Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
5 Talenta ASEAN Bersinar di WWDC 2026, 2 dari Indonesia

5 Talenta ASEAN Bersinar di WWDC 2026, 2 dari Indonesia


Adi Fida Rahman - detikInet

Swift Student Challenge 2026
5 Talenta ASEAN Bersinar di WWDC 2026, 2 dari Indonesia Foto: Apple
Jakarta -

Lima talenta muda Asia Tenggara berhasil mencuri perhatian Apple lewat ajang Swift Student Challenge 2026. Dari total 350 pemenang global yang diumumkan menjelang WWDC 2026, dua developer muda asal Indonesia masuk daftar distinguished winners dan akan hadir langsung di Cupertino, Amerika Serikat.

Apple menyebut para peserta tahun ini menghadirkan beragam aplikasi kreatif berbasis Swift dan AI, mulai dari edukasi privasi digital, kesehatan mental, hingga literasi kecerdasan buatan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

ADVERTISEMENT

Senior Director Worldwide Developer Relations Apple, Enwei Xie, mengatakan tahun ini Swift Student Challenge diikuti peserta dari 37 negara dan wilayah. Dari ratusan pemenang tersebut, Apple memilih 50 distinguished winners untuk mengikuti pengalaman eksklusif selama tiga hari di Cupertino saat WWDC berlangsung.

"Lima distinguished winners berasal dari Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Vietnam," ujar Enwei.

Menurut Enwei, para pelajar dari Asia Tenggara tahun ini tampil sangat impresif lewat karya yang mereka buat menggunakan teknologi Apple.

"Para siswa ini menghadirkan kreativitas luar biasa dan memanfaatkan kekuatan platform Apple, Swift, serta berbagai alat AI untuk membangun playground pemenang mereka. Semuanya sangat mengesankan dan bermakna. Saya harap Anda menikmati kesempatan untuk mendengar langsung dan melihat playground dari para pemenang Asia Tenggara kami," katanya.

Swift Student Challenge 2026Swift Student Challenge 2025 Foto: Apple

Swift Student Challenge merupakan program tahunan Apple untuk mendukung generasi baru developer, desainer, dan entrepreneur muda. Lewat kompetisi ini, para pelajar diberi kebebasan menciptakan aplikasi sesuai minat dan kepedulian mereka terhadap masalah di dunia nyata.

Apple menyebut karya para peserta tahun ini sangat beragam, mulai dari aplikasi untuk membantu pengguna keluar dari zona banjir hingga solusi yang membuat seni lebih mudah diakses oleh individu dengan tremor.

Menurut Enwei, coding kini telah menjadi bahasa universal yang mampu memberdayakan banyak orang untuk menciptakan perubahan.

"Di Apple, kami percaya aplikasi untuk semua orang seharusnya dibuat oleh semua orang," katanya.

Kehadiran dua wakil Indonesia di panggung WWDC 2026 menjadi sinyal positif bahwa talenta digital Tanah Air semakin kompetitif di level global. Ajang ini sekaligus menjadi bukti bahwa generasi muda ASEAN mulai memainkan peran penting dalam ekosistem teknologi dunia.

Profil Talenta ASEAN di WWDC 2026

Berikut profil singkat talenta digital ASEAN yang bakal ke WWDC 2026

1. Ghazali Ahlam Jazali - Indonesia

Ghazali Ahlam Jazali, 23 tahun, memenangkan Swift Student Challenge lewat aplikasi edukatif bertajuk They Have Your Fingerprint!.

Lahir di Klaten dan sempat tinggal di beberapa kota sebelum bergabung dengan Apple Developer Academy Surabaya pada 2025, Ghazali mulai tertarik pada coding sejak SMP dan jatuh hati pada pengembangan iOS serta bahasa Swift.

Swift Student Challenge 2026Ghazali Ahlam Jazali Foto: Apple

Lulusan Ilmu Komputer Universitas Sanata Dharma ini mengangkat isu privasi digital yang sering diabaikan, yakni canvas fingerprinting, teknik pelacakan pengguna berdasarkan cara perangkat menampilkan font, warna, hingga emoji.

