Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Binus Jadikan AI Fondasi Wajib Pembelajaran

Binus Jadikan AI Fondasi Wajib Pembelajaran


Anggoro Suryo - detikInet

Businesswomen leverage artificial intelligence to analyze market data to identify target audiences and business growth trends, crafting effective marketing strategies and gaining a competitive edge.
Ilustrasi. Foto: Getty Images/Prae_Studio
Jakarta -

Perkembangan Artificial Intelligence (AI) kini tidak lagi menjadi tren teknologi, melainkan telah menjelma menjadi fondasi baru yang menggerakkan berbagai sektor industri. Perubahan masif ini menuntut dunia pendidikan untuk berlari lebih cepat dalam merancang kurikulum yang relevan dengan masa depan.

Di sisi lain, tantangan pendidikan di tahun 2026 dinilai makin kompleks. Fenomena decision anxiety atau kecemasan dalam mengambil keputusan kini banyak menghantui orang tua dan calon mahasiswa akibat ketidakpastian di dunia kerja.

Kekhawatiran ini cukup beralasan. Data menunjukkan bahwa sekitar 36 persen pemuda Indonesia saat ini bekerja di bidang yang sama sekali tidak sesuai dengan latar belakang pendidikannya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

ADVERTISEMENT

Merespons tantangan dan peluang tersebut, Binus UNIVERSITY Kampus @Bekasi yang berfokus pada Business, Service & Technology mengambil langkah proaktif dengan mengintegrasikan AI secara fundamental ke dalam kurikulum pembelajaran mereka.

Wajibkan Mata Kuliah AI untuk Ribuan Mahasiswa

Direktur Kampus Binus @Bekasi, Prof. Gatot Soepriyanto, menjelaskan bahwa AI dipandang sebagai teknologi yang akan terus hidup berdampingan dengan mahasiswa di masa depan. Alih-alih hanya mengajarkan cara memakai perangkatnya, Binus memilih pendekatan yang jauh lebih mendasar.

Seluruh mahasiswa kini dibekali dengan mata kuliah AI wajib sejak awal perkuliahan. Skala implementasinya pun tidak main-main.

"Bayangkan dalam satu angkatan ada sekitar 7.000 mahasiswa, dan semuanya wajib mengambil mata kuliah AI di semester 2. Binus mampu menjalankan banyak kelas paralel untuk memastikan setiap mahasiswa mendapatkan fondasi ini," jelas Prof. Gatot.

Fokus pembelajaran ini ditekankan pada pemahaman dasar seperti machine learning, kapabilitas, hingga batasan dari teknologi AI itu sendiri. Tujuannya adalah agar lulusan kelak tidak hanya menjadi pengguna pasif, tetapi benar-benar memahami logika di balik teknologi yang mereka operasikan.

Penerapan AI Embedded Lintas Disiplin

Integrasi AI di Binus tidak berhenti pada mata kuliah khusus saja, melainkan juga disisipkan (embedded) secara langsung ke berbagai mata kuliah lintas disiplin ilmu.

Faculty Member Psychology Program & Psikolog Binus, Dr. Istiani, menuturkan bahwa mahasiswa dilatih secara terstruktur untuk menjadikan AI sebagai mitra belajar, bukan sebagai jalan pintas untuk menyelesaikan tugas.

Mahasiswa diajarkan teknik prompting, melakukan iterasi, serta mengevaluasi hasil output AI dengan membandingkannya terhadap referensi akademik yang valid. Pendekatan ketat ini dinilai sangat penting untuk menjaga daya nalar kritis mahasiswa.

"Jika AI digunakan hanya untuk copy-paste, maka kapasitas kognitif mahasiswa justru akan menurun. Sebaliknya, Binus mendorong mahasiswa untuk mengkritisi output AI, menjadikannya sebagai alat bantu analisis, bukan pengganti proses berpikir," terangnya, dalam keterangan yang diterima detikINET.

Kesiapan Industri dan Dukungan Finansial

Sebagai kampus teknologi dan bisnis, Binus @Bekasi juga menawarkan pendekatan praktik nyata melalui program Enrichment. Pengalaman terjun langsung ke industri ini dirancang agar mahasiswa mendapatkan gambaran konkret tentang dunia kerja.

Untuk menjawab kekhawatiran finansial dari pihak orang tua, Binus turut menyalurkan program Beasiswa EMAS (Empowering Achievement of Student). Beasiswa ini tidak hanya berfungsi meringankan beban biaya pendidikan, tetapi juga menjadi wujud investasi masa depan bagi para mahasiswa berprestasi.

Dengan perpaduan kurikulum adaptif berbasis AI, pengalaman industri yang kuat, serta ketersediaan dukungan finansial, institusi pendidikan diharapkan bisa membantu menekan angka lulusan yang "salah jurusan" dan memastikan mereka siap menghadapi kerasnya dunia kerja modern.




(asj/asj)





Hide Ads