Kebocoran Data Marak Lagi, Kominfo Didesak Bertindak

Kebocoran Data Marak Lagi, Kominfo Didesak Bertindak

Agus Tri Haryanto - detikInet
Senin, 02 Nov 2020 10:41 WIB
FORT LAUDERDALE, FL - MARCH 07:  Lt. Mike Baute from Floridas Child Predator CyberCrime Unit talks with people on instant messenger during the unveiling of a new CyberCrimes office March 7, 2008 in Fort Lauderdale, Florida. One of the people on the other side of the chat told Lt. Baute, who is saying he is a 14-year-old girl, that he is a 31-year-old male and sent him a photograph of himself. According to current statistics, more than 77 million children regularly use the Internet. The Federal Internet Crimes Against Children Task Force says Florida ranks fourth in the nation in volume of child pornography. Nationally, one in seven children between the ages of 10 and 17 have been solicited online by a sexual predator.  (Photo by Joe Raedle/Getty Images)
Foto: Gettyimages
Jakarta -

Kasus kebocoran data pengguna kembali terjadi menyerang dua marketplace dalam kurang waktu seminggu, yaitu Lazada dan Cermati. Pengamat menilai Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) harus segera bertindak.

Seperti disampaikan Direktur Eksekutif ICT Institute Heru Sutadi mengatakan bahwa masalah kebocoran data ini harus disikapi dengan serius. Sebelumnya kebocoran data pernah menimpa Tokopedia, hingga Bukalapak.

"Kementerian Kominfo, Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) dan instansi terkait harus melakukan rapat darurat untuk mengetahui kebenaran, modus, dan dampak kebocoran data pengguna," ujar Heru saat dihubungi detikINET, Senin (2/11/2020).

"Saya khawatir jika tidak serius ditangani, dicari penyebab dan solusi, menimbulkan ketidakpercayaan terhadap layanan berbasis online di Indonesia," ucapnya menambahkan.

Heru menegaskan bahwa kejadian kebocoran data pengguna ini tidak bisa ditangani dengan seolah-olah sudah ditangani dengan kasus kebocoran-kebocoran data sebelumnya.

"Yang katanya sudah diminta keterangan seperti kebocoran Tokopedia, tapi masyarakat seperti dibohongi karena tidak ada informasi lebih lanjut bagaimana status kebocoran disampaikan pihak regulator apalagi disebut data bocor mencapai 91 juta data," kata mantan Anggota BRTI ini.

"Sebab ini seperti tidak mengindahkan pesan Presiden Jokowi bahwa data harus dijaga karena ini merupakan jenis kekayaan baru bangsa kita, sebab kini data lebih berharga dari minyak," pungkasnya.

Sampai berita ini diturunkan, pihak Kementerian Kominfo belum memberikan jawaban maupun merespon terkait kejadian kebocoran data yang menyerang Lazada dan Cermati.