Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
50 Tahun Apple di Mata Pengguna Setia, dari Think Different ke AI

50 Tahun Apple di Mata Pengguna Setia, dari Think Different ke AI


Adi Fida Rahman - detikInet

A customer compares his old iPhone with the newly launched iPhone 17 pro max at an Apple retail store in Delhi, India, September 19, 2025. REUTERS/Bhawika Chhabra
50 Tahun Apple di Mata Pengguna Setia, dari Think Different ke AI. Foto: REUTERS/Bhawika Chhabra
Jakarta -

Apple genap berusia 50 tahun pada 1 April 2026. Bagi sebagian orang, ini mungkin hanya angka. Namun bagi Bagus Hernawan, Apple enthusiast yang telah mengikuti perjalanan brand asal Cupertino itu selama hampir dua dekade, momen ini terasa jauh lebih personal.

Ini bukan sekadar perayaan, tapi kesempatan untuk melihat kembali bagaimana Apple berubah dan ke mana arah masa depannya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

ADVERTISEMENT

'Think Different' Jadi Identitas, Bukan Sekadar Slogan

Bagi Bagus, memahami Apple tidak dimulai dari produk, melainkan dari filosofi.

Kampanye Think Different yang diluncurkan pada 1997 menjadi titik penting. Bukan sekadar iklan, melainkan deklarasi identitas sebuah perusahaan yang saat itu berada di ambang kehancuran.

"Filosofi itu yang bikin Apple berbeda. Mereka tidak hanya menjual hardware, tapi cara berpikir dan kreativitas," ujarnya saat berbincang dengan detikINET.

Menurut Bagus, benang merah inilah yang terus menghubungkan setiap era Apple-dari Mac, iPod, iPhone, hingga perangkat masa kini.

Bagus HernawanBagus Hernawan Foto: doc Pribadi

Era Steve Jobs hingga Tim Cook

Bagus melihat era Steve Jobs sebagai fase yang sangat khas. Produk Apple saat itu identik dengan harga tinggi, eksklusivitas, dan pasar yang relatif terbatas-terutama di Asia.

Namun justru di masa inilah Apple menciptakan lompatan besar.

iMac hadir dengan warna-warni yang "menabrak" standar industri. iPod membawa desain minimalis putih yang ikonik. MacBook Air membuktikan laptop bisa setipis amplop.

"Apple waktu itu bikin teknologi jadi sesuatu yang menarik, bukan membosankan," kata Bagus.

Steve JobsSteve Jobs saat peluncuran iPhone Foto: Apple

Memasuki era Tim Cook, arah Apple mulai berubah.

Perusahaan ini menjadi lebih inklusif, lebih luas, dan lebih beragam. Produk tidak lagi hanya menyasar segmen premium, tapi juga mulai menjangkau pengguna baru.

Salah satu yang menarik perhatian Bagus adalah kehadiran MacBook Neo-yang dirancang untuk pengguna pertama, termasuk pelajar dan mahasiswa.

"Ini perubahan besar. Apple sekarang aktif menjemput pengguna baru," ujarnya.

Apple CEO Tim Cook poses with NBA New York Knicks Jalen Brunson, as the iPhone 17 series goes on sale, at the Apple Store in New York City, U.S., September 19, 2025. REUTERS/Shannon StapletonApple CEO Tim Cook bersama pemain NBA New York Knicks Jalen Brunson saat penjualan iPhone 17 Pro di Apple Store New York City.. REUTERS/Shannon Stapleton Foto: REUTERS/Shannon Stapleton

iPhone pun kini hadir dalam berbagai varian, dengan pilihan harga dan fitur yang lebih fleksibel dibanding era sebelumnya.

Di tengah gempuran tren kecerdasan buatan (AI), Apple memilih jalur berbeda.

Alih-alih mengandalkan cloud, Apple mengedepankan pendekatan on-device AI dengan fokus pada privasi.

"Apple punya keunggulan di sini. Data pengguna dijaga, AI berjalan di perangkat," jelasnya.

Di saat isu kebocoran data menjadi perhatian global, pendekatan ini dinilai justru semakin relevan.

Beberapa produk yang Bagus anggap paling revolusioner antara lain:

  • iBook G3 (1999): laptop pertama dengan Wi-Fi
  • iPod: mengubah cara orang menikmati musik
  • iPhone generasi pertama: mengakhiri era keypad fisik
  • AirPods: mendefinisikan ulang earphone nirkabel
  • Apple M series: lompatan besar performa setelah lepas dari Intel
  • Apple Watch: perangkat wearable dengan dampak kesehatan nyata
  • Apple Vision Pro: membuka babak baru VR/AR

Kalau Bertemu Steve Jobs Hari Ini...

Di tengah refleksi perjalanan Apple selama 50 tahun, ada satu hal yang masih menggelitik rasa penasaran Bagus.

Jika diberi kesempatan bertemu Steve Jobs hari ini, ia punya satu pertanyaan sederhana-namun relevan dengan arah Apple saat ini.

"Apakah Steve Jobs akan menyukai penggunaan AI di produk Apple?" ujarnya.

Bagi Bagus, pertanyaan ini menarik karena Jobs dikenal sangat selektif terhadap teknologi. Ia selalu menekankan kesederhanaan, pengalaman pengguna, dan kontrol penuh terhadap produk.

Selain itu, ada rasa penasaran lain yang tak kalah besar.

Steve JobsSteve Jobs Foto: Apple

Ia ingin bertanya soal produk-produk Apple yang tak pernah benar-benar hadir ke publik-atau hanya menjadi rumor.

"Seperti Apple Car, AirPower, dan produk lain yang sempat ramai tapi tidak jadi dirilis," tambahnya.

Baginya, cerita di balik produk-produk "gagal lahir" itu justru menyimpan filosofi penting tentang bagaimana Apple memilih-dan menolak-sebuah inovasi.

Apple Store di Indonesia

People browse inside the Apple Fifth Avenue store in New York City, U.S., May 23, 2025. REUTERS/Adam GrayApple Store. REUTERS/Adam Gray Foto: REUTERS/Adam Gray

Dari MacBook putih pertamanya hingga era AI saat ini, ia melihat satu hal yang tidak berubah: Apple selalu punya cara untuk membuat orang penasaran. Di usia yang ke-50, dia berharap Apple tetap menjadi perusahaan yang berani mengambil lompatan besar.

Dan ada satu hal lagi yang sangat Bagus harapkan. Tidak lain kehadiran Apple Store di Indonesia.

Menurutnya kehadiran toko resmi Apple akan memberikan dampak besar. Baik dari sisi waktu rilis hingga pengalaman layanan purna jual.

"Saya rasa belum saatnya Apple buka Apple Store di Indonesia. Banyak layanan pendukung yang belum siap," tegasnya.



(afr/afr)






Hide Ads
LIVE