada BBC pada tahun 2022.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

ADVERTISEMENT

"Saya sangat emosional ketika menemukannya. Setelah menemukannya, saya menyadari bahwa ini akan menjadi harta karun Pulau Yonaguni," ujarnya, sebagaimana dikutip detikINET dari IFL Science, Rabu (11/3/2026).

Aratake percaya bahwa struktur tersebut mungkin dibuat oleh manusia purba, dan menghubungi para ilmuwan di Universitas RyΕ«kyΕ«s untuk penyelidikan lebih lanjut. Penemuan tersebut memunculkan beberapa hipotesis yang lebih aneh tentang pembentukannya.

Masaaki Kimura, seorang ahli biologi kelautan di RyΕ«kyΕ«s, dalam bukunya Mu Tairiku Wa Ryukyu ni Atta (Benua Mu berada di Ryukyu, 1997) mengemukakan bahwa daerah tersebut sebenarnya adalah benua Mu yang hilang, nama alternatif untuk benua hipotetis Lemuria.

Yang lain berpendapat bahwa struktur tersebut mungkin dibuat 10.000-14.000 tahun yang lalu, menempatkannya berpotensi sebelum peradaban mana pun yang diketahui mampu menciptakan monumen seperti itu. Jelas, ini pun akhirnya dikaitkan dengan Atlantis. Namun, semakin klaimnya besar, maka dibutuhkan pula bukti yang besar.

Alam, terlepas dari klaim yang bertentangan, memang menghasilkan beberapa fitur dan struktur menarik yang tampak terlalu sempurna secara geometris untuk menjadi alami. Contohnya sudah ada seperti kolom heksagonal Giant's Causeway di Irlandia atau heksagon kutub Saturnus.

"Saya tidak yakin bahwa salah satu fitur atau struktur utama adalah tangga atau teras buatan manusia, tetapi semuanya alami," pendapat Robert Schoch, profesor sains dan matematika di Boston University, yang melakukan penyelaman di lokasi tersebut, kepada National Geographic.

"Ini adalah geologi dasar dan stratigrafi klasik untuk batu pasir, yang cenderung pecah di sepanjang bidang dan memberi Anda tepi yang sangat lurus, terutama di daerah dengan banyak patahan dan aktivitas tektonik," sambungnya.

Schoch menuturkan, semakin dia membandingkan fitur pelapukan dan erosi alami yang diamati di pantai modern pulau itu dengan karakteristik struktural Monumen Yonaguni, semakin ia yakin bahwa Monumen Yonaguni merupakan hasil dari proses geologi dan geomorfologi alami.

"Di permukaan, saya juga menemukan cekungan dan rongga yang terbentuk secara alami yang tampak persis seperti 'lubang tiang' yang diduga oleh beberapa peneliti yang telah memperhatikan Monumen Yonaguni di bawah laut," tambahnya.

Konsensusnya adalah bahwa Monumen Yonaguni sebenarnya adalah formasi alami. Tetapi dengan banyaknya hiu di daerah tersebut, dan monumen itu sendiri merupakan pemandangan yang cukup aneh, tempat ini tetap menarik banyak wisatawan. Bahkan jika itu bukan sisa-sisa Atlantis Jepang yang tenggelam, tempat ini tetap merupakan salah satu daerah yang sangat keren.




(ask/fay)






Hide Ads