Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Makin Canggih, Hacker Kini Pakai AI dan Deepfake untuk Bobol Sistem Keamanan

Makin Canggih, Hacker Kini Pakai AI dan Deepfake untuk Bobol Sistem Keamanan


Agus Tri Haryanto - detikInet

Ilustrasi penipuan online
Ilustrasi serangan siber di era AI. Foto: Shutterstock
Jakarta -

Ancaman siber berbasis kecerdasan buatan (AI) kian menjadi persoalan serius bagi dunia usaha. Tidak hanya semakin canggih, serangan digital kini juga berkembang lebih cepat dari kemampuan sistem keamanan tradisional dalam mendeteksinya.

Salah satu ancaman yang tengah naik tajam adalah penggunaan teknologi deepfake untuk penipuan transaksi. Tren industri bahkan memprediksi lonjakan serangan jenis ini hingga 162% pada 2025. Bahkan, serangan injeksi digital yang kerap digunakan untuk menyusupkan video deepfake ke dalam sistem verifikasi, dilaporkan meningkat drastis hingga 1.151% pada perangkat tertentu.

Di saat yang sama, kemunculan automated bot generasi baru juga memperparah situasi. Bot ini mampu meniru perilaku manusia dan menembus sistem keamanan konvensional dengan tingkat keberhasilan di atas 85%. Kondisi ini membuat pendekatan keamanan lama yang bersifat parsial dan reaktif semakin tidak relevan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

ADVERTISEMENT

Pelaku industri pun didorong untuk beralih ke pendekatan yang lebih menyeluruh. Keamanan tidak lagi cukup hanya dengan "memasang pagar", tetapi harus dibangun sebagai ekosistem yang terintegrasi-mencakup identitas, data, hingga aplikasi.

Managing Director PT Dymar Jaya Indonesia, Yuliani Kusnadi, menegaskan bahwa perubahan pendekatan ini sudah menjadi kebutuhan mendesak.

"Di era di mana ancaman bisa datang dari sisi mana saja, sinergi antara identitas, data, dan aplikasi bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. Melalui DCC 2026, kami membawa teknologi kelas dunia yang tidak hanya reaktif, tapi proaktif dalam menjaga ketahanan digital perusahaan," ujarnya dikutip Jumat (24/4/2026).

Pendekatan keamanan modern juga mulai mengarah pada teknologi tanpa kata sandi (passwordless) seperti phishing-resistant multi-factor authentication (MFA) berbasis FIDO2. Teknologi ini dinilai mampu memutus rantai serangan pencurian identitas yang selama ini menjadi pintu masuk utama pembobolan data.

Selain itu, perlindungan terhadap aplikasi-khususnya aplikasi finansial-menjadi fokus penting. Serangan kini tidak hanya menyasar jaringan, tetapi juga langsung ke aplikasi dan perangkat pengguna melalui malware, manipulasi sistem, hingga eksploitasi perangkat yang telah di-root atau jailbreak.

Di sisi lain, tantangan keamanan juga meluas ke rantai pasok digital dan pihak ketiga. Risiko kebocoran data tidak lagi hanya berasal dari internal perusahaan, tetapi juga dari vendor, mitra, hingga faktor human error.

Oleh karena itu, visibilitas terhadap risiko pihak ketiga, pengelolaan siklus hidup data, serta kepatuhan terhadap regulasi seperti UU Perlindungan Data Pribadi (PDP) menjadi semakin krusial.

Solusi yang kini dikembangkan industri mencakup berbagai lapisan, mulai dari penguatan identitas digital, enkripsi data yang siap menghadapi era komputasi kuantum, pemantauan risiko secara real-time, hingga penghapusan data secara tersertifikasi di akhir siklus perangkat.

Upaya menjawab tantangan tersebut salah satunya ditunjukkan melalui penyelenggaraan Dymar Cybersecurity Conference (DCC) 2026 di Jakarta pada 22 April 2026.

Dalam forum ini, PT Dymar Jaya Indonesia memperkenalkan berbagai solusi keamanan data terbaru bersama mitra global seperti Thales, Sophos, eMudhra, dan Blancco, sekaligus menegaskan pentingnya membangun ekosistem keamanan siber yang terintegrasi dan resilien di tengah ancaman AI dan fraud yang terus berkembang.




(agt/agt)





Hide Ads