Saat teknologi semakin canggih dan kecerdasan buatan hadir di hampir semua perangkat, Samsung justru mengajukan pertanyaan yang lebih mendasar di CES 2026, apakah teknologi masih terasa 'manusia'?
Lewat sesi diskusi bertajuk The Human Side of Tech: Designing a Future Worth Living, Samsung mengajak para desainer dan pelaku industri membahas peran desain dalam membentuk teknologi yang bukan hanya pintar, tetapi juga bermakna bagi kehidupan manusia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Diskusi ini dipandu oleh Debbie Millman, desainer sekaligus pembawa acara Design Matters. Ia membuka percakapan dengan menyoroti wajah teknologi modern yang semakin seragam.
"Jika dibandingkan dengan industri lain, keseragaman di dunia teknologi terasa tidak biasa. Jadi bagaimana jika kita mulai memikirkan teknologi di luar spesifikasi dan fungsionalitas semata?," ujarnya.
Desain Bukan Sekadar Bentuk
Dalam diskusi ini, Samsung menghadirkan sejumlah nama besar di dunia desain, termasuk Chief Design Officer Samsung Mauro Porcini, serta desainer internasional Karim Rashid dan Fabio Novembre. Mereka sepakat bahwa desain teknologi seharusnya tidak berhenti pada bentuk, material, atau efisiensi.
Bagi para panelis, desain yang baik adalah desain yang mampu membangun koneksi emosional dengan penggunanya, sesuatu yang membuat teknologi terasa lebih dekat, personal, dan relevan dengan kehidupan sehari-hari.
Fabio Novembre bahkan menyebut bahwa tujuan akhir dari desain bukan sekadar estetika. "Tujuan desain pada akhirnya adalah kebahagiaan," ujarnya, menekankan bahwa teknologi seharusnya memberi makna, bukan sekadar fungsi.
AI Tidak Harus 'Dingin'
Peran kecerdasan buatan juga menjadi topik penting. Alih-alih melihat AI sebagai mesin yang 'dingin, kaku, dan mekanis, Samsung dan para panelis menekankan bahwa AI justru bisa menjadi alat untuk memperluas empati, kreativitas, dan imajinasi manusia.
Samsung menyebut pendekatan AI Γ (Emotional Intelligence + Human Imagination) sebagai visi desain ke depan, dengan AI bekerja berdampingan dengan kecerdasan emosional dan kreativitas manusia, bukan menggantikannya.
Pendekatan ini menegaskan bahwa desain di era AI tidak hanya soal apa yang bisa dilakukan teknologi, tetapi juga bagaimana teknologi itu dirasakan. Bagi Samsung, diskusi ini menjadi penegasan bahwa desain adalah bagian penting dari masa depan teknologi. Bukan hanya untuk menciptakan produk yang canggih, tetapi juga untuk memastikan teknologi hadir dengan empati dan rasa.
Di tengah hiruk pikuk CES 2026 yang dipenuhi inovasi dan konsep masa depan, sesi ini mencatat bahwa teknologi terbaik bukan selalu yang paling kompleks, melainkan yang paling memahami manusia yang menggunakannya.
(rns/agt)