Selasa, 01 Okt 2019 16:47 WIB

Truecaller Ungkap Grup WA Anak STM, di Luar Negeri Malah Diselidiki

Fino Yurio Kristo - detikInet
Aplikasi Truecaller. Foto: Livemint Aplikasi Truecaller. Foto: Livemint
Nigeria - Pemerintah Nigeria tengah menginvestigasi layanan Truecaller terkait potensi pelanggaran privasi. Truecaller dinilai melanggar aturan Nigeria Data Protection Regulation.

Otoritas menyebut Trucaller secara berlebihan mengumpulkan data user dan membagikannya dengan pengiklan pihak ketiga tanpa sepengetahuan user. Bahkan mereka memperingatkan pada warga Nigeria agar tidak memakainya.

Jikalaupun menggunakan, sebaiknya tidak membiarkan nama atau nomor teleponnya dimasukkan dalam fungsionalitas Enhanced Search atau Name Search. Di Nigeria sendiri, ada sekitar 7 juta pengguna TrueCaller.


National Information Technology Agency (NITDA) menyebut Truecaller mengumpulkan terlalu banyak data dengan dalih agar aplikasinya berfungsi. Selain itu, seharusnya mereka menginformasikan pada user soal pembagian data ke pihak ketiga sekaligus alasannya.

Ketika dihubungi, pihak Truecaller menyebut sedang mendalami pernyataan NITDA. "Kami ingin menjamin user kami di Nigeria dan juga di ranah global bahwa privasi user merupakan hal terpenting bagi Truecaller," kata mereka.

"Kami dalam proses melakukan review terhadap komentar yang dilayangkan oleh NITDA dan akan memberikan lebih banyak informasi dalam waktu dekat," tambah Truecaller.

Truecaller mengenalkan dirinya sebagai aplikasi caller ID, di mana mereka mempunyai database nomor telepon lengkap dengan 'nama' pemilik nomor telepon tersebut. Data tersebut berasal dari daftar kontak 150 juta pengguna aktif harian yang dikumpulkan oleh Truecaller.

Sejatinya, fungsi aplikasi asal Swedia ini berguna untuk menghindari telepon-telepon yang tak diinginkan, misalnya penawaran kartu kredit atau asuransi. Yaitu dengan mengandalkan orang lain yang sudah menandai nomor telepon yang sama dengan label spam.

Di Indonesia, namanya mendadak jadi buah bibir karena dipakai untuk mengungkap broadcast grup WA anak STM, terkait aksi rusuh di DPR. Netizen meragukan grup whatsapp itu asli, karena ketika nomor-nomor telepon itu diuji pakai Truecaller yang keluar adalah diduga anggota Polri.

Sementara itu Polri membantah jika polisi terkait dengan rekayasa grup WA anak STM. Saat dikonfirmasi ke Polri, Karo Penmas Divisi Humas Mabes Polri Brigjen Dedi Prasetyo menyebut, apa yang ada di media sosial sebagian besar anonim. Polisi masih akan mendalami informasi tersebut.

"Belum bisa dipastikan. Kalau itu anggota polisi pun itu belum bisa dipastikan, betul itu anggota polisi atau tidak. Dan narasinya saya belum baca. Ada unsur pidananya nggak, nanti jajaran multimedia akan menbuat literasi digital kepada masyarakat agar masyarakat bisa cerdas dalam menggunakan media sosial," ujarnya.

Truecaller Ungkap Grup WA Anak STM, di Luar Negeri Malah Diselidiki


Simak Video "Mengenal Aplikasi Truecaller yang Viral Karena 'Grup WA Anak STM'"
[Gambas:Video 20detik]
(fyk/fay)