Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
AI dan Aksesibilitas Jadi Sorotan Swift Student Challenge 2026

AI dan Aksesibilitas Jadi Sorotan Swift Student Challenge 2026


Adi Fida Rahman - detikInet

Swift Student Challenge 2026
AI dan Aksesibilitas Jadi Sorotan Swift Student Challenge 2026 Foto: Apple
Jakarta -

Apple kembali menyoroti kreativitas generasi muda lewat ajang Swift Student Challenge 2026. Tahun ini, kecerdasan buatan (AI) dan aksesibilitas menjadi tema dominan dari aplikasi playground karya para pelajar yang berhasil memenangkan kompetisi tersebut.

Dalam pengumuman resminya, Apple mengungkap sejumlah konsep aplikasi inovatif yang dibuat menggunakan bahasa pemrograman Swift. Mulai dari aplikasi yang membantu penyandang tremor menggambar dengan stabil, pelatih presentasi berbasis AI, hingga aplikasi evakuasi banjir dan alat belajar musik virtual.

Sebanyak 350 karya dari 37 negara dan wilayah ikut berpartisipasi di Swift Student Challenge tahun ini. Dari jumlah tersebut, Apple memilih 50 Pemenang Unggulan yang akan diundang menghadiri Worldwide Developers Conference 2026 di Apple Park pada Juni mendatang.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

ADVERTISEMENT

"Variasi kreativitas yang kita lihat di Swift Student Challenge tidak pernah berhenti memukau kita semua," ujar Susan Prescott, Vice President of Worldwide Developer Relations Apple dikutip dari keterangan resmi.

"Para pemenang tahun ini menemukan cara luar biasa untuk memanfaatkan platform Apple, Swift, dan alat AI guna menciptakan aplikasi yang tidak hanya mengesankan secara teknis, tetapi juga memberi dampak nyata," lanjutnya.

Salah satu karya yang menarik perhatian datang dari Gayatri Goundadkar, mahasiswi asal Pune, India. Ia membuat aplikasi bernama Steady Hands yang memanfaatkan stabilisasi Apple Pencil untuk membantu penyandang tremor tetap bisa menggambar dan melukis.

Inspirasi aplikasi tersebut berasal dari neneknya yang kesulitan melukis karena tangan gemetar seiring bertambahnya usia. Dengan memanfaatkan PencilKit dan framework Accelerate milik Apple, aplikasi ini mampu menganalisis gerakan tangan dan memisahkan gerakan yang disengaja dengan tremor.

"Saya ingin pengguna merasa seperti seniman, bukan pasien," kata Goundadkar.

Pemenang lainnya, Anton Baranov dari Jerman, menciptakan aplikasi pelatih presentasi berbasis AI. Aplikasi itu mampu memberikan umpan balik secara real-time saat pengguna berbicara, termasuk mendeteksi kata pengisi seperti "um" atau "like".

Baranov memanfaatkan Foundation Models Apple Intelligence untuk menghasilkan ringkasan dan evaluasi presentasi secara kontekstual. Bahkan, ia menggunakan Claude Agent di Xcode 26 untuk menerjemahkan aplikasinya ke dalam 20 bahasa.

Menariknya, aplikasi tersebut ternyata juga digunakan untuk latihan stand-up comedy hingga rap. Sejak dirilis di App Store pada awal Maret 2026, aplikasi itu telah diunduh lebih dari 6.000 kali.

Dari Ghana, Karen-Happuch Peprah Henneh menghadirkan Asuo, aplikasi yang membantu masyarakat menemukan jalur evakuasi aman saat banjir. Nama Asuo sendiri berarti "air mengalir" dalam bahasa Twi.

Aplikasi tersebut lahir dari pengalaman banjir besar di Accra pada 2015. Dengan memanfaatkan data historis banjir dan algoritme pencarian rute A*, Asuo dapat memberikan rekomendasi jalur aman secara real-time.

Henneh juga memastikan aplikasinya ramah aksesibilitas. Semua elemen aplikasi mendukung VoiceOver, lengkap dengan sistem peringatan suara berbasis AVSpeechSynthesizer untuk membantu pengguna tunanetra atau memiliki gangguan penglihatan.

Sementara itu, mahasiswa asal Korea Selatan Yoonjae Joung menciptakan LeViola, aplikasi virtual untuk belajar dan memainkan viola tanpa instrumen fisik.

LeViola menggunakan Core ML dan Create ML untuk menganalisis gerakan tangan pengguna melalui kamera iPhone. Teknologi tersebut memungkinkan aplikasi mengenali posisi nada dan simulasi gerakan bermain viola secara real-time.

Menurut Joung, aplikasi itu dibuat untuk memperluas akses pendidikan musik bagi mereka yang tidak memiliki instrumen atau kesulitan mengikuti les musik yang mahal.

"Saya ingin lebih banyak orang memiliki kesempatan mempelajari instrumen musik dan menikmati orkestra," ujarnya.

Apple mengatakan Swift Student Challenge menjadi salah satu cara perusahaan mendukung generasi baru developer, kreator, dan entrepreneur. Banyak alumni program tersebut kini telah membangun bisnis hingga organisasi yang fokus pada akses teknologi dan inovasi sosial.




(afr/afr)






Hide Ads