Awan Terdingin Dunia Melayang di Atas Samudera Pasifik

Awan Terdingin Dunia Melayang di Atas Samudera Pasifik

Rachmatunnisa - detikInet
Kamis, 01 Apr 2021 15:40 WIB
awan dingin
Badai di dekat Nauru pada 29 Desember 2018 ditangkap dalam inframerah oleh satelit yang mengorbit. Bagian awan yang dingin berwarna ungu dan Samudra Pasifik yang hangat berwarna jingga. Foto: National Centre for Earth Observation
Jakarta -

Ilmuwan mendeteksi kemunculan awan terdingin di dunia melayang di atas Samudera Pasifik. Studi menyebutkan, awan badai petir yang terbentuk di atas Samudra Pasifik pada 2018 itu mencapai suhu terdingin yang pernah tercatat.

Dalam studi yang dipublikasikan di jurnal ilmiah Geophysical Research Letters, para peneliti mencatat bahwa bagian paling atas dari awan badai ini mencapai suhu minus 111 derajat celcius, lebih dingin dari awan badai mana pun yang diukur sebelumnya.

Badai petir dan siklon tropis, badai melingkar bertekanan rendah, dapat mencapai ketinggian yang sangat tinggi hingga 18 kilometer dari permukaan tanah sehingga udaranya jauh lebih dingin.

Namun, catatan suhu baru ini berada di level lain. Puncak awan badai itu disebutkan sekitar 30 derajat celcius lebih dingin dari awan badai biasa. Badai itu disebut menjulang sekitar 400 km di selatan Nauru di Pasifik Barat Daya pada 29 Desember 2018, dan suhu awannya diambil oleh sensor inframerah di atas satelit NOAA-20 AS yang mengorbit Bumi.

Badai biasanya menyebar menjadi bentuk landasan ketika mencapai puncak troposfer, lapisan terendah atmosfer Bumi. Tetapi jika memiliki banyak energi, badai akan melesat ke lapisan berikutnya, stratosfer. Fenomena ini, yang dikenal sebagai overshooting top, mendorong awan badai ke ketinggian yang sangat tinggi, di tempat yang sangat dingin.

"Overshooting top sebenarnya cukup umum. Biasanya puncak overshooting mendingin sekitar 7 derajat celcius untuk setiap kilometer yang naik di stratosfer," kata penulis utama penelitian ini, Simon Proud, peneliti National Centre for Earth Observation dari Oxford University," dikutip dari Live Science, Kamis (1/4/2021).

Namun dikatakannya, badai ini sangat ekstrem karena mencapai suhu yang belum pernah terjadi sebelumnya yang mendorong batas dari apa yang mampu diukur oleh sensor satelit saat ini.

"Kami menemukan bahwa suhu yang sangat dingin tampaknya menjadi lebih umum," ujarnya.

Dalam tiga tahun terakhir, para ilmuwan telah mencatat jumlah suhu yang sangat dingin di awan dengan jumlah yang sama seperti yang mereka lakukan dalam 13 tahun sebelumnya.

"Ini penting, karena badai petir dengan awan yang lebih dingin cenderung lebih ekstrem dan lebih berbahaya bagi orang-orang di darat karena disertai hujan es, kilat, dan angin," ujarnya memperingatkan.

Badai khusus ini mungkin telah diberi energi oleh kombinasi air yang sangat hangat di wilayah tersebut dan angin yang bergerak ke timur. Namun, tidak jelas mengapa suhu yang lebih dingin di awan badai ini menjadi lebih umum terjadi.

"Kita sekarang perlu memahami apakah peningkatan ini disebabkan oleh perubahan iklim Bumi, atau apakah karena 'badai sempurna' di kondisi cuaca yang menghasilkan wabah badai ekstrem dalam beberapa tahun terakhir," kata Proud.



Simak Video "Merapi Bergejolak, Luncurkan Awan Panas 3 Kali"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/fay)