Amerika Serikat merelokasi sebagian dari sistem pertahanan rudal canggih Terminal High-Altitude Area Defense (THAAD) miliknya dari Korea Selatan ke Timur Tengah, menurut para pejabat yang dikutip oleh The Washington Post dan media Korea Selatan.
Langkah ini terjadi hampir dua minggu sejak meningkatnya eskalasi perang AS-Israel dengan Iran, seiring diluncurkannya sejumlah besar drone dan rudal balistik oleh Teheran ke target-target Israel dan negara-negara Teluk. Pengerahan THAAD dari Korea mengindikasikan tekanan terhadap sistem pertahanan rudal AS seiring meluasnya konflik.
Para pengamat mengatakan Washington mungkin mencoba memperkuat pertahanan regional setelah adanya laporan bahwa radar utama milik baterai THAAD di Yordania hancur awal bulan ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Apa itu Sistem Pertahanan Rudal THAAD?
THAAD (Terminal High-Altitude Area Defense)cadalah sistem pertahanan rudal buatan AS yang dirancang untuk mencegat dan menghancurkan rudal balistik pada tahap akhir penerbangannya.
Diproduksi oleh Lockheed Martin, sistem ini menggunakan teknologi "hit-to-kill", yang berarti ia menghancurkan hulu ledak yang datang menggunakan energi kinetik, bukan dengan bahan peledak.
Satu sistem baterai THAAD tipikal mencakup enam peluncur bergerak, delapan rudal pencegat (interceptor) di tiap peluncur, dan radar canggih untuk melakukan deteksi dan pelacakan. Sistem ini dapat mencegat rudal balistik jarak pendek dan menengah, sering kali pada ketinggian sangat ekstrem, bahkan hingga ke luar atmosfer Bumi.
Satu baterai THAAD berharga sekitar USD 1 miliar atau di kisaran Rp 17 triliun dan membutuhkan sekitar 100 personel untuk dioperasikan. Dikutip detikINET dari AFP, AS mengoperasikan delapan sistem THAAD secara global.
Mengapa AS Memindahkan THAAD dari Korsel?
Langkah ini diambil saat Iran meluncurkan gelombang serangan rudal. Menurut hitungan New York Times, Iran telah menembakkan lebih dari 500 rudal balistik sejak perang dimulai. Sebagian besar berhasil dicegat, tapi serangan terus-menerus diyakini sangat menguras sumber daya pertahanan rudal AS.
Analis militer mengatakan THAAD sangat berharga karena dapat mencegat rudal di ketinggian sangat tinggi, membantu melindungi pangkalan militer dan infrastruktur utama. Seorang pejabat AS menyebut penempatan ulang ini sebagai tindakan pencegahan. Namun beberapa analis percaya langkah tersebut mencerminkan meningkatnya tekanan terhadap kapasitas pertahanan rudal AS.
Sistem anti rudal THAAD. Foto: CNN |
"Pengerahan ulang ini sangat mengisyaratkan kebutuhan AS untuk mengkompensasi penggunaan besar-besaran kemampuan pertahanan rudal yang ada di Timur Tengah," kata Prof. John Nilsson-Wright dari Universitas Cambridge kepada BBC.
THAAD dikerahkan ke Korsel tahun 2017 untuk bertahan dari ancaman rudal Korea Utara yang bersenjata nuklir. Sistem ini berbasis di Seongju, sekitar 220 kilometer selatan Seoul. AS menempatkan sekitar 28.500 pasukan di Korsel, bersama berbagai sistem pertahanan rudal dan pertahanan udara untuk menangkal Korut.
Media Korea Selatan melaporkan bahwa peluncur-peluncur THAAD sudah mulai diangkut keluar dari pangkalan Seongju. Seoul pun telah menyatakan keprihatinannya atas laporan pemindahan tersebut.
Presiden Lee Jae Myung mengakui ada pemindahan saat rapat Kabinet dan Seoul menyampaikan kekhawatirannya ke Washington. "Kami telah menyatakan penolakan terhadap penarikan aset pertahanan udara tertentu, namun ini juga sebuah kenyataan bahwa posisi kita tak bisa selalu diakomodasi sepenuhnya di tiap situasi," katanya.
Meskipun demikian, ia menambahkan pergeseran tersebut takkan secara signifikan melemahkan daya tangkal terhadap Korut. "Jika Anda bertanya apakah strategi daya tangkal kita terhadap Korea Utara akan sangat terpengaruh, saya bisa pastikan bahwa itu tidak akan terjadi," ujar Lee.
Kementerian Pertahanan Korsel juga menyatakan masih dapat menangkal ancaman Pyongyang meski beberapa aset AS direlokasi."Terlepas dari apakah aset tertentu milik Pasukan AS di Korea dikerahkan ke luar negeri, tak ada masalah sama sekali dengan postur pertahanan tangkal kami terhadap Korut, mengingat tingkat kemampuan militer kami," kata Kementerian Pertahanan.
(fyk/fyk)
