Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Bahaya Sharenting Intai Anak, Apa Itu? Ortu Mesti Tahu

Bahaya Sharenting Intai Anak, Apa Itu? Ortu Mesti Tahu


Agus Tri Haryanto - detikInet

Affan Haritsah, 11, Daffa Ibnu Alkhalifi, 12, and Kevin Prince, 14, use their phones, as Indonesias communications and digital information ministry implements restrictions against
Foto: REUTERS/Ajeng Dinar Ulfiana
Jakarta -

Kebiasaan orang tua membagikan foto, video, hingga aktivitas anak di media sosial atau dikenal dengan istilah sharenting kini dinilai semakin berisiko terhadap privasi dan keamanan digital anak.

Penelitian terbaru perusahaan keamanan siber Kaspersky bersama Singapore Institute of Technology (SIT) mengungkap bahwa unggahan sederhana orang tua di internet dapat membuka celah penyalahgunaan data pribadi anak, mulai dari pelacakan lokasi, profiling digital, hingga pencurian identitas.

Studi bertajuk Small Shares, Big Risks: How Parents Assess Threats and Cope with Sharing of Children's Data itu melibatkan 152 responden dari sembilan negara, termasuk Indonesia, Singapura, Malaysia, India, Filipina, hingga Mesir.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

ADVERTISEMENT

Penelitian tersebut menyoroti bagaimana orang tua menilai risiko saat membagikan kehidupan anak-anak mereka secara daring, sekaligus sejauh mana mereka mampu melindungi privasi digital keluarga.

Senior Manager Cyber Safety Education Asia Pasifik Kaspersky, Trisha Octaviano mengatakan, kebiasaan membagikan momen keluarga di media sosial memang dapat membangun koneksi sosial dan dukungan antarsesama orang tua. Namun di balik itu, ada ancaman digital yang sering kali tidak disadari.

"Seiring bertambahnya usia orang tua, mereka biasanya menjadi lebih peka terhadap ancaman dan kerentanan, baik daring maupun luring, sehingga lebih proaktif dalam melindungi anak-anak mereka," ujarnya dikutip Selasa (19/5/2026).

Penelitian menemukan, sebagian besar orang tua sebenarnya sudah mulai sadar pentingnya menjaga privasi digital anak. Sebanyak 85% responden mengaku menghindari membagikan informasi sensitif seperti tanggal lahir, alamat rumah, hingga sekolah anak.

Selain itu, 84% orang tua membatasi akses unggahan hanya untuk keluarga dan teman dekat, sementara 80% lainnya menghapus izin resharing agar konten tidak mudah disebarluaskan pihak lain.

Tidak hanya itu, sekitar 78% responden juga mengaku menonaktifkan fitur metadata dan geotagging pada foto untuk mencegah kebocoran lokasi anak.

Temuan menarik lainnya menunjukkan bahwa ibu cenderung lebih berhati-hati dibanding ayah dalam aktivitas berbagi konten anak di media sosial.

Penelitian menyebut naluri protektif ibu di dunia nyata juga terbawa ke ruang digital. Para ibu dinilai lebih percaya diri dalam menerapkan langkah-langkah keamanan privasi dan lebih yakin terhadap pentingnya perlindungan data anak.

Wakil Direktur Academy of Learning and Teaching SIT, Jiow Hee Jhee mengatakan, banyak orang tua belum menyadari bahwa unggahan sederhana dapat meninggalkan jejak digital jangka panjang bagi anak-anak mereka.

"Berbagi momen keluarga secara daring memang dapat menciptakan koneksi dan dukungan, tetapi juga dapat mengekspos anak-anak pada risiko yang sering kali tidak terlihat seperti profiling, pelacakan yang tidak diinginkan, dan penyalahgunaan informasi pribadi," jelasnya.

Menurutnya, perlindungan jejak digital anak dimulai dari keputusan kecil sehari-hari yang dilakukan orang tua saat menggunakan media sosial.

Sebagai langkah pencegahan, para ahli menyarankan orang tua lebih selektif sebelum mengunggah informasi tentang anak di internet. Beberapa langkah yang disarankan antara lain mengatur akun media sosial menjadi privat, menghapus metadata dan lokasi pada foto, membatasi informasi pribadi anak yang diunggah, serta rutin mengecek pengaturan privasi akun.

Orang tua juga diminta menghindari unggahan yang memperlihatkan lokasi rutin anak seperti sekolah, tempat les, atau klub olahraga karena dapat dimanfaatkan pihak tidak bertanggung jawab.

Selain itu, pengawasan aktivitas digital anak dan edukasi keamanan siber di lingkungan keluarga dinilai menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko sharenting di era digital.




(agt/fay)




Hide Ads