Serangan Amerika Serikat di ibu kota Venezuela yang berujung pada penangkapan Presiden Nicolas Maduro dan istrinya, dinilai menunjukkan bahwa AS masih memegang keunggulan teknologi dibandingkan China, khususnya dalam militer.
Serangan di Caracas ini dapat mencoreng reputasi Beijing, karena radar anti siluman JY-27A yang dijual ke Venezuela, yang digadang mampu mendeteksi pesawat siluman generasi kelima seperti F-22 dan F-35 milik AS dari jarak lebih dari 240 kilometer, kabarnya gagal memberikan peringatan dini pada saat-saat kritis.
Sejak September, Venezuela memasang sekitar tujuh unit sistem radar JY-27A buatan China, yang digadang-gadang mampu mendeteksi jet siluman AS. Memang, hanya beberapa minggu lalu, Menhan Venezuela membanggakan bahwa instalasi China ini ketika diuji, dapat akurat mengunci target jet tempur F-35 AS pada jarak 75 km dari pantai Venezuela.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pasukan AS mengebom infrastruktur di beberapa titik di sekitar Venezuela utara, yang menurut pejabat Venezuela menewaskan lebih dari 80 orang, termasuk warga sipil. Maduro dan istrinya, Cilia Flores, diterbangkan ke New York untuk menghadapi dakwaan terkait "narkoterorisme." Kritikus menyebut operasi itu melanggar hukum internasional dan tanpa pemberitahuan atau persetujuan kongres AS.
Ahli menilai serangan dini hari itu tidak hanya menyoroti kekuatan kemampuan intelijen AS di Caracas tapi juga keterbatasan atau setidaknya efektivitas operasional, radar China di Venezuela, yang pernah dianggap sebagai salah satu jaringan pertahanan udara paling mumpuni di Amerika Selatan. China sedang berusaha meningkatkan profilnya sebagai sumber utama senjata internasional.
Wakil Menhan Taiwan, Hsu Szu-chien, mengatakan serangan AS menunjukkan senjata dan peralatan Amerika tetap tak tertandingi. Ia menambahkan faktor terpenting adalah kurangnya pemeliharaan dan dukungan yang memadai untuk peralatan Venezuela. "Ini sangat penting bagi kami. Peralatan harus terus dirawat dan diperbarui. Jika musuh membuat kemajuan, kami juga harus membuat kemajuan," cetusnya yang dikutip detikINET dari Newsweek.
The Miami Strategic Intelligence Institute menilai pertahanan udara Venezuela dalam kondisi kritis dalam laporan bulan Juni, dua bulan sebelum AS meningkatkan kehadiran angkatan lautnya di Karibia dengan tujuan memerangi operasi narkoba. "Lebih dari 60 persen armada radar negara itu tidak beroperasi," sebut laporan itu, yang menunjuk pada kekurangan suku cadang dan dukungan teknis minimum dari China.
Di sisi lain, fakta bahwa AS menyelesaikan tugasnya tanpa kehilangan satu pun tentara atau platform militer adalah bukti tidak hanya intelijen yang baik, tapi juga pelatihan dan persiapan matang.
Delta Force, unit elit yang ditugaskan untuk operasi, harus menarik skuadron dari Timur Tengah dan Afrika Utara untuk berlatih demi misi Venezuela. Dan mereka harus berasumsi operasi itu akan melibatkan pertempuran melawan unit Kuba terlatih yang ditugaskan untuk melindungi pemimpin Venezuela tersebut. Banyak hal yang bisa saja berjalan salah. Namun tidak ada yang terjadi, berkat perencanaan yang akurat dan dua alasan lain.
Dikutip dari Strait Times, alasan pertama adalah kemampuan AS melumpuhkan, terutama melalui perang siber, seluruh jaringan listrik dan komunikasi Venezuela. Diketahui bahwa melalui kerja sama dengan negara lain, AS mengembangkan senjata siber semacam itu selama beberapa dekade.
Kemudian, kemampuan luar biasa AS menekan pertahanan udara Venezuela. Selain radar dari China, Venezuela memiliki rudal permukaan ke-udara jarak jauh S-300 buatan Rusia yang canggih, rudal jarak menengah Buk, dan rudal jarak pendek Igla yang diluncurkan dari bahu, yang bisa mematikan bagi helikopter pembawa pasukan khusus AS.
Namun, baik sistem pertahanan udara Rusia maupun China tampaknya tidak memberikan perbedaan. Kombinasi intelijen AS, perang elektronik, dan senjata presisi melumpuhkan semuanya. Satu-satunya pesawat AS yang tertembak tampaknya hanya mengalami kerusakan akibat tembakan peluru acak.
(fyk/fyk)