Saat Iran melancarkan gelombang serangan drone terhadap infrastruktur kritis di sekitar Teluk Persia, keahlian Ukraina dalam melawan drone tersebut tampaknya banyak dicari. Beberapa hari setelah perang dengan Iran, pemerintahan Donald Trump mengidentifikasi persenjataan drone serang satu arah Shahed sebagai tantangan serius.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth dan Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine mengakui bahwa drone relatif murah ini, yang dapat membanjiri dan melumpuhkan pertahanan udara, jadi masalah yang jauh lebih besar dari perkiraan.
Ini adalah tantangan yang sangat dipahami Ukraina karena Rusia juga mengandalkan drone shahed. Kota-kota Ukraina rutin dibombardir kombinasi drone dan rudal. Pemerintah Ukraina pun siap berbagi pengetahuan teknis tentang cara melawan drone ini dengan negara-negara Timur Tengah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Mitra kami berpaling kepada kami, kepada Ukraina, untuk minta bantuan dalam melindungi diri mereka dari Shahed dengan keahlian dan tindakan nyata," kata Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky, dikutip detikINET dari CNN.
"Ada juga permintaan mengenai hal ini dari pihak Amerika. Belakangan ini, saya berbicara dengan pemimpin Emirat, Qatar, Bahrain, Yordania, dan Kuwait. Akan ada pembicaraan lebih lanjut dengan para pemimpin regional lainnya. Kami juga berkoordinasi dengan mitra-mitra kami di Eropa," imbuhnya.
Rusia mulai mengimpor drone serang Shahed-136 (yang dikenal di Rusia sebagai Geran) setelah invasi ke Ukraina Februari 2022. Seiring berjalannya perang, Rusia membangun fasilitas produksi drone tersebut untuk membuatnya lebih dari 5.500 unit per bulan.
Berdasarkan pengalaman dari medan tempur, Rusia meningkatkan kemampuan drone ini dengan anti jamming lebih canggih, hulu ledak lebih mematikan, dan daya jelajah lebih lama. Militer AS juga membentuk skuadron khusus yang mengerahkan drone serang satu arah tiruan dari Shahed yang berhasil ditangkap. Drone itu kini diluncurkan dalam pertempuran melawan Iran.
Ukraina membangun sistem pertahanan berlapis terhadap Shahed dan variannya serta mengklaim meraih keberhasilan signifikan. "Kami siap membantu dan berbagi pengalaman. Ukraina punya lebih dari 10 perusahaan yang memproduksi pencegat dan sistem anti drone," tulis Alexander Kamyshin, penasihat Zelensky.
"Kami mencegat sekitar 90% drone Shahed Rusia, utamanya dengan menggunakan drone pencegat yang dipadukan dengan sistem pertahanan udara lainnya. Terkadang ada ratusan drone per malam yang menargetkan kota-kota kami," tambahnya.
Iran meluncurkan ratusan drone Shahed dengan jumlah sama atau lebih banyak dari rudal balistik untuk menguras pertahanan udara Israel, AS, dan mitranya di Timur Tengah. Meski mayoritas dicegat, butuh sumber daya besar seperti penggunaan sistem pertahanan yang seharusnya lebih difokuskan untuk mencegat rudal Iran.
Pertahanan berlapis Ukraina dalam menghadapi Shahed dan variannya melibatkan berbagai teknologi militer. Helikopter dan pesawat kargo modifikasi serta dilengkapi minigun dikerahkan untuk memburu drone. Tim pertahanan mengoperasikan senapan mesin berat di titik-titik vital dan rudal yang ditembakkan dari bahu juga digunakan.
Di tingkat lebih tinggi, Ukraina memakai pesawat tempur. Sebuah F-16 Ukraina terlihat menjatuhkan Shahed dalam video dramatis baru-baru ini. Rudal Patriot pasokan AS juga dipakai. Akan tetapi, persediaan baterai Patriot dan rudal PAC-3 Ukraina sangat terbatas.
"Kami sedang membangun hubungan dengan negara-negara di Timur Tengah. Mereka punya sistem pertahanan udara Patriot dan rudal PAC-3. Mereka memiliki semua ini. Ini sangat penting. Namun, apakah bisa melindungi dari ratusan Shahed? Kita tahu bahwa itu bukanlah model yang efektif," cetus Zelensky
(fyk/afr)