Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Pensiunan Tak Sengaja Dapat Harta Karun Tak Ternilai di Balik Batu

Pensiunan Tak Sengaja Dapat Harta Karun Tak Ternilai di Balik Batu


Fino Yurio Kristo - detikInet

Fosil di batu
Foto: Science Alert
Jakarta -

Pensiunan peternak ayam, Mihail Mihailidis, hanya ingin membangun sebuah dinding. Ia mendapatkan sebuah balok batu pasir dari tambang lokal di Kincumber, Australia, dan mulai bekerja menyiapkannya. Namun saat membalikkan batu itu, rencananya berubah total.

Terlihat sangat jelas harta karun tak ternilai berupa jejak makhluk purba. Bentuknya begitu nyata sehingga orang awam pun bisa tahu itu bukan sekadar pola aneh. Sesuatu terawetkan di sana dengan tulang belakang, anggota badan, dan tubuh yang dulunya pernah bergerak dalam air.

Di 2023, beberapa dekade setelah keluarga Mihailidis menyumbangkan batu tersebut ke Australian Museum, ilmuwan resmi mendeskripsikan makhluk itu, yang diberi nama Arenaerpeton supinatus. Makhluk ini adalah kerabat amfibi modern langka dan telah punah, tergabung dalam kelompok temnospondyl dan hidup ratusan juta tahun lalu. Ia mirip salamander prasejarah tapi lebih gempal dan giginya lebih mengerikan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Sekilas, Arenaerpeton terlihat sangat mirip Salamander Raksasa China modern, terutama bentuk kepalanya," kata ahli paleontologi Lachlan Hart dari University of New South Wales (UNSW) yang dikutip detikINET dari Science Alert, Senin (18/5/2026).

"Namun dari ukuran tulang rusuk dan garis bentuk jaringan lunak yang terawetkan, kita dapat melihat ia jauh lebih gempal daripada keturunannya yang masih hidup saat ini. Giginya cukup menyeramkan, termasuk sepasang taring di langit-langit mulutnya," sebutnya.

ADVERTISEMENT

Fosil ini benar-benar spesimen spektakuler. Ia terawetkan dalam batu pasir, yang mana hal itu sendiri sudah cukup menarik. Batu pasir sering menyimpan jejak purba, tapi batuan ini biasanya terbentuk di lingkungan kaya oksigen di mana tubuh hewan mudah hancur. Kerangka utuh jauh lebih sulit ditemukan.

Arenaerpeton ini kerangkanya hampir utuh, masih tersambung penuh dan mempertahankan jejak jaringan lunak. Itu sesuatu yang langka pada fosil apa pun, apalagi di batu pasir. "Ini adalah salah satu fosil terpenting yang ditemukan di New South Wales dalam 30 tahun terakhir," kata ahli paleontologi Matthew McCurry dari UNSW dan Australian Museum.

Peneliti meyakini bahwa Arenaerpeton mati di lingkungan perairan tenang dengan dasar air tanpa oksigen atau lebih dingin. Kondisi ini tidak ramah bagi hewan pemakan bangkai, sehingga tubuh hewan ini dapat tergeletak tanpa gangguan sementara proses fosilisasi berlangsung.

Dengan sedikitnya gangguan dan terbatasnya oksigen, proses pembusukan melambat drastis, memberi waktu bagi sedimen sekitarnya menyegel bentuk tubuh hewan tersebut sebelum sempat hancur.

Hewan ini berasal dari sekitar 240 juta tahun lalu pada periode Trias, masa sebelum dinosaurus mendominasi, ketika dunia masih memulihkan diri dari The Great Dying, peristiwa kepunahan paling dahsyat.

Selama masa ini, Australia bagian superbenua Gondwana dan terletak lebih dekat dengan Kutub Selatan. Kelompok temnospondyl relatif tersebar di seluruh Gondwana dan sisa-sisanya ditemukan di berbagai benua yang kemudian terpisah. Arenaerpeton menghuni sungai air tawar di wilayah yang sekarang Cekungan Sydney dan kemungkinan besar berburu ikan.

Spesimen ini kehilangan ekornya, tetapi Hart memperkirakan panjang totalnya sekitar 1,2 meter. Ukuran tersebut tergolong besar untuk temnospondyl purba di Australia, meskipun beberapa kerabat di masa selanjutnya tumbuh jauh lebih besar.




(fyk/asj)
TAGS






Hide Ads