'Permintaan Tinggi, Harga Vaksin Corona Diperkirakan Meroket'

'Permintaan Tinggi, Harga Vaksin Corona Diperkirakan Meroket'

Agus Tri Haryanto - detikInet
Kamis, 11 Jun 2020 07:41 WIB
Otoritas Thailand telah mengembangkan vaksin untuk virus Corona. Vaksi yang dikembangkan sendiri oleh negara ini akan siap pada tahun depan.
Ilustrasi vaksin Corona. Foto: AP/Sakchai Lalit
Jakarta -

Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (Menristek/ Kepala BRIN) Bambang Brodjonegoro, memperkirakan harga vaksin COVID-19 yang dikembangkan oleh perusahaan dari berbagai negara akan meroket.

Hal itu tak terlepas dari permintaan tinggi dengan suplai vaksin yang belum mencukupi. Bambang mengatakan, itu menjadi tantangan bagi Indonesia perlu mengimunisasi paling tidak 130 juta penduduk (setengah dari total populasi) hingga 170 juta penduduk (dua pertiga populasi).

"Saya yakin meskipun nanti ada beberapa perusahaan yang menemukan vaksin, meskipun mereka mengklaim bisa memproduksi satu miliar ampul setahun. Kalau Bio Farma itu ratusan juta kapasitas produksinya setahun. Kita tidak ada jaminan Indonesia akan langsung bisa mendapatkan atau kalaupun kita bisa membeli langsung, ada kemungkinan harganya tidak bisa harga yang normal," tuturnya dalam telekonferensi.

Bambang menjelaskan, dalam kondisi pandemi di mana hukum demand dan supply yang normal tidak bisa karena sisi demand luar biasa besar, sisi supply sangat terbatas.

"Kita bisa bayangkan kalau kita hanya membeli maka harganya itu bisa melonjak apalagi kalau terlambat dalam membeli," ungkapnya.

Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek) bersama pihak terkait telah membentuk Tim Pengembangan Vaksin COVID-19.

"Tujuannya adalah kita ingin mendapatkan vaksin dalam waktu relatif cepat agar tidak tertinggal dibanding negara lain. Kemudian kita juga mengembangkan vaksin dari Indonesia sendiri yang kita harapkan akan efektif terutama untuk virus yang beredar di Indonesia," ujar Bambang.

Pengembangan vaksin untuk strain virus COVID-19 dalam negeri juga diperlukan karena berdasarkan whole genome sequencing atau pengurutan menyeluruh dari gen virus yang ada di Indonesia, strain virus COVID-19 yang menyebar masuk dalam tiga belas strain virus.

Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman saat ini sudah mengumpulkan tujuh whole genome sequencing dari COVID-19 di Jabodetabek dan Universitas Airlangga (Unair) sudah mengumpulkan enam whole genome sequencing dari episentrum atau pusat wabah COVID-19 di Surabaya dan sekitarnya.

Dari total tiga belas whole genome sequencing ini, baru dua strain yang diidentifikasi sebagai strain COVID-19 yang beredar di Eropa. Sebelas strain sisanya masih dilabeli others atau masih belum masuk kategori yang dikenali oleh GISAID, yaitu bank data influenza dan coronavirus dunia.

"Indonesia baru menyampaikan kira-kira tiga belas whole genome sequencing. Itu karakter dari virus. Dari tiga belas yang sudah disubmit, tujuh oleh Eijkman dan enam dari Unair. Itu berarti tujuh dari Jabodetabek. Enam dari Surabaya yang sekarang menjadi salah satu episentrum dari jenis virus tersebut," papar Menristek.

"Kita semuanya submit kepada GISAID. GISAID ini semacam bank data influenza di dunia. Analisis mereka adalah mereka sekarang sudah punya enam kategori untuk virus COVID-19 di seluruh dunia. Kemudian yang tidak masuk enam sementara diklasifikasikan sebagai others," terang Bambang.

Dari tiga belas yang dimasukkan dari Indonesia: tujuh dari Eijkman dan enam dari Airlangga, sebelas kategorinya masih others. Artinya masih di luar enam kategori yang didefinisikan oleh GISAID. Sebelas masih others, dua kategorinya strain Eropa. Dua Eropa ini datang dari Surabaya.

"Ada sedikit perbedaan antara virus yang berkembang yang di Surabaya dan yang di Jabodetabek. Tentunya ini akan berpengaruh terhadap vaksin yang akan dibuat," pungkas Bambang.



Simak Video "Memahami Rangkaian Tahapan Pembuatan Vaksin COVID-19"
[Gambas:Video 20detik]
(agt/fay)