Studi: OTG Corona Sama Menularnya dengan yang Bergejala

Studi: OTG Corona Sama Menularnya dengan yang Bergejala

Rachmatunnisa - detikInet
Sabtu, 08 Agu 2020 18:30 WIB
Kemoterapi bagi pasien kanker dengan Covid-19 tidak mengandung resiko kematian
Studi: OTG Corona Sama Menularnya dengan yang Bergejala. Foto: Ilustrasi/BBC World
Jakarta -

Studi terbaru yang dilakukan terhadap lebih dari 300 pasien terinfeksi COVID-19 di Korea Selatan, menemukan fakta bahwa orang tanpa gejala (OTG) sama menularnya dengan yang bergejala.

Dikutip dari First Post, studi ini menemukan jumlah virus SARS-CoV-2 di hidung, mulut, dan paru-paru pasien COVID-19 tanpa gejala sama jumlahnya dengan pasien COVID-19 yang memperlihatkan gejala batuk dan demam.

Penelitian ini melibatkan 303 pasien dengan rata-rata usia 25 tahun yang diisolasi di fasilitas perawatan kesehatan di Cheonan, Korea Selatan.

Pasien-pasien ini langsung diisolasi sejak dideteksi positif terinfeksi virus Corona, dan dimonitor untuk mengetahui berbagai gejalanya seperti demam, batuk, dan berapa banyak virus di dahak, hidung, tenggorokan, dan paru-paru.

Berdasarkan temuan mereka yang dipublikasikan di jurnal ilmiah JAMA Internal Medicine, ditegaskan bahwa orang-orang yang terinfeksi wajib diisolasi, tak peduli seberapa lemah atau parah gejala yang ditampakkannya.

Studi ini juga menawarkan bukti dalam perdebatan konsekuensial tentang seberapa menular pasien COVID-19 asimtomatik (tanpa gejala) sebenarnya. Saat ini, sebagian besar ahli kesehatan yang menangani COVID-19 melakukannya dengan anggapan bahwa orang yang bergejala lebih menular.

"Sejak virus Corona merebak, memang ada pertanyaan besar tentang orang-orang yang asimtomatik atau tanpa gejala. Belum ada petunjuk yang benar-benar jelas mengenai peran orang yang asimtomatik dalam penularan penyakit ini," kata Jason Kindrachuk, ahli virus di University of Manitoba.

Mengingat OTG membawa jumlah virus yang sama banyaknya dengan pasien COVID-19 bergejala, artinya para OTG ini sama menularnya. Temuan ini punya konsekuensi penting untuk merevisi pedoman dan pembuatan kebijakan seputar transmisi dan pencegahan COVID-19.

"Kekuatan sebenarnya dari penelitian ini adalah, mereka memiliki jumlah pasien (yang diteliti) sangat besar, dan mereka memiliki tindak lanjut yang sangat baik," komentar Marta Gaglia, ahli virologi dari Tufts University di Massachusetts.

Penemuan studi terbaru COVID-19 ini juga menekankan pentingnya meningkatkan pengujian dan pelacakan kontak sehingga OTG dapat mengisolasi diri lebih cepat untuk menghentikan rantai penularan.



Simak Video "Retno Marsudi: Indonesia Akan Dapat Vaksin Corona 20% dari Populasi"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/rns)