Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
50 Tahun Apple: Dari Garasi ke Rp 67 Ribu Triliun

50 Tahun Apple: Dari Garasi ke Rp 67 Ribu Triliun


Adi Fida Rahman - detikInet

Para pendiri Apple, Steve Jobs dan Steve Wozniak, bersama papan sirkuit awal.
50 Tahun Apple: Dari Garasi ke Rp 67 Ribu Triliun. Foto: Apple
Jakarta -

Setengah abad bukan waktu yang sebentar. Apalagi bagi sebuah perusahaan yang pernah hampir bangkrut, lalu bangkit menjadi yang paling bernilai di dunia. Di usia 50 tahun, Apple bukan sekadar perusahaan teknologi, ia adalah cermin dari cara manusia berubah bersama teknologi.

April 1976. Dua Steve - Jobs dan Wozniak - mendirikan Apple Computer di sebuah garasi di Los Altos, California. Tidak ada yang menyangka perusahaan kecil itu akan mengubah cara dunia berkomunikasi, bekerja, dan berkreasi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

ADVERTISEMENT

Lima puluh tahun kemudian, Apple adalah perusahaan dengan valuasi menembus USD 4 triliun atau kisaran Rp 67 triliun. Sebuah angka yang bahkan sulit dibayangkan oleh para pendirinya sendiri.

Bagi Indra Surya, kreator di balik channel YouTube iTechLife yang mengikuti ekosistem Apple sejak awal 2010-an, perjalanan panjang itu bukan sekadar sejarah korporasi. Itu adalah bagian dari hidupnya sendiri.

"Ada banyak sekali pelajaran-pelajaran kecil dari Apple yang telah berhasil mengubah pribadi saya di aspek kehidupan sehari-hari," ujarnya saat berbincang dengan detikINET.

Satu Produk yang Mengubah Segalanya

Jika harus memilih satu momen paling revolusioner dalam 50 tahun Apple, Indra tidak perlu berpikir lama.

"Saat iPhone 2G pertama dirilis di tahun 2007, itu seperti gerbang awal untuk era touchscreen smartphone di dunia," katanya. "Walaupun sebelumnya sudah ada smartphone PDA layar sentuh yang menggunakan stylus, tapi seperti yang dikatakan Steve: "Who needs a stylus?"

iPhone 1iPhone 2G Foto: Apple

Multi-touch pada layar iPhone 2G bukan sekadar fitur baru. Ia mengubah paradigma industri secara fundamental - dari perangkat yang membutuhkan pena kecil untuk dioperasikan, menjadi perangkat yang cukup dijamah ujung jari. Nokia, BlackBerry, dan pemain-pemain besar kala itu tidak siap menghadapi pergeseran itu.

Dalam waktu beberapa tahun, dunia smartphone berubah total. Dan Apple ada di pusat perubahan itu.

Dua Era, Dua Cara Memimpin

Sejarah Apple modern tidak bisa dilepaskan dari dua nama: Steve Jobs dan Tim Cook. Keduanya memimpin perusahaan yang sama, tapi dengan pendekatan yang sangat berbeda.

Bagi Indra, perbedaan itu terasa nyata dan mudah dibaca.

"Steve Jobs selalu haus akan inovasi dan punya ambisi kuat untuk menciptakan produk-produk yang revolusioner," ujarnya. "Sedangkan Tim Cook dulunya adalah orang operasional andalan Steve Jobs, yang selalu mencoba 'bermain aman' di setiap lini produknya."

Era Jobs adalah era kejutan. Setiap keynote terasa seperti pertunjukan sulap - ada selalu sesuatu yang tidak pernah ada sebelumnya. Mac, iPod, iPhone, iPad - masing-masing lahir sebagai kategori baru, bukan sekadar iterasi dari yang sudah ada.

Indra iTechLifeIndra iTechLife bersama CEO Apple Tim Cook. Foto: doc Pribadi

Era Cook berbeda. Langkahnya lebih terukur, lebih presisi. Kritik pun datang - Apple dianggap kehilangan nyali berinovasi, terlalu mengandalkan ekosistem yang sudah ada untuk mengunci pengguna.

