Zuckerberg dan Tangan Kanannya Bentrok Gegara Donald Trump

Zuckerberg dan Tangan Kanannya Bentrok Gegara Donald Trump

Virgina Maulita Putri - detikInet
Jumat, 09 Jul 2021 19:10 WIB
Para bos Facebook, WhatsApp dan Instagram sering bercengkrama di balik layar. Seperti apa tingkah mereka?
Dua Orang Terkuat di Facebook Dikabarkan Bentrok Gegara Donald Trump Foto: Istimewa/Facebook
Jakarta -

Dua orang terkuat di Facebook yakni CEO Mark Zuckerberg dan COO Sheryl Sandberg dikabarkan bentrok karena berbeda pandangan soal cara menangani konten politik, terutama saat pemerintahan Donald Trump.

Hal ini terungkap dari kutipan buku 'An Ugly Truth: Inside Facebook's Battle for Domination' yang ditulis oleh Cecilia Kang dan Sheera Frankel. Buku ini mengumpulkan kesaksian dari mantan dan karyawan Facebook saat ini di semua tingkat bisnis.

Dalam kutipan buku yang diterbitkan di New York Times, kedua penulis mengklaim bahwa hubungan antara Zuckerberg dan Sandberg mulai berubah. Padahal saat di depan publik mereka tetap terlihat dekat dan profesional, bahkan masih sering bertemu dua kali seminggu.

Zuckerberg disebut sudah selaras dengan pandangan Sandberg dibandingkan dengan saat ia pertama kali mempekerjakan Sandberg 13 tahun yang lalu. Zuckerberg juga sering mengkritik cara Sandberg menangani komunikasi terkait campur tangan asing di Pemilu Amerika Serikat dan Cambridge Analytica.

Juru bicara Facebook Dani Lever langsung membantah klaim yang ditulis dalam buku tersebut. Lever mengatakan penulis buku itu membuat narasi palsu berdasarkan wawancara selektif, fakta yang dipilih-pilih, dan komentar dari karyawan yang tidak puas.

"Keretakan yang digambarkan oleh penulis antara Mark dan Sheryl dan orang-orang yang bekerja dengan mereka itu tidak ada," kata Lever, seperti dikutip dari Cnet, Jumat (9/7/2021).

"Semua bawahan langsung Mark bekerja erat dengan Sheryl, begitu juga bawahan Sheryl dengan Mark. Peran Sheryl di perusahaan tidak berubah. Kutipan ini adalah serangan tipikal terhadap pemimpin wanita -- menyangkal kekuasaan mereka, mengabaikan kompetensi mereka, dan meminggirkan peran dan hubungan mereka," sambungnya.

Buku ini menceritakan bagaimana awalnya Sandberg bekerja sebagai tangan kanan Zuckerberg untuk mengurus urusan politik karena ia dulunya memiliki pengalaman di Washington.

Tapi ketika Donald Trump menjadi presiden AS pada tahun 2016, Zuckerberg mulai tidak setuju dengan pandangan Sandberg yang tidak menyukai Trump. Zuckerberg pun jadi semakin sering membuat keputusan politik sendiri.

Juru bicara Facebook membantah klaim yang menyebut bahwa keterlibatan Sandberg dalam urusan kebijakan perusahaan semakin berkurang. "Mark dan Sheryl telah menghabiskan lebih banyak waktu dalam urusan kebijakan -- termasuk mempekerjakan anggota yang lebih senior, termasuk Nick Clegg yang melapor ke Sheryl," kata Lever.

Salah satu kejadian yang membuat hubungan keduanya renggang adalah saat video Ketua DPR AS Nancy Pelosi yang dimanipulasi viral di Facebook. Zuckerberg memutuskan membiarkan video tersebut di Facebook, tapi Sandberg berargumen video tersebut harus dihapus karena melanggar aturan soal disinformasi.

Penulis buku itu mengklaim hal ini memperburuk hubungan antara Zuckerberg dan Sandberg, apalagi Sandberg sedang berusaha membangun hubungan baik dengan Pelosi.

Kutipan buku ini diterbitkan tidak lama setelah Trump menggugat Facebook dan Zuckerberg karena tidak terima akunnya telah dimatikan. Trump juga menggugat Twitter dan CEO Jack Dorsey, serta Google dan CEO Sundar Pichai.

Trump mengklaim dengan dihapusnya akun media sosialnya dari platform tersebut, ketiga perusahaan itu sudah melanggar hak Amandemen Pertama. Ia juga menyebut banyak tokoh konservatif yang disensor oleh ketiga perusahaan tersebut.



Simak Video "Mark Zuckerberg Habiskan Rp 336 Miliar untuk Keamanan"
[Gambas:Video 20detik]
(vmp/fyk)