Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Posting Foto Pose Seperti Ini Berbahaya, Sidik Jari Bisa Dicuri

Posting Foto Pose Seperti Ini Berbahaya, Sidik Jari Bisa Dicuri


Anggoro Suryo - detikInet

ilustrasi selfie
Ilustrasi selfie. Foto: Shutterstock
Jakarta -

Berpose dengan gaya dua jari membentuk huruf V saat mengambil selfie sudah menjadi kebiasaan umum, terutama di wilayah Asia. Namun, siapa sangka kebiasaan sepele ini ternyata bisa menjadi celah keamanan yang membahayakan privasi Anda.

Seiring dengan resolusi kamera smartphone yang makin tinggi dan tajam, para pakar keamanan memperingatkan bahwa mencuri data sidik jari hanya dari sebuah foto biasa kini makin mungkin dilakukan.

Kekhawatiran ini kembali viral dan menjadi perbincangan hangat di jejaring sosial China pada pekan ini. Para ahli mengklaim bahwa foto selfie yang memperlihatkan bagian ujung jari secara langsung ke arah kamera dari jarak sekitar 1,5 meter (5 kaki) sudah cukup untuk merekam detail garis-garis sidik jari.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

ADVERTISEMENT

Pakar keuangan Li Chang memperingatkan, dengan mengandalkan perangkat lunak edit foto dan kecerdasan buatan (AI), peretas (hacker) dapat mempertajam struktur sidik jari yang tersembunyi di balik foto selfie tersebut.

Hal ini diamini oleh Jing Jiwu, seorang profesor di University of Chinese Academy of Sciences. Meskipun faktor pencahayaan, efek blur karena gerakan, dan titik fokus dapat menyulitkan proses ekstraksi, kehadiran foto beresolusi tinggi yang tajam dapat secara signifikan mempermudah pencurian data biometrik tersebut.

Bukan Ancaman Baru

Secara teori, jika peretas berhasil mengekstrak gambar sidik jari tersebut, mereka bisa menggunakannya untuk mengelabui pemindai biometrik pada ponsel, laptop, sistem pembayaran, atau akun online milik korban.

Konsep pembobolan semacam ini sebenarnya bukanlah hal baru di dunia keamanan siber. Pada tahun 2014 silam, peneliti biometrik terkemuka Jan Krissler sukses merekonstruksi sidik jari milik Menteri Pertahanan Jerman hanya dengan bermodalkan foto-foto tangan sang menteri yang beredar luas di ruang publik.

Di masa lalu, proses kloning sidik jari ini dianggap kurang praktis karena membutuhkan kondisi terkontrol dan teknik pemrosesan khusus. Sayangnya, kamera ponsel modern yang kini dibekali fitur komputasi fotografi canggih justru makin menurunkan "syarat" peretasan tersebut.

Sebagai bukti, pada tahun 2021 para peneliti di Kraken Security Labs mendemonstrasikan sebuah metode pembobolan pemindai sidik jari. Mereka dilaporkan hanya membutuhkan sebuah foto sidik jari, aplikasi Photoshop, printer laser, dan lem kayu untuk membuat sidik jari palsu yang berfungsi dengan sempurna.

Mengapa Masih Digunakan?

Meskipun memiliki keterbatasan keamanan yang sudah diketahui secara luas, autentikasi sidik jari hingga kini masih menjadi primadona untuk membuka kunci perangkat dan aplikasi. Berbagai laptop, tablet, dan jutaan smartphone masih sangat bergantung pada teknologi ini.

Alasannya sangat sederhana: kenyamanan. Teknologi biometrik secara drastis memangkas kerumitan pengguna jika dibandingkan dengan keharusan mengetik kata sandi (password) yang panjang. Di sisi lain, sistem ini masih dinilai cukup tangguh untuk memberikan perlindungan terhadap pencurian biasa atau akses tidak sah dari orang-orang di sekitar pengguna, demikian dikutip detikINET dari TechSpot, Rabu (13/5/2026).




(asj/asj)






Hide Ads