Lewat mini game interaktif menggunakan dokumen virtual seperti paspor dan boarding pass, ia berupaya membuat konsep teknis tersebut lebih mudah dipahami masyarakat.

"Tujuan saya adalah membuat ancaman privasi yang tidak terlihat menjadi lebih nyata agar orang sadar akan risikonya," ujar Ghazali.

Ia kini berencana menyempurnakan aplikasinya sebelum dirilis di App Store.

2. Francesco Emmanuel Setiawan - Indonesia

Francesco Emmanuel Setiawan, 23 tahun, merupakan mahasiswa tingkat akhir Ilmu Komputer di BINUS University yang meraih gelar Distinguished Winner lewat aplikasi Against the Silence.

Ketertarikannya pada teknologi dimulai sejak kecil setelah terinspirasi filosofi "Think Different" milik Apple. Ia mulai belajar coding melalui Swift Playgrounds pada usia 15 tahun.

Swift Student Challenge 2026Francesco Emmanuel Setiawan Foto: Apple

Lulusan Apple Developer Academy Tangerang 2025 ini menciptakan game yang membantu pengguna melawan rasa takut berbicara di depan umum.

Ide tersebut lahir dari pengalaman pribadinya menghadapi social anxiety dan kesulitan menyampaikan pendapat secara spontan.

Dalam game tersebut, pemain harus mengalahkan "monster" simbol rasa takut dengan mempertahankan opini unik menggunakan kata-kata tertentu sambil menghindari filler seperti "umm" atau "hmm".

"Penghargaan ini membuktikan bahwa perjuangan pribadi bisa diubah menjadi alat yang membantu orang lain," kata Francesco.

Ke depan, ia berencana menyempurnakan aplikasinya sebelum dirilis di App Store.

3. Jasmmender Kaur - Malaysia

Jasmmender Kaur, 22 tahun, merupakan mahasiswa tingkat akhir asal Malaysia yang menyoroti masih terfragmentasinya pendidikan AI dan sering kali terasa rumit bagi banyak orang.

Swift Student Challenge 2026Jasmmender Kaur Foto: Apple

Ia merancang aplikasi Unveil untuk meningkatkan literasi AI sekaligus membuat proses belajar menjadi lebih menyenangkan.

Melalui pendekatan visual dan interaktif, Unveil memungkinkan pengguna merasakan langsung cara kerja AI, bukan sekadar membacanya secara teori.

Pendekatan tersebut dinilai membuat pembelajaran menjadi lebih mudah dipahami dan berdampak.

4. Chawabhon Netisingha (Jean) - Thailand

Chawabhon Netisingha atau Jean, 18 tahun, mulai belajar coding sejak usia 10 tahun melalui Minecraft sebelum akhirnya mendalami Swift.

Ini merupakan kemenangan keduanya di Swift Student Challenge.

Swift Student Challenge 2026Chawabhon Netisingha Foto: Apple

Playground buatannya tahun ini juga berfokus pada AI dengan pendekatan mini game berbasis cerita untuk mengajarkan teknik membuat prompt, mendeteksi bias, hingga mengenali halusinasi AI.

Aplikasi tersebut memanfaatkan AVKit untuk pengalaman audio yang lebih imersif serta menggunakan mesin matematika K-Nearest Neighbors (KNN) buatan sendiri, bukan framework machine learning standar.

Dengan pendekatan itu, pengguna dapat melihat secara langsung bagaimana AI mengklasifikasikan data.

5. Nhat Hoang Le - Vietnam

Nhat Hoang Le, 22 tahun, adalah mahasiswa Ilmu Komputer di Hanoi University of Science and Technology, Vietnam.

Swift Student Challenge 2026Nhat Hoang Le Foto: Apple

Terinspirasi kecintaannya pada musik meski tidak memiliki pendidikan formal di bidang tersebut, Hoang mengembangkan aplikasi HumMelody.

Aplikasi ini memungkinkan pengguna mendendangkan melodi, yang kemudian diubah menjadi not musik dan diputar ulang menggunakan berbagai instrumen seperti piano, gitar, biola, hingga flute.

(afr/afr)








Hide Ads