Tapi Indra menolak simplifikasi itu. "Bukan kurang inovatif, mungkin secara tempo jadi lebih lambat saja dibanding era Steve Jobs," jelasnya. "Kita bisa lihat devices seperti Apple Vision Pro, Mac Studio, AirPods - itu semua rilis di era Tim Cook."

Dan ada satu argumen yang lebih kuat lagi dari sekadar daftar produk.

"Tanpa Tim Cook, saya ragu kalau valuasi Apple bisa tembus di angka 4 triliun USD per hari ini," tegasnya. "Tim Cook memang tidak bisa menggantikan tahta 'bapak inovasi' Steve Jobs. Akan tetapi, tanpa Tim Cook, Apple yang kita kenal hari ini mungkin tidak akan sebesar ini."

Dua pemimpin, dua kekuatan yang berbeda dan Apple membutuhkan keduanya untuk menjadi apa yang ia capai hari ini.

Ironi yang Bernama Apple Pencil

Di antara semua produk yang lahir di era Cook, ada satu yang menyimpan ironi paling menarik: Apple Pencil.

iPhone Stylus Apple PencilWho wants a stylus? Foto: istimewa

Jobs terkenal dengan penolakannya terhadap stylus. "Who wants a stylus?" adalah salah satu kutipannya yang paling diingat. Tapi di bawah Cook, Apple justru merilis dan terus mengembangkan Apple Pencil, sebuah stylus premium untuk iPad.

Bagi Indra, ini adalah pertanyaan yang belum terjawab.

"Saya pengen nanya sama dia (mendiang Steve Jobs) gimana pendapat dia soal Apple Pencil, karena produk itu cukup berseberangan dengan visi dia yang nggak suka dengan yang namanya stylus," ujarnya.

Pertanyaan yang terdengar ringan itu sebenarnya menyentuh sesuatu yang lebih dalam: seberapa jauh sebuah perusahaan boleh bergerak melampaui visi pendirinya? Apple Pencil adalah jawaban pragmatis Cook - pengguna profesional membutuhkannya, pasar ada, maka produk pun lahir. Jobs mungkin tidak setuju. Tapi angka penjualan iPad Pro yang terus tumbuh sulit untuk diabaikan.

50 Tahun Berikutnya

Di usia 50, Apple berdiri di persimpangan yang tidak mudah. Kecerdasan buatan sedang mendefinisikan ulang industri teknologi secara masif. Kompetitor dari Asia bergerak cepat dengan fitur-fitur yang agresif. Dan pertanyaan tentang inovasi berikutnya terus menggantung di udara.

Indra, yang telah mengikuti setiap langkah Apple selama lebih dari satu dekade, memilih untuk tetap optimis - tapi dengan catatan.

Indra iTechLifeIndra iTechLife Foto: doc Pribadi

"Untuk improvement fitur di series iPhone dan iPad memang tidak sesignifikan era Steve dulu, sedangkan smartphone Android di luar sana tiap tahunnya selalu hadir dengan gebrakan fitur baru," akunya. "Akan tetapi Tim Cook benar-benar tahu timing kapan saatnya dia bergabung dalam permainan."

Itulah mungkin pelajaran terbesar dari 50 tahun Apple: perusahaan ini tidak selalu yang pertama, tidak selalu yang paling berani. Tapi hampir selalu tahu kapan harus bergerak, dan bagaimana caranya bergerak dengan cara yang tidak terduga.

Dari garasi di Los Altos hingga valuasi 4 triliun dolar. Dari "insanely great" hingga "Shot on iPhone." Dari satu orang yang tidak suka stylus, hingga stylus yang kini dipakai jutaan seniman dan profesional di seluruh dunia.

Lima puluh tahun Apple adalah bukti bahwa perusahaan terbaik bukan yang tidak pernah berubah, melainkan yang tahu cara berubah tanpa kehilangan dirinya sendiri.



(afr/afr)








Hide Ads